29 Februari 2016


Bismillah...

Hari ini tanggal 29 Februari 2016. Ada yang beda dari hari ini. Iyak, betuuul... tanggal 29 yang hanya ada sekali dalam 4 tahun. Jadi, buat yang lahir tanggal ini, unik yak. Tak kalah uniknya, hari terakhir di bulan februari secara internasional diperingati sebagai hari penyakit langka. Peringatan ini ada sejak tahun 2008. Nah, tahun ini adalah pertama kalinya peringatan tersebut diperingati di Indonesia.

Indonesia Rare Disorders adalah penggagasnya. Sebuah kelompok yang memberikan dukungan kepada keluarga yang memiliki anak-anak dengan penyakit langka. Ada sekitar 20an keluarga dan juga dihadiri perwakilan dari kementrian kesehatan di area car free day Jakarta, tepatnya didepan menara BCA jalan Jendral Sudirman.

Menurut data, ada 6000-8000 jenis penyakit langka saat ini. 80% diantaranya disebabkan oleh faktor genetik. Penyebab lainnya berhubungan dengan riwayat infeksi, pengaruh lingkungan, dan proses degeneratif. Truss ternyata anak-anak menyumbang 50-70% penyakit langka. Perkiraannya ada 35% kematian di tahun pertama kehidupannya berhubungan dengan penyakit langka. 30% tidak mampu bertahan hidup hingga usia 5 tahun.

Mirisnya nih, minim data dan penelitian terhadap penyakit langka. Banyak yang terlambat terdeteksi, bahkan setelah melakukan konsultasi dengan rata-rata 10 dokter spesialis. Ada juga yang mengalami salah diagnosis hingga 3 kali. Setelah terdiagnosis penyakit langka pun, obat maupun terapi lainnya belum tentu tersedia. Sedihnya lagi, nggak sedikit juga yang keburu meninggal dunia sebelum terdiagnosis penyakitnya.

Siapa saja yang hadir di peringatan hari penyakit langka tersebut?, ada Oyik (16) yang mengidap Cornelia de Lange Syndrome (CdLS), hanya ada 1 diantara 10.000-30.000 orang. Cirinya, memiliki alis yang tebal dan menyatu, ketidaksempurnaan pada jari-jemarinya. Selanjutnya ada Budi (42) dan Lisa (32) mewakili pengidap Treacher Collins Syndrome (TCS). Hanya ditemukan pada 1 di antara 50.000 orang ini bercirikan dengan wajah dan mata yang 'turun' karena tidak adanya struktur tulang pipi. Biasanya disertai juga dengan berbagai gangguan lain, terutama gangguan pendengaran.

Ada ibu hebat yang saya kenal lewat dunia maya, yaitu Wynanda BS Wibowo yang memiliki seorang putri istimewa, sekaligus penggagas Indonesia Rare Disorders. Berikut saya kutip postingannya di FB:

Rare disease/disorders, sebenarnya ada buanyak jenis penyakit langka yang telah teridentifikasi, ada sekitar 6000-8000 penyakit, belum ditambah yang belum teridentifikasi, banyak kaaan?

Tapiiiii pasiennya yang sedikit, untuk masing-masing penyakit.
Di Eropa angka kejadian 1:2000, di Jepang 1:2500, di Amerika 1:1500, atau lebih jarang daripada itu, dikatakan rare disease.

Naaah coba kita perkirakan jumlah pasien rare disease di Indonesia, jika terjadi 1:2500 (pakai rasio paling tinggi), dikalikan 250juta populasi di Indonesia, maka kira-kira akan ada sekitar 100.000 jiwa untuk 1 jenis penyakit, bisa dibayangkan jika ada 10 saja jenis penyakit langka, maka kemungkinan ada 1.000.000 jiwa yang menjadi penyandang rare disease, padahal ada 6000-8000 jenis rare disease, kalau dihitung jadi buanyaaaaak kaaaan? (Moga-moga gak salah hitung hahahhaaha)

80% rare disease merupakan kelainan genetik, dan menyumbang sekitar 35% kematian anak usia di bawah 1 tahun (semoga gak salah nih hihihi). Masalah pada rare disease ini bukan hanya terdapat pada kesulitan diagnosa saja, namun juga kesulitan mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat. Sudahlah sulit mendapatkan diagnosa, giliran dapat diagnosa, dan misal perlu obat eeeeh obatnya suliiit didapat.

Orphan drugs, obat khusus untuk rare disease tertentu, masih sulit didapat di Indonesia. Jarang ada perusahaan farmasi yang mau memproduksi orphan drugs, bahkan mungkin juga jarang ada yang mau mendistribusikan orphan drugs, mungkin karena masalah cost-benefit, ditambah dengan bea cukai yang masih dikenakan pun nilainya sangat wow (namun informasinya sih bisa bebas cukai dengan syarat tertentu), sehingga orphan drugs sangat sulit diakses, meskipun pada kondisi tertentu, orphan drugs adalah satu-satunya cara menyelamatkan jiwa pasien.

Apa sih yang dibutuhkan?
Imho ada beberapa hal yang dibutuhkan oleh penyandang rare disease, yaitu: Sarana dan pra sarana diagnostik. Alat dan SDM yang mumpuni agar bisa lebih cepat dan tepat mendiagnosa rare disease, sehingga manajemen penyakit jangka panjang pun jadi lebih jelas, outputnya tentu peningkatan kualitas hidup penyandang rare disease, termasuk meningkatkan kemungkinan penyandang rare disease bisa lebih berdaya smile emotikon
Sarana dan pra sarana ini tentunya harus bisa dijangkau oleh pihak yang membutuhkan, terjangkau dari segi biaya maupun akses.
  • Sarana dan pra sarana treatment untuk kondisi rare disease yang juga terjangkau, baik itu dalam bentuk terapi, obat atau formula khusus.
  • Penelitian yang berkelanjutan guna perbaikan metode diagnostik maupun treatment.
  • Awareness dan acceptance di semua lapisan masyarakat terhadap penyandang rare disease
  • Supporting group.
  • Pasien ataupun caregiver yang aktif 'bersuara'.
Penyandang rare disease memang terbilang jarang, makanya disebut langka, namun mereka punya hak yang sama untuk hidup, untuk mendapat akses penanganan medis yang sama, untuk meningkatkan kualitas hidupnya smile emotikon
Bantu kami menyuarakan 'suara' dari penyandang rare diseases/disorders, bantu kami meningkatkan kualitas penanganan medis bagi mereka, dan pada akhirnya bantu kami meningkatkan kualitas hidup para penyandang rare diseases/disorders, agar mereka bisa lebih berdaya dalam hidup bermasyarakat smile emotikon

Happy Rare Disease Day 2016
29 Februari 2016
Join us in making the voice of rare diseases heard smile emotikon
Salam RARE
LANGKA, NYATA, BERDAYA

Nanda, ibu dari Kirana, penyandang Pierre Robin Sequence, non isolated, yang hingga saat ini masih mencari tahu diagnosa 'besar' yang terdapat pada Kirana, sambil membuka satu per satu 'kejutan' yang ada.
Penggagas Indonesia Rare Disorders, Sahabat Pierre Robin Sequence (PRS), Tambah ASI Tambah Cinta, Dunia Karya Special Needs-

 Pengetahuan baru buat kita. Ayoooo ikut dukung mereka ^___^
Bismillah...

Saya belum pernah ke Bandung. Kasihan yah hehehe...
Tapi, saya nggak kudet amat tentang Bandung. Saya tahu bahwa tempat wisata di Bandung itu buanyak dan cakeeep (tempat wisata, nggak bahas masyarakatnya :D). Saya tahu makanan-makanan khas Bandung dan Alhamdulillah lumayan banyak juga yang bisa ditemukan di Pekanbaru. Nah, yang mau saya bahas di tulisan ini adalah bahwa yang bikin saya penasaran dengan Bandung, yaitu museum Konperensi Asia-Afrika nya.

Lho, Why?
Karena kalau penasaran dengan yang lainnya itu udah mainstream hihihi...
Nggak, bukan itu. Jadi gini, tahun 2012 lalu saya mengikuti sebuah lomba menulis tentang penyandang disabilitas. Alhamdulillah tulisan saya menjadi juara ke 2. Penyelenggara lomba tersebut dari sahabat museum konperensi Asia-Afrika. Hadiahnya, selain uang tunai juga ada goodiebag yang berisi buku-buku, sertifikat, dan topi.

Salah satu bukunya berjudul The Bandung Connection. Buku ini membahas secara detail tentang konperensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Wuiiih... lengkap banget plus foto-foto jadulnya. Jadi nostalgian pas belajar ini saat masih duduk di bangku sekolah. Dulu bahkan hapal seluruh nama negara dan pesertanya. Sekarang... hmmmm... memorinya udah digantikan dengan aneka resep makanan, tentang panci, tips mengasuh anak, dll hihihi... :p

Begitulah, tapi spiritnya tetap dong ah, seperti sebuah kutipan dari buku The Bandung Connection

"Jadikanlah anak-anakmu berjiwa semerah matahari terbit. Ia harus berani hidup. Berani menghadapi tantangan, karena hidup ini perjuangan. ada pasang, ada surut. Jangan takut pada kesulitan."



Tuh kan, daleeeeem banget kalimat di atas tadi. Gimana nggak, tantangan yang dihadapi para pendahulu kita itu beda dengan saat ini. Tapi kita harus punya semangat perjuangan yang sama. Bener apa betul?

Duh... kebayang deh gimana rasanya kalau menginjakkan kaki langsung di museum KAA. Ada takjub dan haru-haru gimana gitu yah. Takjub dengan arsitekturnya yang keren, haru dengan sejarah KAA yang digambarkan lewat diorama saat konperensi berlangsung, gambar-gambar 3 dimensi, dan film dokumenter.

Keinginan saya semakin menggebu, saat melihat lewat dunia maya. Masih seger dong yah ingatan kita saat Indonesia menjadi tuan rumah peringatan 60 tahun konperensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung di Bandung pada tahun 2015 lalu. Tema yang diusung adalah "Mempromosikan Kerja Sama Selatan-Selatan bagi Perdamaian dan Kesejahteraan Dunia (Promoting South-South Cooperation for World Peace and Prosperity).

 Sumber: Liputan6.com

Duh, berseliweranlah gambar-gambar keren saat acara tersebut berlangsung. Bandung berdandan!. Goodjob buat Walikota dan warga Bandung yang turut berpartisipasi dalam mendandani Bandung untuk penyelenggaraan peringatan KAA ke 60. Terlepas dari berbagai kejadian yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, yang melakukan tindakan pengrusakan (sadar maupun nggak dasar) terhadap hasil "dandanan" kota Bandung.


 Sumber: alyaperwitasr.wordpress.com

"Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung"  


28 Februari 2016



Bismillah...

Kalau ada pertanyaan tentang berapa banyak koleksi buku fiksi yang saya punya, jawabannya tidak banyak. Perbandingannya dengan buku non fiksi 1:10, jadi kalau ada 10 buku non fiksi, buku fiksinya hanya ada 1.

Lho kok bisa, nggak suka baca fiksi yah? Nggak juga, suka kok. Saya punya novel, kumpulan cerpen, buku puisi, bahkan komik. Memang jumlahnya tidak banyak, karena ada pertimbangan tertentu dalam pembeliannya. Salah satunya adalah siapa penulisnya.

Saat masa SMA dulu, buku fiksi yang saya miliki semuanya hasil karya anggota Forum Lingkar Pena. Sebut saja Helvy tiana rosa, Asma Nadia, Izzatul jannah, Afifah Afra, Ifa avianty, Almh Nurul f huda, dll. Selanjutnyaa seiring waktu, saya juga membeli karya penulis lain dan akhirnya kecewa dengan muatan ceritanya. Maklum, dulu belum mengenal adanya resensi buku yang bisa jadi bahan pertimbangan untuk membeli.

Tapi sekarang, tak hanya bisa mencari info berupa resensi buku yang hendak dibeli, saya bahkan mengenal penulisnya dan bisa berinteraksi langsung lewat dunia maya. Sebut saja Leyla Hana dan Riawani Elyta. Penulis yang saya kenal lewat sosial media, facebook.

Pertama kali membaca buku fiksi karya mereka, tepatnya novel, saya langsung jatuh cinta. Tak hanya dengan alur ceritanya tapi juga pesan moral yang dibawanya. Tak diragukan lagi, mereka berdua adalah penulis novel yang kece. Nggak percaya? Mbak Leyla Hana atau biasa disapa dengan Ela ini sudah aktif di dunia kepenulisan lebih dari 17 tahun. Karyanya berupa fiksi dan non fiksi, sudah tak bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Belum lagi, mama dari 3 orang putra ini juga aktif di dunia blogging.

Tak kalah dengan Mbak Ela. Riawani Elyta atau yang biasa saya sapa dengan Mbak Lyta juga seorang penulis yang berprestasi. Beragam lomba menulis bergengsi telah berhasil dimenangkannya. Telah banyak menghasilkan karya baik berupa fiksi maupun non fiksi. Ibu dari 2 orang putra dan seorang putri ini juga seorang blogger.


Tuh kan, kece banget. Jadi, nggak heran deh kalau akhirnya mereka berdua membuka sebuah kelas menulis fiksi secara online yang dinamai Smart Writer. Mereka berdua melakukan bimbingan dalam menulis novel. Aiiiiiih... Pengen banget deh ikut kelas ini.

Selama nyemplung di dunia kepenulisan, saya belum berhasil dalam menulis fiksi, baik berupa cerpen apalagi novel. Padahal, pengen banget bisa menulis novel yang sarat dengan pesan moral yang baik, novel pembangun jiwa. Kerennya, berdakwah lewat ceritalah yah, ecieeee... ^__^

Begitulah, saat ini ibaratnya nih yah, nulis fiksi itu masih sebatas mimpi!. Tapi, mimpi bisa aja jadi kenyataan yak. Apalagi kalau dibimbing langsung oleh kedua penulis kece ini, Mbak Ela dan Mbak Lyta. Aaaaah... Semoga aja!. 

http://smartnulis.blogspot.co.id/2016/02/1st-giveaway-smart-writer.html

27 Februari 2016



Bismillah...

Masalah kekinian yang kehebohannya tak juga surut adalah tentang LGBT. Betapa kita terhentak saat masalah ini mencuat. Betapa kita ngeri saat gaung propaganda LGBT merebak. Di media sosial, hiruk pikuk ini begitu memekakkan. Tak hanya tentang pernyataan sikap, tetapi juga tentang bagaimana banyaknya postingan tentang penolakan LGBT raib, bahkan akun si pembuat postingan pun diblokir. Kekinian lagi, hebohnya berita tentang artis yang tersandung masalah hukum yang berkaitan dengan tindakan pelecehan seksual kepada anak di bawah umur.

Saya, dan mungkin temans semua telah menonton salah satu episode ILC (Indonesia Lawyer Club) yang mengangkat tentang masalah LGBT ini. Sebagai orang tua, kita benar-benar merasa dihantui kekhawatiran tentang masalah ini. Nah, rabu tanggal 24 Februari lalu, saya menghadiri sebuah talkshow yang temanya tentang Cegah Anak Menjadi LGBT. Talkshow yang diadakan di Aula lantai A Rumah Sakit Awal bros Sudirman Pekanbaru ini di taja oleh Rumah Keluarga Indonesia. Narasumber yang dihadirkan adalah Kak Sinyo Egie (Founder Yayasan Peduli Sahabat, penulis buku "Anakku bertanya tentang LGBT"), Kak Kesuma (Konselor ODHA), dan Kak Miftahul Hayati, M.Psi, Psikolog (Psikolog klinis anak RS Awal Bros Pekanbaru).

Acara dimulai dengan kata sambutan dari penyelenggara, direktur RS. Awal Bros, dan Bapak Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi, S.Si. Setelah memberikan kata sambutan, Pak Ayat langsung membuka secara resmi acara talkshow tersebut, yang dihadiri oleh beberapa orang dari anggota dewan, guru, dinas pendidikan, mahasiswa, organisasi masyarakat dan umum. Sebelum dimulai, ada penandatanganan piagam pernyataan tentang MENOLAK AKSI PROPAGANDA YANG MEMPROMOSIKAN LGBT DENGAN PESAN UTAMA "MENCINTAI SESAMA JENIS" DAN PERILAKU "SEKS MENYIMPANG ITU WAJAR".


Kak Sinyo Egie sebagai pembicara pertama tampil. Materi yang disampaikan Kak Sinyo membuat hadirin melongo, kaget, sekaligus geli dengan cara penyampaian Kak Sinyo yang terkesan sangat humoris ini. Kak sinyo berbagi tentang bagaimana awal mula ia bisa concern di masalah ini (SSA dan LGBT), lalu berbagi pengalamannya selama menjadi pendamping. Alhamdulillah, banyak yang telah berhasil ia bimbing untuk kembali ke fitrahnya. Sejak tahun 2008, ia melakukannya sendiri, dan tahun 2015 lalu, barulah didirikannya Yayasan Peduli Sahabat. Agar semakin banyak yang bisa terbantu dan semakin banyak yang bisa bersinergi. Nah, buat yang belum kenal dengan Kak Sinyo Egie, silahkan mampir di blog Kak Sinyo Egie. Sedangkan bagi yang ingin tahu lebih banyak dengan Peduli Sahabat, silahkan mampir ke blog Peduli Sahabat atau bergabung di FB Peduli Sahabat.

Lalu, bagaimana cara Cegah Anak Menjadi LGBT?

Caranya, adanya pendidikan dan pola pengasuhan yang tepat. Wah, penjabarannya bakal panjang banget. Tapi intinya, orang tua harus bisa menjadi role model yang baik bagi anak. Dalam pengasuhan, orang tua mendidik dan mengarahkan anak sesuai dengan gendernya. Bangun komunikasi yang baik dengan anak, agar anak mau terbuka kepada orang tua, dan orang tua menjadi orang pertama tempat anak bertanya tentang sex. Bagaimana menjawabnya, berikan jawaban dengan terbuka, jujur, dan tidak vulgar (menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak berdasarkan tingkat usianya)

Untuk lebih detailnya ada di buku Anakku Bertanya Tentang LGBT (kalau sudah selesai baca, InsyaAllah akan saya tulis resensinya)

Poin yang tertanam dengan baik di pikiran saya tentang SSA dan LGBT adalah pernyataan kak Sinyo Egie: "SSA dan LGBT itu bisa disembuhkan. Saya yang hanya orang biasa, bisa melakukan pendampingan, apalagi para pakar atau ahli dibidang psikologi, insyaAllah bisa". Jadi, buat temans yang memiliki keluarga atau kenalan yang terindikasi SSA atau LGBT, bisa menghubungi Peduli Sahabat. Pendampingannya dilakukan secara GRATIS!.

Pembicara selanjutnya adalah Kak Kesuma. Berlatar belakang pendidikan psikologi, ia memilih untuk concern menjadi konselor bagi ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Ia bercerita bagaimana awalnya bisa memilih untuk terjun di dunia ODHA. Kak Kesuma yang juga bergabung di Peduli Sahabat ini, berbagi pengalamannya dalam mendapingi para ODHA, sekaligus mengedukasi peserta talkshow tentang HIV AIDS. Ia juga membahas bagaimana LGBT memiliki risiko besar terkena HIV AIDS.

Tak kalah mencengangkan, saat Kak Kesuma menyampaikan data bahwa Riau berada di urutan ke 11 di Indonesia terkait masalah HIV AIDS, dengan jumlah kasus HIV : 2.060 dan AIDS: 1.104. Wah, PR besar lagi buat pemerintah Riau.

Pembicara terakhir, Kak Miftahul menambahkan bagaimana pentingnya pendidikan, pengasuhan, dan lingkungan yang baik bagi anak. Bagaimana pembentukan kontrol impuls yang dimulai dari masa toilet training.

Dear Ayah Bunda, Mama papa, Ummi Abi, Papi mami, begitu banyak tantangan kita dalam mengasuh buah hati di akhir zaman ini. Teruslah berdoa, belajar, dan bersabar. Sungguh hanya Allah sebaik-baik penolong dan pelindung. Kita tak dapat mengawasi penuh anak-anak kita. Maka, hanya Allah sebaik-baiknya penjaga. Jadi, sebagai orang tua jangan hanya dihantui ketakutan saja, tapi bergeraklah untuk mencari solusi.

Kak Sinyo Egie foto bareng buku motivasi remaja I WILL SURVIVE saya yang baru terbit


26 Februari 2016


Bismillah...

Siapa yang nggak tahu apa makanan kesukaan Doraemon. Apalagi kalau buka kue dorayaki. Kue yang bentuk dan bahannya mirip dengan pancake ini juga bisa kita buat sendiri lho di rumah. Cara membuatnya gampang banget, kalau nggak punya cetakannya, bisa gunakan teflon.

Kalau udah kehabisan ide buat camilan Mbak Nai dan adek Khai, saya bikin aja kue dorayaki ini, dijadikan 2 lapis yang tengahnya dioles selai coklat, hmmmm.... yummmmy!. Berikut saya bagi resep kue dorayaki ala Ummi:




 Olesi cetakan dengan margarin, masukkan adonan, dan masak dengan menggunakan api kecil


 Kue dorayaki udah mateng. Lapis kue dorayaki, beri isi sesuai selera, bisa selai coklat, selai kacang, stroberi, atau keju


Bismillah...



Sabtu, 20 Februari lalu, saya menghadiri seminar gizi yang diadakan di Poltekkes Kemenkes Riau Pekanbaru. Seminar ini ditaja oleh PERGIZI PANGAN Indonesia dan Sarihusada, bekerjasama dengan DPD Persagi Riau. Tema dari seminar ini adalah "Membangun Kemitraan gizi dan Pangan Provinsi Riau untuk Mengatasi Masalah Gizi Ganda". Seminar ini sebagai rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional 2016.

Pembicara pada seminar ini adalah akademisi dan pemerintah, yaitu Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Dr. Ir. Netty Herawati, M.S, ketua Himpunan PAUD Indonesia, Ir. Mangapul Banjarnahor, M.Kes, ketua DPD Persagi Riau, dan Dr. Ir. Heryudarini Harahap, M.Kes, ketua DPD Pergizi pangan Riau. Apa saja yang dibahas oleh para pembicara kece ini? cekidot yak penjabarannya, sarat ilmu banget inih, terutama buat warga Riau.

Pembicara pertama Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, memaparkan tentang Pentingnya Pangan Hewani, Buah dan Sayur. Prof Hardi mengatakan bahwa saat ini di Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu adanya kekurangan dan kelebihan gizi. Apa sih penyebabnya? ternyata penyebab utamanya rendahnya kesadaran masyarakat akan gizi seimbang. Nah, apalagi itu gizi seimbang?, ternyata gizi seimbang itu adalah cukup pangan hewani, buah, dan sayur. Pedomannya Kemenkes, 2015. Panduannya, remaja dan dewasa: komsumsi 100-200gr pangan hewani, 300-400gr sayur, dan 100-150gr buah tiap hari. Guna terpenuhinya kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan serat. Tapi nih yah kenyataannya, komsumsi pangan hewani baru 3/4, konsumsi sayur dan buah baru sekitar 1/4 dari jumlah yang dianjurkan.

Ternyata nih yah di Riau, prevalensi penduduk berusia lebih dari 10 tahun berprilaku kurang konsumsi sayur dan buah mencapai 98,9% atau hampir seluruh penduduk. WOW... itu termasuk saya deh!. Jadi, apa kabar pemerintah?, kebijakan apa yang tepat untuk masalah ini.

O yah, ada info kekinian dari Prof. Hardi, yaitu:
  • Manfaat terkini ikan, bisa menurunkan risiko depresi loh.
  • Makan telur 1 butir sehari, tidak berhubungan dgn risiko jantung koroner dan strok
  • Konsumsi daging merah dan daging olah baik asal pure daging tanpa lemak dan tepat pengolahannya
  • Tentang susu, the best itu ASI. Minum susu untuk anak > 2th sangat baik. Bagi dewasa, menurunkan risiko jantung iskonik, strok, diabetes.
Pembicara kedua, Prof. Dr. Ir. Netty Herawati, M.S, Ketua himpunan PAUD Indonesia. Beliau memaparkan, tentang gizi dan tumbuh kembang anak. Beliau memaparkan tentang peran penting gizi dimulai dari masa kehamilan, menyusui, hingga usia 18 tahun (masa pertumbuhan). Masa itu adalah masa membangun sel otak. Butuh sinergi dengan PAUD, untuk mewujudkan anak sehat, status gizi optimal, dan prilaku hidup sehat.

Sebagai pondasi untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Tapi menurut Prof Netty, riset di Riau, melibatkan 100 guru per kab/kota hanya 7% guru PAUD yang kompeten dalam penyelenggaraan gizi. Regulasinya, anak lulus PAUD harus berstatus anak sehat. Sesuai dengan standar tumbuh kembang anak sesuai usia. Jadi, PR besar bg guru2 PAUD nih. Eits... ortu juga yah, terapkan 3J dlm pemberian makan, yaitu tepat jumlah, jenis, dan jadwal.

Pembicara ketiga, Ir. Mangapul Banjarnahor, M. Kes, ketua DPD Persagi Riau. Tema yang diusung adalah Masalah Gizi dan pangan di provinsi Riau. Beliau menyajikan data tentang status gizi anak balita, keluarga, dan bagaimana capaian kinerja perbaikan gizi Provinsi Riau tahun 2015.

Pembicara terakhir, Dr. Heryudarini Harahap, M.Kes, ketua DPD Pergizi pangan Riau. Beliau mengajak keterlibatan dari semua pihak dalam menanggulangi permasalah gizi.

Gimana, banyak ilmu kan yang didapat dari seminar ilmiah populer ini yang juga telah dilaksanakan di Surabaya dan Bogor. Pesertanya juga banyak banget, mulai dari mahasiswa, ahli gizi, ahli pangan, pengurus organisasi wanita, guru PAUD, dan dari masyarakat umum. Beruntung banget bisa hadir di seminar ini.




24 Februari 2016


Bismillah...

Seperti biasa, pengajian tafsir Al-Quran khusus untuk perempuan oleh Ust. Maududi Abdullah, Lc selalu penuh. Banyak juga wajah-wajah baru yang datang, membuat tempat yang telah disediakan oleh panitia semakin sesak. Jika datang setengah jam sebelum pengajian dimulai, kita masih bisa memilih tempat duduk yang menurut kita nyaman. Jika terlambat, maka tempat duduk lesehan (tak dapat karpet, hanya lantai) paling belakang saja yang didapat.

Walaupun begitu, tempat ini tetap kondusif kok. Dengan pendingin udara berupa ac maupun kipas salju, membuat fisik adem, hati juga adem dengan isi kajian. Barakallah... Buat panitia, Alhamdulillah pengajian ini selalu penuh bahkan berlimpah. Semoga menjadi jalan hidayah bagi orang lain dan amal jariyah bagi seluruh panitia.

Nah, hari itu saya datang agak terlambat. Kajian sudah mulai setengah jam yang lalu. Tapi Alhamdulillah saya masih mendapatkan tempat duduk di tengah, bisa menatap layar proyektor (ust berada di rungan lain). Di sekitar saya, ibu-ibu yang juga membawa anak kecil. Jadi, bagi kami yang membawa anak kecil, tempat duduk yang disediakan adalah lesehan.

Di sebelah saya, ada ibu muda yang kelihatannya sebaya dengan saya. Ia membawa anak yang usianya juga sama dengan adek khai. Kami sempat bersalaman. Lalu ngobrol sebentar, ketika adek Khai memberikan anak ibu tadi itu biskuit. Hanya pertanyaan basa-basi. Tentang usia anak, jumlah anak yang dimiliki (kebetulan, anak kami sama-sama 2 dan si kakak juga lagi sekolah), dan si adek udah bisa apa aja.

Semuanya tampak normal. Dia kembali menekuni Al-Quran digitalnya (menggunaka tab), saya dengan Al-Quran cetak, dan anak-anak dengan biskuitnya. Lalu, tak berapa lama ia berdiri. Memasukkan tabletnya ke dalam tas, lalu pergi. Dia bilang kepada anaknya kalau ia mau ke toilet. Sang anak minta ikut, tapi tak dihiraukannya. Anak itu memanggil, tapi ibunya tetap berlalu. Akhirnya, anak usia 15 bulan itu hanya terduduk dan hampir menangis. Saya lalu membelai kepalanya, dan mengatakan bahwa ibunya hanya ke toilet sebentar.

Sekembalinya si ibu, ada yang berubah. Wajahnya tak lagi ramah. Beberapa saat setelah duduk, ia tampak mengomel sambil menunjuk-nunjuk orang yang di sebelah kirinya (posisi saya di sebelah kanannya). Omelannya tidak jelas, random. Mulai dari ngoceh tentang harta kekayaan, TKI, pemerintah, poligami, pesawat, wanita, dll. Kata-katanya juga "ajaib".

Saat dia mengoceh, saya ketahuan kalau sedang memperhatikannya. Bisa ditebak, selanjutnya dia balik memandangi saya dengan tatapan yang menyeramkan menurut saya, lalu mengoceh lagi. Deg... Jantung saya berdetak kencang. Reflek saya peluk adek khai dan menarik tas saya, serta bergeser agak berjarak dengannya. Eh, dia malah makin ngomel. Saya khawatir dia bakal ngamuk dan pengajian bisa terganggu. Akhirnya, saat dia ngomel, saya pura-pura cuek, tak sedikitpun melihatnya.

Omelannya berhenti. Lalu ia duduk dengan posisi berhadapan dengan anaknya. Daaaan, dia ngomel lagi, sambil menunjuk-nunjuk anaknya. Hiks... Seketika hati saya menjadi perih. Anak sekecil itu, matanya yang besar dan bening hanya menatap pasrah ke ibunya. Ntah apa yang ada di benak anak itu. Saat itu, barulah beberapa orang yang ada di sekitar kami bertanya pada saya, apa yang terjadi tadi. Saya jelaskan, dan mereka meminta saya tetap sabar. Padahal, rasanya saya ingin keluar saja. Tapi, yah itu tadi, takut dia ngamuk.

Sungguh, ini pertama kali saya alami. Dan baru kali itu juga saya bertemu si ibu, selama kurleb 3 tahun saya mengikuti pengajian ini. Sepertinya, ibu-ibu yang di sekitar saya juga tidak ada yang mengenalinya. Siapakah dia?, dari mana asalnya?, mana keluarganya? Kenapa dibiarkan saja ia pergi berdua dengan anaknya. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?. Apakah ia termasuk dalam kategori orang dengan gangguan jiwa?.

Padahal, dari penampilan, ia tampak biasa saja, normal. Mungkinkah statusnya masih "berobat jalan" sehingga masih sering "kambuh" karena ada yang menjadi pemicunya. Ntahlah... Saya tidak paham juga. Ntah dia berada di level mana, berat, sedang, or ringan.

Hanya saja yang tak terlupakan oleh saya sampai saat ini adalah wajah lugu anaknya. Anak itu hanya diam saat ibunya ngomel tidak jelas dan menunjuk-nunjuk wajahnya. Dan, tak lama setelah itu pengajian selesai. Tahukah apa yang dilakukan ibu tadi?. Dia berdiri, meninggalkan anaknya. Lalu tak lama kembali lagi dengan semangkuk tom yam (ada stand makanan di luar).

Sungguh pengalaman luar biasa bagi saya, bertemunya di pengajian. Jika memang ibu itu mengalami distres dan stresornya faktor psikologis, lalu tiba-tiba muncul pemicunya, saya mendoakan semoga lekas baik dan stabil kembali tanpa "kambuh" lagi.


Ada beberapa hal yang bisa diambil dari pengalaman saya tersebut:

  • Kita bisa bertemu dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dimana saja, dengan jenis dan level gangguan yang berbeda-beda. Termasuk ketemunya di pengajian, dan jangan sampai kapok buat ikut pengajian lagi.
  • Usahakan untuk tetap tenang, perhatikan sekitar, analisis secara cepat apakah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tersebut menjadi ancaman (memungkinkan bereaksi kasar secara fisik). Lalu, ambil sikap segera.
  • Bila dikeluarga kita ada orang yang memiliki kesamaan dengan kisah saya di atas, please... jangan biarkan saudara Anda tersebut pergi tanpa pendampingan. Apalagi dengan membawa anak.
  • Husnuzhon saya, Ibu itu sedang dalam masa pengobatan. Dan semoga saja, anaknya juga dalam upaya "diselamatkan" dari efek perilaku ibunya, karena saya tidak tahu apa saja yang sudah dialami oleh si anak. Apakah selama ini dia memang menjadi "pendengar setia" ocehan ibunya yang tidak jelas itu. Jika belum, please... tak hanya ibunya, anaknya juga butuh.




19 Februari 2016

Bismillah...


Dulu, kalau mau bikin roti sendiri kudu nyiapin tenaga ekstra. Keseringan bikin, lengan jadi berotot gede hihihi... (lebay). Gimana nggak, nguleninya itu lho yang nggak nahan. Enak kalau punya bread maker (nggak enak mikirin watt nya), nggak capek-capek nguleni. Tapi itu dulu. Kalau sekarang, kapan pun Mbak Nai minta dibikinin roti, hayuuuuuuk ajah.

Bikin roti tanpa diuleni. Mudah banget dan rasanya juga enak. Bahkan Mbak Nai bisa ikutan bantu. Trus, buat yang nggak punya oven, jangan khawatir. Rotinya bisa dimasak dengan teflon atau double pan. Seperti yang biasa saya lakukan, karena cuma punya otang alias oven tangkring, maka memakai teflon or double pan itu lebih mudah.

Langsung aja ke resepnya yak

Bahan:
  • 250 gr tepung terigu 
  • 1/4 sdt garam
  • 125 ml susu UHT
  • 2 sdt ragi
  • 1 butir telur
  • 40 gr butter
  • 2 sdm sula pasir
Cara membuatnya:
  • Lelehkan butter dengan menggunakan api kecil. Setelah meleleh, api dimatikan.
  • Masukkan susu dan gula pasir, aduk sampai tercampur rata dan gula mencair.
  • Masukkan telur, aduk, dan masukkan ragi.
  • Tutup panci selama 10 menit (setelah 10 menit, adonan akan terlihat buih).
 
  • Masukkan tepung dan garam, aduk hingga rata dengan menggunakan sendok saja.
  • Tutup dan diamkan selama 1 jam.
 
  • Kempiskan.
 
  • Tutup dan diamkan selama 1/2 jam lagi.
 
  • Setelah itu adonan bisa dibentuk dan diberi aneka toping seduai dengan yang diinginkan.
 
  • Olesi teflon/double pan dengan margarin, masukkan adonan yang telah dibentuk. Lalu panggang dengan menggunakan api yang sangat kecil.






Mudahkan?. Dulu, pertama kali coba, alhamdulillah langsung berhasil kok. O yah, biar rotinya cantik, bagian atas bisa dioles dengan kuning telur, margarin, atau susu kental manis. Selamat mencoba! ^___^



18 Februari 2016

Bismillah... 

Anda mau menikah? Sudah mendaftar di KUA? Menikah minggu ini juga?

STOP

Ya, jangan lakukan itu. Jangan dulu, pikirkan baik-baik, masih ada waktu. 

Kenapa? 

karena belum lengkap tanpa membaca buku Sayap-sayap Mawaddah.

Ah... kirain ada apa yak :D

Eh tapi ini serius lho. Ini hal yang penting. Persiapan pernikahan itu nggak cuma ngapalin akad (buat laki-laki), siapkan materi (dana), fisik (kesehatan dan penampilan), mikirin mas kawin. Tapi, juga menyiapkan bekal berupa ilmu. Nah, ilmu itu juga bisa didapat lewat buku ini.



Pernikahan itu adalah sebuah perjalanan panjang.

Layaknya jalan, nggak selalu mulus, berliku, ada tanjakan, turunan, kerikil, bahkan batu-batu besar. Kita butuh bekal yang banyak, agar tak kehabisan energi dan bisa sampai ke tujuan dengan selamat, karena seringnya, saat mendengar kata pernikahan, yang terbayang adalah tentang keindahannya. Dimulai dari betapa bahagianya menjadi raja dan ratu sehari. Duduk di singgasana indah dengan pakaian yang kemilau, dan senyum yang sumringah. Bagaimana serunya menjalani hari dengan partner baru, dan bagaimana bahagianya bisa menyalurkan kebutuhan biologis dengan halal.

Lupa, kalau di dalam menjalani sebuah pernikahan, kita juga akan dihadapi dengan berbagai masalah. Butuh sebuah usaha keras untuk dapat menggapai SAMARA yang menjadi do'a dari keluarga dan para undangan di pernikahan kita. Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah tentu ingin dimiliki oleh setiap orang yang menikah. Apa itu Sakinah? (silahkan baca buku sebelumnya, Sayap-sayap Sakinah), apa itu Mawaddah? (jawabannya akan ditemukan di buku ini), dan apa itu warahmah (semoga nantinya ada buku sayap-sayap warahmah). Bagaimana mungkin kita menggapainya jika tak tahu artinya. Jadi, kalau masih belum tahu apa itu Mawaddah, HARUS baca buku Sayap-sayap Mawaddah ini deh!

Pernikahan Menyatukan dua Insan yang berbeda


Pernikahan menyatukan dua insan yang berbeda, baik jenis kelamin (Catet yah, BEDA JENIS KELAMIN), latar belakang keluarga, pendidikan, dll. Jadi, tidak hanya fisik saja yang berbeda, tapi juga cara berpikir, berkomunikasi, memandang suatu masalah, bereaksi, memberikan penghargaan, bahkan cara menunjukkan kasih sayangnya terhadap pasangan.

Nah, menikah itu tidak untuk sehari dua hari. Jika fisik dapat kita nilai sejak awal, maka berbeda dengan sifat. Akan ada banyak hal yang menjadi kejutan setelah menikah, berkaitan dengan sifat pasangan. Jadi, akankah cinta bisa tetap terus bersemi?. Tentu saja bisa!, cinta itu harus selalu dipupuk. Pake pupuk apa?. Pupuknya dijabarin lengkap di buku Sayap-sayap Mawaddah. 

Yaaaaah... cuma itu aja?. Sama dong dengan buku lain dengan tema yang sejenis.

Eits... tunggu dulu. Ada yang beda dari buku ini, yaitu:
  • Ada bahasan tentang seksologi sebagai unsur pokok dalam bahasan Mawaddah, oleh dr. Ahmad Supriyanto. Ilmu yang penting banget ini!
  • Ada kisah-kisah tentang cinta sejati. Miracle of love in marriage, bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita lho!.
Jadi, ingat yah. Sebelum menikah kudu baca Sayap-sayap Mawaddah dulu. Dijamin bermanfaat deh ^_^ 

17 Februari 2016

Bismillah...

Alhamdulillah... akhirnya saya lahiran buku lagi. Buku pertama yang lahir di 2016. Buku ini adalah buku duet ke 2 saya dengan Mbak Riawani Elyta. Buku segmen remaja, setelah buku duet kami sebelumnya yang terbit tahun 2013, Kitab Sakti Remadja Oenggoel yang diterbitkan oleh Penerbit Indiva.

Judulnya I Will Survive. Buku ini membahas tentang kiat-kiat dalam menghadapi berbagai masalah. Nggak dipungkiri, masa remaja adalah masa-masa yang rawan. Nah, buku ini bisa menjadi salah satu pegangan biar bisa tetap survive dalam menghadapi masalah. Nggak cuma buat remaja aja kok. Buat kita-kita yang berada di usia dewasa juga cocok, apalagi yang masih sering galau suralau :D

Penasaran?. Buku ini bisa dipesan di Penerbit Indiva, atau tunggu kedatangannya di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. 



Judul : I WILL SURVIVE
ISBN : 978-602-1614-70-9
Penulis : Riawani Elyta dan Oci YM
Harga : 28K
Order SMS/WA ke 0819 0471 5588

Sinopsis :
“Masalah adalah sahabat terbaikmu. Mereka buatmu jadi lebih kuat dan buatmu menempatkan Tuhan di sisimu yang paling dekat.”
Sahabatan dengan masalah? Nggak salah tuh? Tenang, maksudnya kamu nggak perlu takut lagi dengan yang namanya masalah. Karena masalah kan udah jadi bagian dari kehidupan kita.
Terus nggak bisa hidup bahagia dong? Eits ... siapa bilang. Kebahagiaan sejati itu muncul bukan pada saat kita telah berhasil menyingkirkan semua masalah, tapi saat kita bisa mengubah cara kita berhubungan dengan masalah. Nggak percaya? Kamu bakal ngerasain itu kalau bisa melihat masalah sebagai sumber potensial kesadaran, kesempatan untuk mempraktikkan kesabaran, dan untuk belajar.
Dengan baca buku ini, kamu bakal tahu: apa itu masalah, jenis-jenis masalah, kiat menghadapi masalah, survive dari masalah, dan masih banyak lagi deh.
Kawan, hidup sekali, kalau nggak berarti, rugi! So, jadilah pemecah masalah yang mampu menyelesaikan sampai tuntas!