Di Balik Jendela

Saya duduk di depan jendela, di luar masih gelap, bukan karena masih shubuh atau mendung, melainkan karena kabut asap. Sudah berlangsung dalam hitungan minggu, cuaca di Pekanbaru seperti ini. Musim hujan di sini sepertinya telah berlalu, cuaca kembali panas terik dan kembali ada pembakaran lahan yang mengakibatkan kabut asap. Sedih, karena nggak bisa keluar untuk menikmati sejuknya udara pagi, terlebih ketika hamil begini, berjalan kaki sejenak di pagi hari menjadi olahraga, yang juga dapat menyehatkan jantung.

Tapi, bukankah kita sebagai manusia harus tetap melangitkan rasa syukur?. Setidaknya pagi ini saya masih bisa duduk manis di depan jendela, sambil menikmati sarapan dan bukan di pengungsian, seperti saudara-saudara di daerah lain yang terkena bencana banjir dan gunung meletus (Sinabung). Bahkan saya hanya kehilangan momen untuk berjalan-jalan kaki di pagi hari, sedang mereka kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Dan pagi ini, kembali datang berita bencana alam, bahwa gunung Kelud meletus. Terjadi hujan abu di beberapa daerah, langit menjadi gelap. Ya Rabb... ampunilah kami...

Pagi... bersyukur saat masih diberikan nafas, masih diberikan waktu untuk berbuat lebih baik dari hari sebelumnya. Mari melangitkan doa untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana...


Di Balik Jendela

3 komentar

Ngeri banget ya mak asepnya ini, tapi masih sempet mendingan pas SBY dateng walaupun beberapa setelah itu asepnya kembali muncul :(
Take care yah bumi. Semoga sehat selalu :*

Reply

IyaaaaMbak, aamiin :)

Reply
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar