Manfaat dan Tips Membuat Anak Gemar Membaca


Baby doyan buku, masaaaaaa sih... eh beneran lho. Adek Khai doyan sama buku. Kalau Mbak Nai udah pegang buku, Adek Khai bisa tertawa riang gitu, nggak sabar pengen dibacain buku sama Mbak Nai. Lha, emang Mbak Nai udah bisa baca? Hahaha... beloooooom... baca gambar maksudnyah temans. Jadi, dia cerita ngarang sendiri. Adek Khai seneeeeeeng banget.

Adek Khai menyimak Mbak Nai dengan serius
Banyak ortu sekarang yang mengeluh bahwa anaknya nggak suka membaca, lebih suka bermain or menghabiskan waktunya untuk menonton TV. Padahal, kebiasaan membaca itu seharusnya sudah dilatih sejak dini kepada anak. Mulai dari usia di bawah 1 tahun, Perkenalkan anak dengan buku, kenapa tidak?, Takut buku-bukunya disobek atau anak memasukkannya ke dalam mulut?, jangan khawatir, sekarang ada buku untuk anak-anak yang terbuat dari kain. Lagipula, ibu juga bisa mengenalkan buku kepada anak semenjak dini, dengan rajin membacakannya cerita.




Selain itu, hendaknya ortu bisa menjadi model bagi anak, jangan sampai kita "berkoar-koar" agar anak gemar membaca, sementara kita sendiri enggan untuk membaca. Dengan dalih sudah tidak duduk di bangku sekolah atau perkuliahan lagi, atau tidak punya waktu, apalagi kalau berkata bahwa buku-buku mahal (mengurangi uang belanja). Apabila di daerah tempat kita tinggal ada perpustakaan atau taman bacaan, jangan sungkan untuk mengunjunginya. Jadi kan sebagai salah satu agenda untuk kita mengunjunginya bersama anak-anak, buat kartu anggota agar kita bisa meminjam buku di sana. Atau, jangan lewatkan bazar-bazar buku murah yang sering diadakan oleh toko buku.

Laporan oleh commission on reading (komite membaca) di negara AS yang merangkum dari berbagai macam riset tentang membaca. Di antara penemuannya, terdapat dua pernyataan sederhana : 
  • Aktivitas yang paling utama untuk membangun pengetahuan yang dibutuhkan untuk berhasil dalam membaca adalah membacakan buku kepada anak-anak. 
  • Membacakan buku adalah suatu praktik yang harus dilanjutkan di seluruh tingkatan kelas. Komisi ini menemukan bukti konklusif yang mendukung membacakan buku bukan hanya di rumah tapi juga di dalam ruang kelas.

Mengapa sesuatu yang sederhana seperti membacakan buku kepada anak menjadi hal yang efektif?.

Semuanya berhubungan dengan otak. Kata-kata adalah struktur utama untuk pembelajaran. Hanya ada dua cara efisien memasukkan kata-kata ke dalam benak seseorang, melalui mata atau melalui telinga. Maka untuk anak yang berada di usia dini, sumber terbaik bagi ide dan pembangunan otak adalah telinga. Apa yang kita kirim ke dalam telinga menjadi pondasi kuat bagi seluruh otak si anak. Suara-suara penuh arti yang ditangkap telinga akan membantu anak memahami kata-kata yang dia dapat melalui mata saat ia nanti belajar membaca. Maka tidak heran ketika ada seorang santri yang buta namun hafizd qur’an hanya mempelajari dengan cara mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an baik lewat gurunya maupun lewat rekaman kaset saja.

Membacakan buku kepada anak, sebenarnya sama alasannya seperti kita berbicara kepada anak, yaitu untuk memberikan kepastian, menghibur, menjalin ikatan, membangkitkan rasa ingin tahu, memberi inspirasi. Tetapi ketika kita membaca lantang, kita juga : 
  • Mengondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, 
  • Menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, 
  • Membangun kosakata, dan 
  • Memberikan sosok panutan yang gemar membaca.
Apa manfaat menumbuhkan kegemaran membaca kepada anak-anak kita semenjak dini?.

Sekurangnya ada dua manfaat besar menumbuhkan kegemaran membaca kepada anak-anak kita semenjak dini : 
  • Merangsang terjadinya lompatan kecerdasan. Hal ini terjadi kepada seorang anak yang bernama Jenifer. Terlahir ”tidak normal” dan dinyatakan positif menderita down sydrome-suatu jenis keterbelakangan mental yang ditandai oleh rendahnya IQ, sehingga tidak memungkinkan seseorang hidup secara wajar. Tetapi apa yang dilakukan oleh Marcia Thomas sang ibu? Terapi. Marcia memberikan terapi kepada anaknya agar otaknya memperoleh rangsangan yang sangat kaya, sehingga kecerdasannya meningkat dan fungsi-fungsi indranya bekerja lebih aktif. Marcia berusaha menjalankan proses terapi itu dengan membacakan sebelas buku setiap hari kepada buah hatinya yang masih bayi tersebut. Hasilnya, IQ jenifer melonjak tajam ketika dites pada usia 4 tahun. IQ-nya 111. Salah satu penjelasan mengapa mengajarkan membaca pada bayi dapat melejitkan IQ adalah karena membaca merupakan kegiatan yang memberikan rangsangan paling kompleks bagi otak dibandingkan dengan beberapa kegiatan lainnya, seperti melihat televisi. 
  • Mematangkan emosi dan kepribadian. Menurut Paul C. Burns, betty D. Roe & Elinor P. Ross dalam Teaching Reading in Today’s Elementary Schools, ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca. Kedelapan aspek itu meliputi sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Semuanya bekerja secara berbarengan saat kita membaca. Manfaat pembelajaran membaca sejak dini, anak menjadi terbiasa berpikir dan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki untuk memahami dan menghadapi tantangan. Karena dengan aktivitas membaca, melatih mereka untuk lebih stabil dan matang, bukankah untuk memahami keseluruhan isi bacaan  harus membacanya dengan baik. Agar bisa membaca dengan baik, kita harus belajar mengendalikan diri, memusatkan perhatian, menghayati dengan perasaan, dan memahami makna tiap kata.
Memilih bacaan yang tepat untuk anak

Hal terpenting adalah bagaimana kita memilih buku bacaan yang tepat untuk anak, yang mengandung nilai-nilai positif. Sehingga otanya tidak menyimpan “bahan-bahan” berbahaya yang akan mencemari pola pikirnya kelak. Banyak buku yang bisa dibacakan, yang paling utama adalah Al-Qur’an.

Ternyata Al-Qur’an dapat merangsang tingkat inteligensia (IQ) anak, yakni ketika bacaan ayat-ayat Kitab Suci itu diperdengarkan dekat mereka. Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an dapat meningkatkan IQ bayi yang baru lahir dalam sebuah Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam sekitar tujuh tahun yang lalu. Dikatakannya, bayi yang berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang.

Jadi, bila bacaan Al-Qur’an diperdengarkan kepada bayi, akan merupakan bekal bagi masa depannya sebagai Muslim, dunia maupun akhirat. Dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang output-nya berupa peningkatan daya tangkap/konsentrasi. Ternyata Al-Qur’an pun demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak. Ingat, neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya bak “disket kosong siap pakai”. Berarti, siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya.

Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Istilah populernya apalagi kalau bukan “intelektual”. Sedangkan anyaman tersebut akan sernakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neoron yang telah teranyam di antaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernapas. Sementara neoron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan bereaksi terhadap dunia luar.

Selama dua tahun pertama anak mengalami ledakan terbesar dalam hal perkembangan otak dan hubungan antar sel (koneksi). Lalu setahun kemudian otak mempunyai lebih dari 300 trilyun koneksi, suatu kondisi yang susah terjadi pada usia dewasa, terlebih usia lanjut. Makanya para pakar perkembangan anak menyebut usia balita sebagai golden age bagi perkembangan inteligensia anak. Memang bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu. Otak telah tumbuh jauh sebelum bayi lahir.

la telah mulai bekerja yang hasilnya merupakan benih penginderaan berdasarkan prioritas. Umumnya pendengaran lebih dulu. Jadi, selama masa itu penting sekali untuk selalu menghadirkan lingkungan kondusif dan baik bagi perkembangan otaknya. Hilangnya lingkungan ini hanya akan membuat otak menderita dan menganggur yang gilirannya mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Dalam kaitan upaya meningkatkan pribadi Muslim, seyogyanya bayi sudah diperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak dalam rahim. Jadi, bila ada anjuran kepada ibu-ibu hamil untuk rajin membaca Al-Qur’an menjelang bersalin, itu ada dasar ilmiahnya juga. Makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan mengajak bayi memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap/konsentrasi otak bayi. Sehingga akan semakin mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa belajar.

Selanjutnya, yang layak untuk direkomendasikan adalah buku-buku bacaan islami untuk anak yang berupa kisah para nabi, tentang anak sholeh, mahluk hidup dan alam semesta, juga benda-benda yang ada di sekitar anak. Terlebih apabila ada gambar yang akan lebih menarik sang anak dan merangsang keingintahuannya.


Posting Komentar