Hari Perempuan Internasional 2016, Be Humble




Bismillah...

Perempuan.
setuju kalau perempuan itu unik?. Setuju nggak setuju, perempuan itu memang unik. Makhluk yang sulit ditebak. Memiliki sisi romantis, lembut, penyayang, tapi juga bisa menyebalkan, rewel, kelewat cerewet, dll. (silahkan ditambahkan sendiri ^__^)

Tapi perempuan tetaplah perempuan, apa jadinya dunia tanpa perempuan *apa sih :D

Dalam bukunya "Men are from Mars, Women are from Venus", Jhon Gray, P.Hd mengatakan bahwa wanita memang memiliki 'siklus sifat' seperti gelombang. Bisa jadi suatu kali ia menjadi pribadi yang sangat menyenangkan, bisa jadi suatu ketika ia akan mengungkit-ungkit kembali hal-hal yang telah lewat yang sebenarnya sudah dianggap selesai. Ibaratnya nih yah, perempuan itu ahli sejarah, ingatannya tajem banget hihihi...

Gimana nggak, dalam penelitian yang dilakukan oleh Louann Beizendine, M.D., seorang pelopor neuropsikiatri (saraf-jiwa) dan direktur Women's and Teen Girl's Mood and Hormone Clinic (klinik pertama di Amerika Serikat yang khusus meneliti dan memikirkan fungsi otak perempuan), mengungkapkan bahwa betapa struktur unik otak perempuan menentukan bagaimana cara berpikir perempuan, cara berkomunikasi, menentukan hal yang dianggap penting, sampai kepada siapa yang akan mereka cintai.

Kemampuan menakjubkan lainnya adalah luar biasanya dalam bahasa, verbal. Belum lagi nih bagaimana kemampuan mereka berempati dalam persahabatan, kemampuan membaca wajah dan suara sehingga mengenali emosi dan keadaan pikiran orang lain. Trus kemampuan untuk meredakan konflik. Dan buanyaaak lainnya. Itu baru struktur otak, belum lagi pengaruh hormonnya. Waaaah... kalau dibahas semua, bisa jadi 1 buku inih :D

Pokoke begitulah, segala sesuatu yang berhubungan dengan perempuan itu nggak akan ada habisnya buat dibahas, apalagi kalau udah bahas tentang peran seorang perempuan baik di ranah domestik maupun publik, serta berbagai pilihannya. Wuiiih... bakal rame banget, mengingat banyaknya kontroversi selama ini. Sebut saja tentang working mom dengan Stay at home mom, ASI dengan Sufor, popok kain dengan popok sekali pakai, makanan homemade dengan makanan instan, pakai ART dengan nggak pakai ART, yang kekinian lagi nih yah belanja pakai plastik dengan yang nggak pake plastik, serta vaksin dengan yang antivaksin, dll (silahkan tambahkan sendiri lagi :D)

Para perempuan tersebut sibuk saling menilai, pada merasa bahwa pilihannya lebih baik dibanding pilihan perempuan lain. Akhirnya saling menjatuhkan di depan publik, walaupun niatnya mungkin untuk saling mensupport sesama perempuan yang memiliki pilihan yang sama. Ah... sebenarnya simple aja. Saat kita telah memutuskan sesuatu, hadapilah konsekuensinya, berbahagialah dengan pilihan itu. Perempuan yang bahagia itu memancarkan cahaya, menerangi sekitarnya.

Paling penting nih yah berhentilah untuk merasa bahwa kita lebih baik dari orang lain. Hal tersebut hanya akan menghentikan proses belajar kita. Banyaklah memberi uzur untuk orang lain, kita nggak tahu bagaimana kehidupan mereka sebenarnya. Trus, sampaikan sesuatu itu dengan lemah lembut, karena sesungguhnya sebagai perempuan kita identik dengan kelembutan.

Saya jadi ingat, perkataan sepupu saya yang suaminya "diambil" orang, bahwa: YANG NYAKITIN PEREMPUAN ITU PEREMPUAN JUGA

Hmmmm... bisa jadi atau mungkin memang 100% benar. Dari segi perbuatan, bahkan lisan. Kita banyak melakukan kesalahan dalam menggunakan keunikkan yang kita miliki. Tidak mengoptimalkannya untuk kebaikan. Pengalaman saya, pernah dikatain manja banget sama salah seorang perempuan yang sama seperti saya saat itu sebagai pembicara di sebuah seminar. Hanya karena saat menyampaikan materi, saya mohon izin sambil duduk. Saya sedang hamil adek Khai di trimester pertama, karena muntah hebat saat diperjalanan, jadi lemes banget. Ia membandingkan dengan dirinya yang sekalipun dalam kondisi hamil juga, bisa menyampaikan materi dengan berdiri.

Lain waktu, saya tengah diperjalanan. Dibonceng suami dengan menggunakan sepeda motor. Saat lampu merah, mobil yang berhenti di sebelah kami mengeluarkan tangan dan menjatuhkan abu rokok. Mengenai tangan saya, trus saya bawa anak lagi. Siapa perokok itu, seorang perempuan. Itu pengalaman yang bisa saya bagi.

Banyak perempuan kehilangan empati, kehilangan malu, kehilangan jati diri sesungguhnya sebagai seorang perempuan yang di dalam agama islam dikatakan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.  Sibuk ngejudge, menebar kebencian, dan segambreng hal negatif lainnya. Astaghfirullah... kita emang kudu banyak-banyak istighfar nih :)
Moga aja kita bisa dijauhkan dari sifat-sifat negatif tersebut yah temans, aamiin...

Mari kita sibukkan diri dengan belajar, mengusahakan hasil belajar, dan sekali-kali piknik. Agar pikiran kita semakin terbuka. Agar lebih bijak dalam menghadapi perbedaan, dan paling penting Be Humble.

Posting Komentar