Semua Bisa Jadi Guru

Bismillah...

Buka facebook, saya diingatkan kembali tentang sebuah postingan status. Isinya, kurang lebih menggambarkan perasaan kangen saya saat pernah menjadi seorang guru SMK, 7 tahun yang lalu. Mungkin, karena hari ini bertepatan dengan peringatan hari PGRI, dan status itu pun di tulis di hari yang sama 3 tahun yang lalu.

Menjadi guru di SMK memang memberikan kesan yang lebih mendalam, dibandingkan saat saya mengecap profesi seorang dosen. Saya masih mengingat jelas, hari pertama saya mengajar, saat acara-acara sekolah, pertama kali saya lepas kontrol dan sangat begitu emosional kepada siswa, saat-saat menerima curhatan dari siswa, saat mereka berkunjung ke rumah, saat ikut rapat penentuan status siswa yang bermasalah, dan semuanya!.

Saya sangat menikmati, saat siswa menatap saya di depan kelas dengan tatapan rasa ingin tahu yang begitu besar. Saya khatam berbagai teknik mengajar, membaca kondisi psikis mereka. Pokoknya benar-benar mencintai profesi ini, dan benar-benar merindukannya. Rindu akan riuh rendah, huru hara kelas. Tentu saja kondisi tersebut berbeda dengan pengalaman saya saat menjadi seorang dosen.

Kini, saya tetap mengajar. Saya punya 2 orang murid berusia hampir 7 tahun dan hampir 2 tahun. Tak mengenal jam belajar dan hari libur. Tak perlu mengisi raport, karena sudah ada 2 Malaikat yang tak pernah alpa untuk mencatat setiap rincian peristiwa. Tanggung jawabnya langsung kepada yang Maka Kuasa.

Berat mi?
Gimana yah, bagaimana jika pertanyaan tersebut diberikan kepada seorang guru wanita yang punya ratusan murid di sekolah dan punya 5 orang murid di rumah. Begitulah, selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan. Semuanya beda-beda. Nikmati aja rasa rindu itu, tak perlu membandingkan, terutama saat melihat foto kawan-kawan seperjuangan dulu yang lagi wara-wiri di beranda facebook dengan baju seragam batik PGRInya *eh hahaha... :D

Alhamdulillah, rindu bisa terobati dengan adanya undangan bedah buku dari sekolah-sekolah. Ya, buku remaja yang saya tulis, Kitab Sakti Remadja Oenggoel. Psssssst... bakal ada buku baru lagi lho, sodaranya buku inih *promosi colongan

Nah, kembali tentang guru. Kalau ngebahas tentang predikat seorang guru nih, hmmmmm.... bukankah semuanya sebenarnya memiliki peluang yang sama?. Nggak harus sekolah keguruan atau mengambil akta 4 dulu baru bisa jadi guru. Tugas mulia seorang guru itu tak terbatas pada institusi or instansi. Berapa banyak orang-orang yang dinobatkan sebagai seorang guru, guru kehidupan. Padahal ia tak mengajar di sekolah atau kampus.

Simple, mereka itu orang-orang yang bisa diGUgu di tiRU. Mereka jadi guru di keluarganya, di lingkungan tempat tinggalnya, dimana pun. Mereka orang-orang yang tulus dan ikhlas.

Apakah mereka itu termasuk kamu?. Iya, kamu...



foto: kenangan waktu seminar proposal tesis
bersama teman seperjuangan yang berprofesi sebagai guru dan kepala sekolah
(saya yang paling muda :D)



#SeluruhGuru Barakallah... ilmu yang diberikan menjadi tabungan akhirat dan mendapatkan balasan yang berlipat. Aamiin...



Posting Komentar