Saat Nai Nonton Televisi

Di suatu hari yang panas, gerah, dan berasap (beneran berasap, inih Riau pemirsah), seorang gadis kecil yang biasa kami panggil Mbak Nai yang usianya sudah 5 tahun lebih, dengan seriusnya ngomong ke Ummi:

Mbak Nai: Mi, ntar kita ke swalayan yah. Tadi di TV Mbak liet ada yang untuk muka gitu. Biar Ummi nggak penuaan dini

Ummi: (Apppaaaaaah! penuaan dini? kaca...mana kaca...!!!) Hmmmm... emang penuaan dini itu apa yah Mbak?

Mbak Nai: Itu... jerawat yang ada di muka Ummi (masih dengan wajah serius, sambil nunjuk-nunjuk jerawat saya yang cuma... hmmmm... cumaaa... mendadak amnesia ilmu menghitung)

Ummi: Memangnya kalau ada jerawat Ummi jelek yah Mbak?

Mbak Nai: Nggak sih (wajahnya mulai terlihat aneh). Ya udah, kalau Ummi nggak punya duit, ntar biar Mbak minta ke Abi yah (dengan gaya sok bijak, dia pergi ke Abinya)

Ummi: (Ngelap ingus, berasa nelangsa)

Mbak Nai: Bi... Kasih Ummi duit dong

Abi: Buat Apa Mbak?

Mbak Nai: Buat Ummi bisa beli obat jerawat. Ntar Ummi penuaan dini, Bi.

Abi: (Ketawa lalu tawanya langsung mereda setelah melihat wajah Ummi yang manyun sangat) Iya deh, ntar Abi kasih yah (kembali ke laptop)

Mbak Nai: Bener yah, Bi. Kasian Ummi, nggak punya duit, kan Ummi nggak kerja, cuma nulis di laptop aja...

Ummi: (meres aer mata)

=========================================================================

Di Swalayan

Mbak Nai: Mi, ini 1 yah (sambil pegang coklat)

Ummi: Oke, inget yah Mbak, cuma boleh 2, jadi tinggal 1 lagi

Mbak Nai: 3 deh Mi...

Ummi: Nggak, janjinya kan cuma 2. Atau nggak jadi

Mbak Nai: Iya deh (manyun). Mi, jangan lupa yah beli yang kaya' di TV itu, biar Ummi nggak penuaan dini

Ummi: (Manyun juga, berasa benci banget dengan kata penuaan dini). Iya Mbak (ngambil tonik rambut)

Mbak Nai: Mi, Mbak lupa mau beli apa 1 lagi. Waktu itu Mbak lihat di TV. O yah Mi, beli yang itu Mi... yang itu juga... itu mi... (sambil nunjuk-nunjuk)

Ummi: (Puyeng) Udah Mbak pilih 1 aja. Belanjaan Ummi juga udah cukup

Mbak Nai: Tapi semua itu mbak pernah lihat di TV Mi

Ummi: Nggak semua yang Mbak lihat di TV itu harus kita beli, Nak.

==========================================================================

Sebelum tidur

Mbak Nai: Mi, di TV itu ada orang nggak malu. Masa pake bajunya jelek, pahanya nampak, Mi. Terus, punggungnya juga kelihatan

Ummi: Nah, karena jelek, nggak usah ditiru yah Mbak

Mbak Nai: Ngapa mereka nggak pake baju kaya' Mbak, Mi?. (mendadak dengan wajah cerah), Aha... Mbak tahu, karena mereka nggak punya duit beli baju kaya' Mbak. Jadinya, pake baju gitu. Kasian yah, Mi. Mbak doa biar Allah kasih mereka duit

Ummi: Iya, Nak. Aamiin... (nanya sendiri, jawab sendiri nih anak).

==========================================================================


Inih hanya sebahagian pemirsah, ada begitu banyak celoteh atau pertanyaan Nai. Kalau saya lagi capek, biar jawabannya nggak salah, maka saya delegasikan ke suami. Padahal, Nai itu nonton TV cuma pas nonton Upin Ipin, Laptop si Unyil, Otan, atau Masha and the Bear. Nggak tiap hari juga, cuma kalau laptop lagi di pake aja, biasanya dia nonton lewat laptop, acara yang udah didownload oleh Abi. Sebenarnya pengen sih, di rumah nggak ada TV, tapi untuk saat ini belum bisa. Salah satu alasannya, suami seneng banget nonton bola lewat TV layar gede, daripada nobar di luar. Ya sudahlah... yang jelas Nai masih bisa diatur tontonannya.

Nah, pas nonton lewat TV, ada iklan kan yah. Dari iklan itulah Nai ngeliat macam-macam. Bayangkan, cuma iklan. Gimana dengan anak-anak lain yang porsi menonton TV nya sangat besar dan tanpa pendampingan dari orang tua. Bisa-bisa TV jadi orang tua ketiga nih.

Menurut Rose Mini, salah satu psikolog anak, mengatakan bahwa, anak sangat mudah terpengaruh media audio dan visual karena stimulus yang lebih intens dan lebih menarik bagi anak. Melalui media, pola pikir anak cenderung konkret, apa yang dilihat dianggap benar sehingga anak dikhawatirkan akan meniru mentah-mentah apa yang disajikan televisi.

Alangkah baiknya, menurut Rose, jika orangtua melakukan ”diet media” kepada anak. Bagi anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak menonton media apa pun, sedangkan anak usia lebih dari 2 tahun harus dibatasi menonton televisi.

Untung aja Nai kenalan sama TV di usia 4 tahun, dan selalu ada pendampingan. Terlebih ketika Kak Seto mengatakan bahwa televisi sebenarnya bukanlah sahabat yang baik untuk anak-anak. Namun, karena tidak ada kegiatan lain yang diarahkan orangtua, anak dengan sangat gampang memilih televisi sebagai ”sahabat”. ”Sejak pagi buta hingga malam, anak-anak ditemani oleh tayangan-tayangan yang tidak mendidik, tetapi terkadang membuat anak-anak larut dan terlena,” kata Seto Mulyadi. Ia menambahkan, televisi ternyata membawa pengaruh negatif yang jauh lebih besar daripada positifnya. ”Program infotainment dan reality show pun tak luput jadi tontonan anak-anak dan remaja,” ujarnya.

Tau sendirikan, kalau banyak banget acara di Indonesia raya ini yang nggak mendidik sama sekali. Tapi sayangnya, masih banyak juga orang tua di luar sana yang tidak paham. Bahkan merasa anak mereka baik-baik saja. Padahal ada banyak efek negatifnya.

Setiap kemajuan teknologi, udah pasti lah yah ada efek positif dan negatifnya. Lalu sebenarnya apa yang menjadi efek negatif dari TV terhadap anak?. Ternyata hal ini lebih kepada permasalahan bahwa manusia adalah mahluk peniru dan imitatif. Perilaku imitatif ini sangat menonjol pada anak-anak dan remaja. Kemampuan berpikir anak masih relatif sederhana. Mereka cenderung menganggap apa yang ditampilkan televisi sesuai dengan yang sebenarnya. Mereka masih sulit membedakan mana perilaku/tayangan yang fiktif dan mana yang memang kisah nyata. Mereka juga masih sulit memilah-milah perilaku yang baik sesuai dengan nilai dan norma agama dan kepribadian bangsa. Adegan kekerasan, kejahatan, konsumtif, termasuk perilaku seksual di layar televisi diduga kuat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku anak.

Berikut beberapa efek negatifnya :
  • Berpengaruh terhadap perkembangan otak. Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan. Ini terjadi lho sama anak tetangga saya, karena durasi nonton TV yang tinggi sejak usia 0-3 tahun, kemampuan berbicaranya menjadi terganggu.
  • Mendorong anak menjadi konsumtif. Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif. Nah, ini dia nih yang bikin Nai jadi banyak pengennya, korban iklan.
  • Mengurangi semangat belajar. Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
  • Mengurangi kreativitas. Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
  • Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan). Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Terlebih jika menonton televisi disertai dengan cemilan.
  • Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga. Terlebih menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV.
  • Matang secara seksual lebih cepat. Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat.
Sebenarnya banyak juga efek positif dari menonton televisi. Seperti menambah pengetahuan anak tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya, karena televisi bersifat audio visual. Jadi informasi terkesan nyata dan sangat mudah dipahami. Namun sayang, acara TV yang edukatif dan benar-benar tepat untuk anak masih sangat kurang. Kalaupun ada, masih harus kita cermati juga, apakah mengandung efek negatif yang terselubung atau tidak.

Bagaimana Solusinya ?
  • Membatasi anak dan memberinya jadwal menonton. Disesuaikan dengan waktu penayangan acara yang edukatif atau layak untuk ditontonnya. Lalu lakukan menonton bersama dalam artian yang sesungguhnya. Bukan sekedar membiarkan anak menonton dan kita sibuk di sekitarnya seperti, melakukan aktifitas rumah tangga atau pun menyelesaikan pekerjaan kantor yang tersisa. Juga bukan dalam artian kita menonton tayangan yang kita pilih dan membuat anak kita duduk menemani meskipun secara rasional dan emosional dia tidak pantas menerima. Bukan. Menonton bersama yang  benar adalah benar-benar menonton dan mengomentari tayangan tersebut secara dialogis dengan anak. Dengan menuntunnya mengambil nilai positif dari acara tersebut. 
  • Ajak anak untuk melakukan aktifitas lain, seperti berolahraga, pergi ke perpustakaan atau toko buku terdekat, bercocok tanam, membuat aneka kerajinan tangan, bereksperimen di dapur, ke kebun binatang atau museum. Bahkan yang paling mudah adalah mengajaknya untuk berpartisipasi dalam membersihkan rumah dan halaman. Nah loh, anak ada kegiatan, tugas rumah kita juga jadi lebih ringan
Nah, sila temans tambahkan solusi lainnya, menurut pengalaman masing-masing. Karena, tidak semua orang tua yang bisa komitmen untuk menerapkan rumah tanpa TV.

Tontonan yang sama dengan Ummi dan Abi waktu kecil

  'Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar'

10 komentar

Bener banget mbak TV merupakan media yang mempengaruhi perkembangan anak, sebagai orang tua kita harus mendampingi anak saat menonton acara TV atau setidaknya membatasi waktu untuk melihat TV, terima kasih artikelnya yang sangat bermanfaat...

Reply

Masama Mbak. Makasih udah mampir :)

Reply

Makasih Mbak sharingnya.. anak saya termasuk yang masih banyak porsi menonton TV nya, meskipun cuma kartun :(
mengalihkan kegiatan itu lho yang susah, sedangkan saya sendiri kurang kreatif dan sekarang ada adiknya yang masih bayi, yang lebih menyita perhatian saya..
*loh kok malah curhat :D
intinya ya harus berusaha mengalihkan perhatiannya dari TV, membuat kegiatan lain yang lebih bermanfaat :)

Reply

Masama Mbak.

Saya juga gi punya baby Mbak. Nai nggak terlalu doyan TV, dia lebih suka mewarnai, menggambar, menggunting, menempel, main masak-masakan, pokoke macem-macem deh. Saya terbantu dengan buku-buku or majalah anak yang ada kegiatan kreatifitasnya.

Iyaaaa Mbak, pengalihan, sekali pun nonton TV, butuh pendampingan :)

Reply

Iya, kebanyakan nonton tivi memang membuat anak jadi cuek dg sekitarnya :(

Reply

salam kenal mbak, kunjungan perdana sy ini. benar sekali, anak saya mudh sekali menirukan apa yg dia lihat di tv, kadang jadi hahace kalo dia udah seneng ngeliat tv, harus pinter menyeleksi

Reply

hihihi... Mba Nai pinter banget deh... celotehannya bikin nyengir :)

Reply

Iya Mbak, bahkan cuek juga dengan panggilan ortunya. Jawabannya, ntartik alias ntar nantik :)

Reply

Salam kenal juga Mbak, makasih udah mampir. Beneeeeer... diseleksi Mbak :)

Reply

Posting Komentar