11 Juli 2017

Suatu Hari di Istana Pagaruyung



Assalamu'alaikum...

Sahabat Ummi...

Seperti yang udah saya katakan di postingan sebelumnya, setelah jalan-jalan ke pantai Padang, pantai Carocok, bahwa tujuan jalan-jalan kami selanjutnya adalah istana Pagaruyung di Batusangkar. Kurang lebih 2 jam kami sampai ke lokasi, perjalanan dari Bukit Tinggi. Lokasi Istana Pagaruyung ini berada di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Ini pertama kalinya saya ke Istana Pagaruyung yang disebut juga dengan istano basa, yang artinya istana besar.



Ada kisah menarik dari istana ini, yaitu pernah mengalami beberapa kali kebakaran, terakhir pada tahun 2007, akibat disambar petir. Sekitar 35% benda-benda bersejarah dan dokumen dan koleksi istana Pagaruyung lainnya nggak dapat diselamatkan. Pembangunan kembali istana ini juga memakan waktu sekitar 5 tahun, dengan menelan biaya 19,7 M.




Jadi, selain istana ada beberapa bangunan lain di lokasi ini, yaitu diantaranya adalah Tabuah Larangan yang berjumlah dua buah. Tabuah pertama bernama Gaga Di Bumi yang dibunyikan kalau terdapat peristiwa yang besar seperti bencana alam, kebakaran, tanah longsor, dll. Tabuah kedua bernama Mambang Diawan yang dibunyikan khusus untuk memanggil Basa Nan Ampek Balai (Dewan Empat Menteri) yaitu Tuan Titah di Sungai Tarab, Tuan Kadi di Padang Ganting, Tuan Indomo di Saruaso, Tuan Mankudun di Sumanik, Tuan gadang di Batipuh serta Tigo Selo (Raja Alam, Raja Adat, Raja Ibadat) untuk mengadakan rapat.




Sahabat Ummi...

Untuk dapat masuk ke area istana Pagaruyung ini, kita harus membeli tiket dulu. Orang dewasa dikenakan biaya sebesar 7.000 rupiah, sedangkan anak-anak sebesar 5.000 rupiah. Memasuki halaman depan, ada banyak badut yang siap untuk diajak foto-foto, termasuk para tukang foto kelilingnya. Nggak cuma itu, di sana tersedia banyak permainan anak-anak, seperti becak kecil, kereta keliling, naik kuda, menangkap ikan, dll. Jadi, jangan khawatir anak bakal bosen pas di sana. Buktinya, saat saya tengah asyik menjelajah istana ini, anak-anak juga asyik main di luar plus jajan, karena banyak banget orang yang berjualan di sekitar sana hahaha... :D




Untuk masuk ke istana, kita diminta untuk melepaskan alas kaki. Daaaan... yang menjadi perhatian saya pertama kalinya tentu detil arsitekturnya yang cakeeeeep banget. Ukiran khasnya begitu indah. Barang-barang peninggalannya, ada senjata, perkakas pertanian, perkakas rumah tangga baik yang terbuat dari kuningan maupun keramik, dan ada juga pakaian adat. Jumlahnya nggak banyak sih yah, karena 65% habis terbakar.




Istana Pagaruyung ini terdiri dari 3 lantai. Lantai 1 disebut dengan anjuang rajo babandiang. Sedangkan lantai 2 disebut anjuang paranginan, dan lantai 3 disebut mahligai. Walaupun deg-deg an pas menaiki tangganya yang berderik saat diinjak, saya tetap memberanikan diri untuk menjelajahi istana ini hingga ke lantai 3. Nggak sia-sia, selain bisa tahu semua isi istana, saya juga bisa menikmati pemandangan sekitar istana diketinggian, tampak lebih indah tentunya.

 Dari jendela depan lantai 3

Dari jendela belakang lantai 3



Lantai 1






Lantai 2





Lantai 3





Selanjutnya, saya menuju ke bangunan belakang istana yang terhubung langsung dengan istana, melewati labirin yang biasa disebut selasar. Ternyata bangunan itu adalah dapur istana.





Puas melihat-lihat dan foto-foto, anak-anak juga udah main, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang menuju Pekanbaru. Sebenarnya, pengen nyobain pakai pakaian adat Minang yang bisa disewa di sini, untuk foto-foto. Tapi, karena rame banget, kapan-kapan aja deh :D

2 komentar:

  1. maaf mbak kalau boleh tahu istana pagaruyung ini terletak di provinsi mana yah. Dari nampak bangunannya terlihat artistik sekali, apalagi bagian dalamnya. saya jadi ikut penasaran bagaimana isi keseluruhan istana ini. Ada satu lagi yang buat saya penasaran Tabuah Gaga Bumi, itu bentuknya seperti apa yah mbak? apa mirip dengan sebuah lonceng raksasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Provinsi Sumatera Barat Mas.

      Bentuk luar seperti rumah adat, tapi saya nggak masuk ke dalamnya Mas

      Hapus