Cinta di atas Cinta

Dalam perspektif seorang muslim, cinta pada Allah dan RasulNya di atas segalanya. Para sahabat adalah contoh sosok pecinta terbaik. Mereka mencinta bukan hanya dalam seujar kalimat, tapi mengalir dalam kepatuhan dan ketakwaan. Nah, bagaimana dengan kita? Sungguh amat sangat maluuu rasanya saat mendapati diri ini masih lebih mencintai apa-apa dibandingkan cinta pada Allah dan Rasulullah.

Buktinya, kita lebih cinta kepada manusia, materi, dan segala macam hal yang berkaitan dengan duniawi, tanpa berlandaskan cinta kepadaNya. Padahal, cinta Allah adalah tiket untuk menuju surgaNya, yang tak mungkin teraih tanpa adanya upaya dan pengorbanan. Ya, bukankah saat kita mencintai, kita pasti akan berusaha dan rela untuk mengorbankan apa saja demi yang kita cinta. Lalu, mengapa kita lebih giat berusaha dan lebih rela berkorban untuk manusia, menggapai materi, atau memuaskan ambisi-ambisi dibandingkan berusaha dan berkorban untuk meraih cinta Sang pemilik segala yang ada di dunia, yaitu Allah SWT.

Tiada yang cintanya bisa melebihi cinta Allah kepada hambaNya. Siapa yang akan tetap memaafkan saat kita berulangkali melakukan kesalahan?, siapa yang tetap memberikan kesempatan saat kita maksiat, lalai shalat, dan enggan menutup aurat?, siapa yang bisa bersabar saat segala hutang belum terbayar?. Ah, tak ada yang sanggup untuk menghitung banyaknya kebaikan, nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.

Astaghfirullah... ampuni kami Ya Rabb...

Posting Komentar