27 Desember 2013





Alhamdulillah... saya selalu bersyukur atas setiap apresiasi yang diberikan oleh pembaca buku-buku saya, baik berupa resensi/review, inbox yang berisi kesan dan pesan, kritik dan saran, apapunlah itu selama bersifat positif dan membangun, bukan menjatuhkan.

Seperti siang kemarin, saya mendapat informasi di twitter bahwa buku Kitab Sakti Remadja Oenggoel di resensi oleh seorang pakar, penulis dan pemateri yang sudah sangat berpengalaman di dunia tulis menulis ini. Beliau juga adalah suami dari Mbak Jazimah Al-Muhyi, salah satu penulis favorit dan yang menginspirasi saya untuk menulis. Dulu, di awal-awal saya memiliki akun FB (alasannya pengen nyari akun-akun penulis favorit saya), saya kerap berinteraksi dengan Mbak Jazim, saya juga anggota dari grup Ibu Rumah Tangga yang didirikan oleh Mbak Jazim, sebagai wadah saling support bagi sesama Ibu Rumah Tangga.

Berikut cuplikan resensi dari Bapak Agus M Irkham:


Peradaban dikonstruksi dan ditegakkan. Maka ada yang menyebut bahwa menulis adalah bekerja untuk peradaban. Nah, dalam upaya membangun peradaban itulah, buku ini tepat diletakkan. Sebuah buku yang patut didaras. Sesal saya hanya satu, buku ini harusnya terbit 20 tahun lalu, saat saya masih berseragam SMU. Selengkapnya...

26 Desember 2013

Seluruuuh orang hebat yang saya kenal, TAK SATU PUN gemar menulis-nulis keluhan di twit & status BB nya :)
(Tweet Ippho Santosa)


 Ada berbagai cara utk mengurangi potensi & kehebatan kita. Cara terampuhnya adalah dengan mengeluh
(Tweet Mario Teguh)


Makjleb banget yah kalimat dari 2 orang motivator tersebut. Kalimat tersebut saya temukan hampir disaat bersamaan saat berkelana di dunia twitter. Pas banget juga buat suasana hati saya yang rada-rada eneg, kesel, jengkel, saat menemukan banyak banget keluhan-keluhan yang nggak banget di dunia maya. Kenapa sih masih ada aja orang yang merasa hidupnya paling menderita sedunia, trus dapet efek lega yah kalau udah buang unek-uneknya di dunia maya.

Temans.. nggak semua orang yang baca status atau tweet kamu yang isinya galau melulu itu bersimpati, yang ada cuma kepo terhadap masalah kamu, mengasihani, atau bahkan sebel banget dan bakal cap kamu sebagai orang yang lemah, cemen, yang menjadikan menggalau sebagai hobi. Duh... jangan sampai deh, bukannya sok jaim, tapi bukankah lebih membahagiakan kalau banyak orang-orang mengenal kita sebagai orang yang menyenangkan, optimis, dan selalu bersemangat dalam menjalani hidup.

Hidup itu nggak melulu berisi kesedihan, pasti ada begitu banyak kebahagiaan. Tetaplah berprasangka baik kepada Allah. Itulah sebabnya, hidup mengajarkan kita untuk nggak terlalu lebar saat tertawa dan nggak terlalu keras saat menangis. Selalu ada ibroh dari setiap peristiwa. Sejatinya, berbagai masalah itu datang untuk semakin mendewasakan kita, semakin menguatkan, bukan sebaliknya.

Kalau yang sering mengeluh dan menggalau itu para ababil alias ABG labil, mungkin masih banyak pemakluman, karena memang mereka berada di usia dan tahap perkembangan fisik dan psikis yang drastis. Tapi, kalau yang melakukannya orang yang notabene sudah matang secara usia, rasanya gimana gitu. Yah, sekalipun usia tidak menjamin apakah seseorang tersebut sudah atau bisa berpikiran dewasa. Tapi, apa kita mau orang-orang menyamakan kita dengan para ababil tersebut?, saya memilih untuk tidak.

Rugi rasanya bila menjadikan sosmed sebagai tong sampah dari kegalauan atau keluhan-keluhan kita terhadap permasalahan pribadi yang seharusnya tidak menjadi konsumsi orang banyak. Seolah hidup kita ini transparan banget, sehingga mudah dilihat oleh siapa saja. Belum lagi kalau kekesalan kita menyinggung orang lain, karena status-status ambigu yang penuh dengan kebencian, kritik kasar, atau kalimat-kalimat negatif lainnya *Nah bisa menimbulkan permasalahan baru 

Trus, gimana dong caranya biar nggak mengeluh, menggalau, atau mengumbar kata negatif di sosmed?. Setidaknya ada 3 cara yang bisa saya share temans, yaitu:
  1. Ambil wudhu, gelar sajadah, shalat, dan berdoa kepada Allah. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi kita, jadi mintalah supaya Allah memberikan kita kemudahan dan jalan keluar dari setiap permasalahan yang kita hadapi, sekecil atau sebesar apapun masalah itu.
  2. Berbagilah. Eits... bukan di sosmed yak. Tapi kita bisa mencari orang yang bisa kita percaya untuk sharing masalah kita dan orang tersebut bisa memberikan solusi yang baik. Misalnya, kepada suami/istri, orang tua, guru ngaji, atau sahabat dekat. Tapi, kita kudu ingat bahwa berbagi juga ada aturannya, terlebih untuk permasalahan seputar suami-istri.
  3. Alihkan. Maksudnya adalah, mengalihkan sejenak pikiran kita dari permasalahan tersebut. Nggak ada salahnya untuk membuat tubuh dan pikiran kita rileks dulu agar bisa memandang permasalahan tersebut lebih jernih. Bosan dengan rutinitas, capek dengan tugas, puyeng dengan masalah saat ngurusin anak-anak di rumah, dll. Kita bisa mencoba aktivitas lain untuk membantu menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Nggak ada salahnya untuk sejenak menekuni hobi, membaca buku, jalan-jalan, sepedaan, bereksperimen di dapur mencoba resep masakan baru, dll.
Bagaimana? banyak cara yang lebih baik dan elegan bukan. Daripada suasana hati kita yang buruk tersebut menular kepada para pembaca status atau tweet kita di sosmed. Temans mau menambahkan? :)



Sumber gambar: FP Maher Zain

25 Desember 2013

Alhamdulillah... sejak dahulu kala, sejak kecil hingga saat ini saya belum pernah sekalipun mengucapkan selamat terhadap perayaan umat beragama lain. Terlebih setelah pengetahuan saya tentang agama yang saya anut sejak lahir semakin bertambah. Jadi, saat ada teman-taman agama lain merayakan perayaan yang ada di agama mereka, saya cukup bertoleransi dengan cara membiarkannya, tidak mengganggu.

Nah, bagaimana dengan temans?. Pernah nggak sih ngerasa sungkan untuk nggak ngucapin selamat, padahal yang merayakan itu adalah atasan kita di tempat kita bekerja?. Orang tua kandung, mertua atau saudara kita yang berbeda agama dan merayakannya?. Atau kepada teman-teman yang beragama berbeda dengan kita yang nggak lupa untuk selalu mengucapkan selamat atas perayaan agama kita?.

Kalau pernah, bagaimana sikap temans?, apakah temans memilih untuk ikut mengucapkan selamat atau diam saja?. Saya tak hendak menghakimi, di postingan kali ini saya hanya ingin share kultwit Ust. Felix Siauw, semoga menambah pengetahuan. Sekalipun perkara ini sudah menuai kontroversi sejak dulu, terjadi pro kontra di sana-sini. Temans... sungguh ini bukan perkara bahasa atau toleransi, bagi yang menggembar-gemborkan bahwa mengucapkan selamat tidak mengganggu, merusak, atau mengubah akidah, mari kita pahami lagi.

Berikut Kultwitnya:

1. ada satu hadits yang perlu saya sampaikan | karena banyaknya pertanyaan tentang boleh tidaknya ucapkan selamat natal

2. dari Abu Said al-Khudri ra bahwa Rasulullah Muhammad saw bersabda | "Kamu akan mengikuti sunnah (kebiasaan) kaum-kaum sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak (buaya) kamu tetap mengikuti mereka" | begitu simpul Rasulullah

3. kami (sahabat) bertanya | "Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?"

4. Rasulullah saw bersabda menjawab | "Kalau bukan mereka (Yahudi dan Nasrani), siapa lagi?" ( HR Bukhari dan Muslim)

5. jadi sudah jelas sebenarnya bagi kita panutan | Rasulullah saw peringatkan, ingat-ingat, sedikit demi sedikit kita diajak geser aqidah

6. hari ini ucap selamat, besok ikut hias pohon natal, lusa ikutan makan-makan natal, minggu depan ke gereja | bulan depan, tahun depan?T

7. sudah diatur dari Allah | "lakum diinukum wa liya diin" | kurang apalagi? | udah biarin aja mereka, jangan ikutan repot

8. toleransi jangan diartikan sempit | atau jangan gara-gara 'ngejer' dibilang toleran | dalil-dalil lain diabaikan

9. terakhir, saya kutipkan pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah | tentang mengucapkan "selamat" | mudah-mudahan manfaat

10. Ibnu Qayyim Al-Jauziah | "Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, disepakati bahwa perbuatan itu haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, 'Selamat hari raya!' dan sejenisnya"

11. "Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena bererti dia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah"

12. "Bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai dari memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran. maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah" | begitu kesimpulan Ibnu Qayyim Al-Jauziah

13. wallahua'lam bisshawab | bila ada saudara kita yang berbeda pendapat | selama dia memiliki dalil, mari kita saling menghargai

14. jadi besok kalem aja | nggak perlu sms-sms ucapan, atau ngucap selamat hari raya agama lain | mending tilawah, dapet pahala

 =======================================================================
 Kultwit pengalaman Ust. Felix Siauw

01. walau masih berbeda aqidah dengan kedua orangtua | alhamdulillah saya dikaruniai kemudahan dalam keluarga

02. di tahun 2002 saya menjadi Muslim setelah 18 tahun merayakan Natal | banyak yang berubah setelah saya memahami agama Islam

03. proses berpikir yang mengantarkan saya pada Islam | agama logis yang bisa memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah

04. prinsip tauhid di dalam Islam itu sederhana dan mengena | prinsip satu Tuhan itu menenangkan dan menentramkan

05. setelah menjadi seorang Muslim tentu banyak penyesuaian yang harus saya lakukan | aqidah Islam tentu menngubah banyak prinsip hidup

06. salah satu prinsip yang terpenting adaah penjagaan terhadap aqidah | pengakuan bahwa Allah itu satu dan tiada yang menyamai-Nya

07. saya memasuki Islam sekira bulan Oktober 2002 | maka ujian pertama ada di bulan Desember 2002 saat perayaan Natal keluarga

08. sulit sekali pada waktu itu untuk menyampaikan pada orangtua saya sudah menjadi seorang Muslim | apalagi menjelaskan tentang Natal

09. terbayang sudah selaksa bantahan dan omelan yang bakal diterima | apalagi menjelaskan bahwa saya tidak lagi ikut-ikutan Natalan

10. hanya saja saya tahu persis apa itu Natal | bagi kaum Nasrani itu perayaan terbesar | yaitu kelahiran Yesus, Tuhan Juruselamat

11. maka perayaan Natal itu bagi saya memiliki konsekuensi aqidah | yang takkan pernah saya sampaikan selamat padanya apalagi saya ikuti

12. terbayang lagi respon yang saya terima nantinya? | dimarahi? diamuk? diusir? | bagaimanapun juga ini prinsip aqidah yang harus sampai

13. benar saja, orangtua saya tentu tidak terima | dengan perdebatan alot 3 hari akhirnya ke-Islam-an saya bisa mendapat tempat

14. saat itu ayah saya berucap | "papi tidak bisa melarang kamu Muslim, tapi papi juga tidak bisa menerima kamu Muslim"

15. sementara isak tangis ibu saya menjadi latar diskusi alot kita sepanjang 3 hari | hati anak mana yang tak sedih melihat airmata ibunya?

16. tapi sekali lagi ini adalah aqidah yang tidak bisa ditawar | saya menguatkan hati sambil mengingat perjuangan Saad bin Abi Waqqash

17. saya hanya berharap pada Allah bila saya bertahan dengan aqidah ini | Allah memperkenankan suatu saat kelak ayah-ibu saya Muslim

18. namun ada hal yang benar-benar sulit mereka terima | "mengapa juga tidak boleh hanya sekadar mengucap Natal atau ikut merayakan?"

19. saya pahami cara pikir orangtua saya tentu tidak sama dengan apa yang saya pahami | menjelaskan prinsip aqidah bukan mudah

20. bagi mereka "selamat Natal" itu cuma sekedar ucapan | bagi saya kata-kata "cuma" itu seringkali hasutan setan yang paling laris manis

21. walau "cuma" ucapan selamat | saya tidak ingin mengingkari keyakinan utama | bahwa Allah itu satu dan tiada yang bersekutu dengan-Nya

22. dengan berat hati dan kelu lidah karena beratnya amanah ini | saya mencoba menjelaskan pada kedua orangtua saya..

23. "Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa) | namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan"

24. "Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur'an | namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan"

25. "sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya | namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan"

26. "sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur'an | dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa"

27. "dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (QS 19:33)

28. "kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya | juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim"

29. "sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa) | tidak mampu kami menyelesihi Isa"

30. sedang Isa bin Maryam berpesan | "sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku AlKitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi" (QS 19:30)

31. amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal | tidak juga mengucap selamat pada satu hal yang batil

32. kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan | bukan salam pada hari kelahiran Tuhan

33. begitulah saya jelaskan dengan baik | dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah

34. alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik | bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka

35. alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim | yang tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua

36. tiada kebencian pada orang selain Islam | justru karena sayang kita ingin mengajak mereka menuju cahaya Islam | termasuk orangtua saya

37. tidak pernah hubungan saya-ayah, saya-ibu lebih baik dari hari ini | bercanda bergurau, berkisah | tak pernah ada ini sebelum Muslim

38. Islam mengajarkan saya menghormati dan memuliakan orangtua sepenuh jiwa | maka tak pernah ada cerita mereka protes tentang toleransi

39. karena orangtua saya tahu persis hanya karena Islam saya bisa berkasih dengan mereka | Allah yang ajarkan saya menyayangi kedua orangtua

40. alhamdulillah, Allah memudahkan saya menjaga aqidah saya | bukan terombang-ambing tak jelas atas alasan toleransi

41. bila kita selalu baik pergaulannya setiap saat pada saudara kita non-Muslim | tidak mengucap Natal tak menjadi soalan dan masalah

42. alhamdulillah Allah sudah menunjuki kita Islam | mudah-mudahan kita selalu menjaganya | wallahua'lam

23 Desember 2013

Saat ini memang bener-bener kudu jaga asupan makanan, kalau perlu seminimal mungkin untuk makanan yang diolah dengan cara digoreng. Jadi, waktu itu saya mencoba untuk membuat garang asem. Saya belum pernah mencicipi makanan ini sebelumnya, hanya menyaksikannya saja dibeberapa acara kuliner di TV. Saat melihat host tersebut makan, wuiiiih.... kelihatannya enak banget, anget-anget, pedes, asam, dan suegeeer tentunya *bumil ngidam

Setelah googling, saya nemu berbagai macam resep garang asem dari berbagai daerah. Bahan utamanya juga tidak hanya ayam, tapi ada juga yang menggunakan daging sapi atau daging ikan. Bahan-bahan lain seperti bumbu, nggak ribet dan mudah ditemukan. Tapi, saya nggak pake giling-giling kecuali giling kemiri dan sedikit merica, yang lain saya iris-iris saja. Saya juga nggak pakai santan, cuma kemiri, karena selama hamil saya mendadak jadi nggak suka makanan yang bersantan.

Berikut bahan-bahannya:

  • Ayam (dipotong kecil-kecil)
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Tomat ijo atau belimbing wuluh
  • Serai (diiris tipis-tipis)
  • Daun salam (diiris)
  • Lengkuas (diiris)
  • Jahe sedikit (diiris)
  • Jeruk nipis
  • Kemiri
  • Merica
  • Garam
  • Gula pasir (saya nggak pake penyedap)
  • Daun pisang untuk mempungkus, lidi juga yah
Cara Membuatnya:
  • Ayam yang sudah dipotong kecil-kecil dicuci sampai bersih, kemudian lumuri dengan air perasan jeruk nipis. Diamkan selama 15 menit.
  • Siapkan bumbu-bumbu, seperti bawang merah dan putih, cabe merah, tomat ijo atau belimbing wuluh, serei, daun salam, lengkuas, dan jahe yang telah diiris-iris. Lalu campurkan dengan ayam dan kemiri juga merica yang telah dihaluskan. Beri garam dan gula pasir. (saya nggak pake ditumis)
  • Lalu bungkus campuran tersebut ke dalam daun pisang.
  • Kukus hingga matang
Alhamdulillah... jadi, rasanya juga uenaaaaak.... seger banget. Walaupun nggak pake santan, tapi terlihat seperti memakai santan, karena kemiri dan kaldu ayamnya. Nai juga doyan banget, karena nggak terlalu pedes. Besok kalau udah nggak hamil lagi, saya bakal bikin pakai cabe rawit hehehe...

Nah temans, maaf saya nggak pake takaran, tapi semakin banyak bumbu-bumbu yang kita gunakan, rasanya juga makin enak, apalagi gampang, cuma diiris-iris.




16 Desember 2013

Saya rasa, hampir setiap orang ingin memiliki sebuah hunian yang berhalaman luas. Tak hanya bisa dijadikan taman cantik yang penuh dengan aneka tanaman, tapi juga bisa menjadi tempat untuk diadakannya sebuah perhelatan. Tapi tentunya tidak semua orang bisa memiliki halaman tersebut. Saat ini bukankah ada gedung-gedung yang disewakan untuk menggelar sebuah perhelatan?. Benar sekali, tapi tidak semua orang memiliki finansial yang cukup untuk menyewa sebuah gedung ketika mereka hendak menggelar hajatan, seperti pernikahan, sunatan, atau hanya syukuran.

Sebenarnya bukan hanya masalah keterbatasan finansial, banyak juga yang beralasan bahwa mengadakan hajatan di rumah rasanya lebih nyaman dan berkesan. Tidak hanya itu, ada beberapa kalangan yang terkadang agak keberatan untuk menghadiri acara yang diadakan di gedung, entah karena kurang percaya diri atau alasan lokasi yang mungkin lebih jauh.

Alhasil, saat ini kita sering menemukan tenda-tenda yang berjejer hingga ke jalan umum. Beberapa meter sebelum dan sesudah jalan, dibuatlah palang khusus yang menandakan bahwa jalan untuk sementara tidak bisa dilewati. Sebagai pengendara yang hendak lewat, tentu terkadang terselip rasa kesal, karena itu berarti harus memutar arah kembali mencari jalan lain.

Weekend kemarin, saya menghadiri sebuah undangan pernikahan. Untung saja tuan rumah memiliki halaman samping yang luas, sehingga tidak menggunakan jalan umum. Tapi saya nggak kebayang deh, kalau seandainya jalan umum digunakan, orang-orang daerah sana mau lewat mana, karena jalan itu satu-satunya akses untuk masyarakat sekitar sana. Belum lagi lokasinya tidak jauh dari daerah aliran sungai (DAS), yaitu sungai Sail.

Di musim penghujan saat ini, bisa dipastikan debit air sungai akan naik bahkan berlimpah hingga mencapai jalan.  Pemandangan tersebutlah yang saya saksikan di lokasi pesta pernikahan. Belum lagi, jalanan menuju ke sana banyak digenangi air yang lumayan tinggi. Walaupun demikian, berhubung hari itu cuaca lumayan cerah, saya menyaksikan para undangan tetap ramai berdatangan.

 Di belakang papan karangan bunga itu sungai Sail


Jalan yang tergenang air

14 Desember 2013

Hidup itu seperti sinetron yah atau sinetron itu merupakan refleksi dari kehidupan?. Jangan lebay deh, jangan jadi ratu drama, sinetron yah sinetron. Eits, tapi apa nggak mungkin bahwa cerita yang terjadi di dalam sinetron tersebut, pernah terjadi juga dikehidupan nyata?. Bahkan bukannya banyak juga yang melabeli berdasarkan kisah nyata. Bagi saya pribadi nih, ada beberapa hal yang dulunya saya yakini cuma terjadi di sinetron atau film, eh ternyata ada juga di kehidupan nyata. Misalnya nih, orang kaya yang bangkrut dan dalam sekejap jadi melarat. Saya berpikir, masa sih langsung melarat dan hidupnya susah gitu, nggak punya aset lain apa, nggak punya saudara buat bantuin, dan sederet pernyataan ketidakpercayaan lainnya. Trus, ada orang yang jahatnya ampun-ampunan, ada yang jadi ratu dan raja tega, ada yang cintanya cinta buta sampai cinta mati, dll.

Oke deh, sekian dulu ngomongin sinetron, ntar saya dikira Ummi-ummi doyan nonton sinetron lagi. Jadi, sebenarnya mau bahas apa sih?. Oke deh, jadi begini temans. Saya sudah menuntaskan membaca sebuah novel apik duet dari 2 orang sahabat maya saya Mbak Rantau Anggun dan Mbak Binta Al-Mamba, yang berjudul Teatrikal Hati. Nah, di novel ini ada sosok-sosok yang rasanya nggak bisa dipercaya buat kita temui juga di dunia nyata, seperti halnya pembahasan sinetron tadi. Memangnya sosok yang seperti apa sih?, sosok tersebut adalah sosok perempuan yang kesabarannya luar biasa, sosok ayah dan suami yang kejam, sosok pasangan suami istri yang pernikahannya "hambar", sosok seorang perempuan yang trauma berat akan kejadian di masa lalunya, dan sosok perempuan yang mampu memendam perasaannya.

Biasa aja?, tapi menjadi luar biasa saat dideskripsikan dengan elok di novel yang berjumlah 342 halaman ini. Bagaimana tidak, novel ini menceritakan 4 orang wanita hebat dari generasi yang berbeda, lengkap dengan dinamika kehidupannya, ada mimpi, cinta, obsesi, dedikasi, dan lika-liku perjalanan nurani. Namun, memiliki sebuah benang merah yang berupa pertalian darah dan sejarah hidup.

Banyak hal yang bisa kita ambil ibrahnya dari novel yang dilabel novel islami ini. Bagaimana pengorbanan seorang ibu, bagaimana wanita bisa menjadi sosok yang sangat kuat, tentang kesabaran dan berbaik sangka atas semua kehendak Allah, bagaimana bisa ikhlas dalam menjalani hidup dan melupakan trauma masa lalu, juga yang tak kalah penting dan begitu saya "amini" adalah bagaimana penggambaran sebuah perusahaan perfileman yang begitu idealis dengan mengusung nilai-nilai kepatutan moral. Semoga perusahaan seperti yang digambarkan di novel tersebut juga ditemukan di dunia nyata, bukan fatamorgana.

Judul      : Teatrikal Hati
Penulis   :  Rantau Anggun dan Binta Al-Mamba
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tahun    :  2013







Siapa sih orang yang selama hidupnya nggak pernah ketemu dengan yang namanya masalah. Setujukah temans kalau saya katakan bahwa tidak ada orang yang memiliki masalah lebih berat antara satu dengan yang lainnya?. Mungkin temans ada yang ngangguk-angguk tanda setuju, geleng-geleng nggak percaya, atau datar aja nggak ada ekspresi apapun. Bagi yang setuju, mungkin sudah acap kali mendengar kalimat bahwa Allah itu memberikan cobaan sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya (QS Al Baqarah ayat 286). Bagi yang nggak percaya, maka kudu percaya deh. STOP buat merasa menjadi manusia yang paling menderita di dunia.

Allah SWT berfirman : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . (QS al-Baqarah [2] : 155-156)

Setiap kita pasti diuji, dicoba, ditimpa permasalahan, namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Mengeluh, meraung, meratapi nasib, tidak akan mengubah keadaan, bahkan sekalipun Anda berharap bisa pindah hidup ke Mars sana. Lalu apa yang harus kita lakukan?. Ternyata Allah nggak nyuruh kita untuk jumpalitan, nyari orang pintar, orang kuat, atau orang kaya dan berharap agar mereka bisa membantu untuk menyelesaikan permasalahan kita.

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah: 45-46)

Ya, sabar dan shalat. Tiada satupun makhluk yang bisa memberikan kita bantuan, jalan keluar, tanpa adanya ijin dari Allah. Maka, berhentilah untuk bergantung kepada makhluk. Allah yang telah meletakkan perkara atau mentakdirkan, tiada satupun yang bisa mengubah atau mengangkat permasalahan tersebut selain atas ijin dan bantuan Allah. Benarlah adanya, bahwa permasalahan dan jalan keluar itu, jaraknya sejauh kening dan tempat sujud.

Temans, kita bisa begitu sabar, ikhlas, dan bersyukur atas gunungan kenikmatan yang telah Allah berikan, tapi sulit bahkan tidak bisa untuk menerima dengan sabar, ikhlas, dan syukur atas gunungan permasalahan. Padahal, Allah mencintai kita dengan caraNya sendiri. Bisa jadi Allah merindukan kita untuk bersujud, merendahkan diri, bermohon, memuji dan membesarkan namaNya. Mungkin saja, hari-hari yang kita jalani dipenuhi dengan kesombongan akan kemampuan diri, tidak melibatkan Allah dalam setiap urusan.

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu Tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)

Bersabarlah, bertawakallah, dan tetap berbaik sangka kepada Allah. Sungguh Allah lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi kita. Rangkaian permasalahan yang kita hadapi merupakan sarana pembuktian keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Pengakuan kita atas keimanan yang membutuhkan sebuah pembuktian (QS. Al Ankabuut : 2). Sekalipun permasalahan tersebut ada sebagai teguran atas kelalaian kita. Maka, bertawakallah dan yakin bahwa dibalik satu kesulitan, Allah berikan untuk kita 2 kemudahan (QS. Alam Nasyrah :5-6) .


*Reminder



10 Desember 2013

"Hidup itu nggak usah terlalu ngoyo, jalani aja apa yang bikin Allah Ridho"


Kalimat di atas sering saya ulang-ulang saat rasa kesal mulai datang menggerogoti perasaan. Kesal kenapa sih?. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya tentang kondisi hamil kedua saya ini, ada banyak hal yang akhirnya harus disingkirkan, yaitu ego, ambisi, dan rasa keki. Sempat terlintas dibenak saya, kenapa sih saya maboknya kok parah banget?, dulu waktu hamil Nai nggak gini-gini amat. Seharusnya saya masih bisa nulis, menghadiri undangan untuk jadi pembicara di seminar-seminar, atau hanya sekadar bisa mengerjakan pekerjaan domestik.

Saya yang dalam kondisi fisik ngedrop, tambah ngedrop lagi. Suami yang sepertinya mengetahui apa yang sedang saya pikirkan akhirnya buka suara. Suami bilang, saat ini saya hanya harus banyak-banyak bersyukur atas kehamilan saya bagaimanapun kondisinya, menjadikannya prioritas teratas, dan mengesampingkan sejenak yang lainnya, sampai fisik saya membaik. Jangan sampai saya menzholimi diri saya dengan berbagai pikiran-pikiran yang akhirnya hanya membuat kondisi saya semakin ngedrop.

Alhamdulillah... sejak itu, saya jadi lebih legowo. Semakin bersyukur karena suami begitu pengertian dan turun tangan untuk pekerjaan-pekerjaan domestik. Saat kondisi tubuh saya lumayan baik, saya masih bisa menghadiri undangan untuk talkshow on air di RRI Pro 1 Pekanbaru. Untung saja saya ngocehnya nggak sendirian, dan waktunya kurleb sejam saja. Kalau nggak saya bisa tepar di sana hehehe...

Berhubung waktu itu saya nggak bisa nulis di blog, saya copy aja yah cuap-cuap saya yang sebelumnya sempat saya share di twitter

Hai... Siaaaang tweeps... Udah pada maksi belom? :)

Td sy on air di RRI Pro 1 Pekanbaru FM 99,1 MHz dlm program JELITA (Jendela Kita) tp lupa woro-woro nih. Tp nggak papa, sy share aja yak :)

Program tersebut rutin diadakan tiap hari selasa jam 9.30, selama sejam, dgn menghadirkan narsum seorang psikolog yg concern sm dunia remaja

Nah, td sy diundang sbgi slh satu narsum utk mengupas tentang buku duet sy dgn mbak yg berjudul

Klop bgt, karena dikupas secara mendalam olh seorang psikolog yg concern dgn dunia remaja, Pak Yanwar, M.Psi

Menurut beliau, buku pas bgt utk membantu\membimbing para remaja dlm proses pengenalan\ pencarian jati dirinya

Menemukan potensi diri, membantu dlm merencanakan cita2, memanfaatkan waktu scr baik, dan nggak gampang galau

Jd, buku bs membuka mata remaja bagaimana menjadi remaja yg KEREN, UNGGUL, dan NGGAK GALAU :))

Td, byk juga yg ikt berpartisipasi via tlpn dan mengajukan pertanyaan2. Ada ibu rumah tangga sampai budayawan di Riau :))

Mereka sgt mengapresiasi buku sbgi slh satu bntk partisipasi dan kepedulian kami (penulis) terhadap dunia remaja.

Buku sebagai salah satu bacaan bermutu untuk remaja yg juga perlu dibaca oleh para orang tua :))


Knp ortu harus baca? Agar ortu juga paham bagaimana dinamika masa remaja dan cara menghadapi remaja dgn sgl pemikirannya.

Krn sbgi ortu byk juga yg ngeluh, membanding2kan ms remajanya dl dgn remaja2 saat ini yg menurut mrk trdapat GAP

Nggak sdkt juga yg merasa sulit brkomunikasi dgn remaja, lalu fokus menyalahkan penyimpangan prilaku remaja tnp flashback kmgkn penyebabnya

Pdhl, prilaku remaja merupakan akumulasi pengalaman yg diperolehnya dr ortu dan lingkungan sktr smnjk ia msh kcl

Mk, pntg bg kita para ortu utk menanamkan nilai2 baik sejak dini, spiritual, menjadi shbt juga regulator, upgrade sll pengetahuan parenting.

So, yg penasaran dgn buku utk di Pekanbaru ada di pada rak psikologi remaja yah. Met hunting :))

Bg yg mau ngundang sy ke sklh, kampus, or acara komunitas, sy siap utk berbagi. Utk Pekanbaru sekitarnya. Kepri sila hub mbak

Semoga bermanfaat yah *promo terselubung :D

O yah, sayang saya lupa buat foto-foto *biasanya narsis :D


Udah Desember aja yah temans... Bulan ini intensitas hujan semakin tinggi. Di beberapa kota bahkan sudah didatangi tamu yang secara nggak sadar "diundang", yaitu banjir. Termasuk di kota saya Pekanbaru. Ada beberapa titik yang banjirnya lumayan, lumayan harus mengungsikan barang-barang beserta empunya. Ada juga yang hanya berbentuk genangan air, yang kalau penggunakan kendaraan bermotor roda dua tetap nekat melewatinya, alamat basah deh tu busi. Sebelumnya, alternatif jalan masih lumayan banyak, tapi karena kebanyakan tergenang air, jadi otomatis semua melewati jalan yang sama. Akibatnya, terjadi kemacetan yang lumayan parah. 

Bulan Desember ini juga menyadarkan saya, bahwa udah lama saya nggak posting tulisan di blog ini. Rasa kangen itu ada, kuat banget malah, karena nggak cuma posting blog, saya udah hampir 2 bulan juga nggak ada nulis sama sekali, selain nulis di twitter. Padahal, saya masih punya hutang naskah ke penerbit. Tapi apa mau dikata, kondisi saya sedang nggak fit. Saya kebanyakan hanya terbaring di atas tempat tidur dengan pemandangan tembok-tembok kamar saja. Sakit apa? banyak yang pada nanya, saya nggak sakit, cuma lagi mabok ajah hehehe... iyaaaa... Alhamdulillah saya hamil lagi. Ini calon anak kedua saya.

Kondisi saya saat ini hyper emesis. Walaupun udah minum obat mual, mual dan muntah tetep aja, bisa berkali-kali. Kondisi saya jadi ngedrop, tiap makan habis itu muntah. Jangankan makanan, minum juga keluar. Tapi saya tetap berusaha untuk makan lagi, perbanyak minum, supaya nggak dehidrasi apalagi sampai nginep di rumah sakit, jangan deh.

Dulu waktu hamil Nai saya juga mabok, tapi nggak terlalu. Saya masih bisa mengajar, nyambil kuliah, juga mengerjakan pekerjaan rumah. Sekarang, saya udah nggak ngajar lagi dan aktivitas hampir 100% di rumah saja, tapi maboknya luar biasa. Begitulah, tiap kehamilan beda-beda yah. Saya nikmati aja masa-masa ini. Sudah 4 tahun sejak saya hamil Nai dan saya baru merasakannya kembali sekarang.

Saya mohon do'a temans semua semoga saya dan janin saya (11 minggu) diberikan kesehatan hingga persalinan nanti, saya diberikan kemudahan dan kekuatan dalam menjalani kehamilan ini. Pokoke do'a terbaik deh. Insya Allah, saat kondisi saya fit, saya akan lebih rajin posting tulisan di blog ini, setidaknya tentang pengalaman hamil kedua saya ini, siapa tahu bermanfaat bagi ibu-ibu hamil atau yang tengah berikhtiar untuk hamil ^_^


 Nai waktu masih baby, kangeeeen

17 Oktober 2013

Pernah nggak sih ngalamin kehilangan sebuah benda, tapi akhirnya menemukannya kembali. Mungkin pernah yah, gimana kalau itu terjadi berkali-kali dengan benda yang sama?. Nah, itulah yang saya alami, mungkin karena memang masih rezeki yah, anting saya yang sebelah kanan ini berkali-kali lepas dan hilang. Alhamdulillah, nggak lebih dari 3 hari, nemu kembali.

Anting tersebut tekadang saya temukan kembali di kamar tidur (di atas tempat tidur dan kolong), di kamar mandi, di ruang pakaian, di ruang tamu, bahkan dapur. Jadi, kalau saya ngadu ke suami bahwa anting saya hilang, suami cuma bilang ntar juga bakal ketemu lagi. Yah itu tadi, memang masih rezeki, anting itu kembali ditemukan. Bukan karena hal yang aneh-aneh.

Pernah sih terpikirkan untuk membuka saja anting tersebut, habisnya rada kesel juga karena sering hilang. Tapi sayang, anting itu pemberian suami dan selama ini cuma anting itu yang awet saya gunakan. Maksudnya, sebelum anting ini, saya memang seringkali kehilangan anting sebelah. Akhirnya yang sebelah lagi dijual. Untuk anting yang sekarang, menurut saya modelnya pas dan antingnya nyaman dipakai.

Gimana dengan temans, punya pengalaman yang sama?

12 Oktober 2013


Dear... Khansa Nailah


Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi.

Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, 20 kg. Bagi keluarga Ummi, Nai calon cucu pertama, jadi sangat dimanja banget. Ummi pengen apa, langsung diberi, makan Ummi jadi nggak terkontrol. Ummi yang dulu termasuk kurus, jadi terlihat sangat berbeda. Nai, seharusnya Ummi masih menikmati masa mengandungmu selama beberapa minggu lagi. Tapi, ternyata kamu harus lahir. Hiks... bagian ini nih yang selalu bikin Ummi mewek...

Malam itu, saat konsultasi dan pemeriksaan rutin di dokter kandungan, Ummi mengeluhkan bahwa Ummi sering merasa sakit kepala, sesak saat bernafas, dan susah tidur. Dokter mengatakan bahwa itu hal yang wajar seiring dengan kandungan yang semakin membesar. Tapi Ummi merasa berbeda, tekanan darah Ummi naik drastis di usia kandungan 7 bulan, padahal sebelum hamil Nai, tekanan darah Ummi cendrung rendah. Dokter meminta Ummi untuk diet garam, tetap tenang, dan jangan terlalu capek. Dokter juga memberikan vitamin dan obat agar Ummi menjadi lebih baik. Tapi Nak, malam itu Ummi tetap nggak bisa tidur. Jam 4 dini hari, Ummi membangunkan Abi mu. Abi panik, tapi Ummi bilang masih bisa menahan rasa sakit yang teramat sangat di kepala hingga tengkuk Ummi. Akhirnya, jam 6 pagi, Abi menghubungi dokter kandungan.

Sesampainya di Rumah Sakit, Ummi diperiksa. Namun kondisi Ummi memburuk, gerakanmu juga lemah. Akhirnya diputuskan bahwa Ummi harus dioperasi. Di usia kandungan Ummi yang ke 37 minggu. Saat itu, Ummi mendengar tekanan darah Ummi sudah 170/100 an (lupa). Sampai-sampai penglihatan Ummi terganggu, semuanya terlihat kabur. Tepat pukul 11.15 WIB kamu lahir, Nak. Ummi hanya mendengar nyaring suara tangisanmu. Setelah itu Ummi tak sadarkan diri. Saat Ummi sadar, Ummi ternyata sudah di kamar pasien. Di sana sudah ramai orang yang menjenguk Ummi. Tahu kah Nak, yang sangat menyedihkan buat Ummi, saat kamu diantar ke kamar dan Ummi tak mampu melihat wajahmu dengan jelas. Penglihatan Ummi masih terganggu.

Selang beberapa saat, tiba-tiba Ummi kejang Nak.  Pandangan Ummi gelap, Ummi kesulitan untuk bernafas. Satu ruangan panik, Oma mu pingsan. Tapi pendengaran Ummi masih jelas, Ummi mendengar bagaimana Opa mu, Abi mu, dan perawat yang panik, memanggil-manggil Ummi. Saat itu, rasanya Ummi sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan. Ummi hanya melafazkan Asmaul Husna, yang entah bagaimana bisa terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar Ummi. Sampai akhirnya Ummi koma.

Nak, Alhamdulillah... Allah masih memberikan Ummi kesempatan untuk hidup, untuk bisa merawatmu, membesarkanmu. Saat itu, setelah bangun dari koma, Ummi mendapati diri Ummi di ruang ICU dan dipasangi berbagai alat yang hanya pernah Ummi saksikan di film atau sinetron. Rasanya, sangat sulit Ummi ungkapkan tapi Ummi merindukanmu, ingin mendekapmu. Bahagia rasanya saat kembali ke ruang pasien, Ummi bisa memelukmu, menyusuimu. Kendati masih belum bisa melihat dengan jelas wajahmu. Penglihatan Ummi terganggu sampai kurang lebih 2 bulan Nak.

Ternyata, perjuangan Ummi belum usai. Karena kondisi Ummi saat itu, ASI Ummi sempat membatu, rasanya sakit sekali. Ummi jadi panas tinggi, dan dikhawatirkan akan kejang kembali. Kita terpaksa berpisah lagi Nak, Ummi harus rawat inap lagi dan mengikuti terapi. Setelah kondisi Ummi membaik, Ummi masih diuji Nak, bekas operasi Ummi bocor, Ummi harus perawatan lagi. Allah benar-benar sayang yah sama kita, Ummi benar-benar ditempa agar bisa menjadi Ibu yang kuat. Alhamdulillah kita bisa melaluinya dengan baik. Nai tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan bisa ASI hingga usia 2 tahun. Ternyata, waktu itu Ummi terkena preeklamsi yang berakhir menjadi eklamsi.

Nai, saat itu akhirnya Ummi memutuskan untuk resign mengajar. Kendati banyak orang yang menyayangkan, mengapa Ummi tidak bekerja. Ummi memilih untuk di rumah saja, merawatmu. Bahkan sampai sekarang Nai bisa ngomel kalau dengar Ummi mau kerja lagi, Nai bilang selalu butuh pelukan Ummi. Jadi, untuk nulis pun, Ummi harus kompromi dulu dengan Nai. Bagi Ummi, memilikimu adalah anugerah luar biasa, kesempatan hidup yang diberikan Allah. Ummi berusaha untuk mendidikmu dengan baik, Nak. 


Sekarang, Nai sudah 4 tahun. Lincah, banyak tanya, dan nggak bisa berhenti buat ngomong. Nai suka buku, pandai mengarang cerita fabel, dan ringan lisan untuk mengucapkan kata "terima kasih" dan "maaf". Nai semangat menghafal ayat Al-Qur'an, dan selalu bangga dengan kerudungnya. Nai selalu bilang, ingin terus terlihat cantik seperti Ummi, padahal Nai jauuuuh lebih cantik dari Ummi, Nak. Ummi selalu bangga dengan Nai, semoga demikian juga dengan Nai, terlepas dari kekurangan Ummi saat mendidikmu, tapi Ummi selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu.

Sampai di sini dulu yah Nai, Air mata Ummi sudah menetes, tapi Ummi berhasil juga menuliskannya. Terakhir, mengapa Khansa Nailah, Khansa itu nama pemberian Ummi, Ummi ingin kamu menjadi seperti Al-Khansa binti Amru, ibu para Syuhada, pejuang muslimah, yang baik akhlaknya. Sedangkan Nailah itu pemberian Abi, Abi ingin kamu menjadi anak yang suka memberi, gemar bersedekah. Semoga Allah mengabulkan harapan Ummi dan Abi.


Saya menerima tongkat estafet dari Mbak Binta Al- Mamba, yaitu proyek #DearDoughter yang digagas oleh Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Selanjutnya, saya serahkan tongkat estafet ini ke Ummu Nazma Hermawan.

7 Oktober 2013

Seperti judulnya, postingan ini cuma dokumentasi dari acara Kitab Sakti Remadja Oenggoel Goes To School yang di adakan di SMP IT Al-Fatah Minas beberapa minggu yang lalu. Acara tersebut diliput oleh koran Riau Pos dan terbit pada tanggal 2 Oktober di bagian Pro Siak. Cuma saya agak sedikit heran, kok foto yang ini yah yang diambil hehehe... *tampak dari belakang pas jadi seleb yang lagi sibuk tanda tangan :)


Minggu pagi, saya dan suami berencana untuk menghadiri Panggung Solidaritas Untuk Dunia Islam yang diadakan di area car free day (CFD). Tapi, Nai malah minta ke Masjid Agung An-nur aja. Saya udah pernah posting tentang bagaimana aktivitas di Masjid Agung pada minggu pagi. Jadi, Nai mau ke sana dan menurut kami nggak masalah ke sana dulu baru ke CFD. Toh acaranya mulai dari jam 6 sampai jam 9 pagi.

Jam 8, setelah ke Masjid Agung, kami menuju CFD. Ternyata di sana ada 2 event, yaitu Panggung Solidaritas dan acara yang diadakan oleh Pocarri Sweat. Jadinya pas dengar pengeras suara, rada nyampur. Tapi, acara Panggung Solidaritas lebih rame. Pengunjung yang datang mulai dari masyarakat awam, anak-anak sekolah, dan juga elemen masyarakat lainnya. Ada yel-yel, bendera, dan takbir. Semua mengikuti dengan semangat. Bahkan menurut info dari twitter Kilas Riau, terkumpul dana sekitar 112 juta di acara yang turut dimeriahkan oleh penyanyi Opick dan nasyid dari Izzatul Islam. Dana tersebut akan disalurkan untuk Mesir.





Nai dengan Bendera Indonesia dan Mesir





Dear... Ibu...
Tak akan habis bahan untuk membahas semua tentangmu bu, perempuan terhebat di dalam hidup saya. Tapi, kali ini saya tak hendak mengungkapkan apapun selain rasa cemburu yang saya rasakan selama ini. Ya, cemburu bu, sungguh, rasanya itu sangat menyebalkan. Ibu tentu ingat, saat kita pergi berbelanja bersama, selalu saja karyawan toko atau SPG mengira bahwa kita adalah kakak adik. Oh... sungguh, rasanya ada sedikit kebanggan tapi lebih dominan rasa kekecewaan. Terlebih, Nai, cucu ibu satu-satunya dianggap sebagai anak ibu, padahal Nai kan anak saya.

"Burung kakak tua...
Hinggap di Jendela...
Oma belum tua...
Giginya cuma ompong duaaaa..."

Nah, Nai juga sering menyanyikan lagu itu bu, lagu yang liriknya diubah sendiri oleh Nai. Ia juga sering bertanya kepada saya, mengapa omanya nggak tua seperti nenek teman-temannya, kapan omanya bakal tua. Haduuuuh... gimana yah ngejawabnya. Terkadang, saya jadi sering ngaca. Apa saya yang terlihat ketuaan dan ibu yang tetap terlihat awet muda?. Eh, tunggu dulu, saat orang-orang mengira Nai anak bungsu ibu dan saya adalah adik ibu, itu berarti mereka juga mengira bahwa saya masih anak gadis yak hehehe... *tersadar :D

Ibu bilang, ayolah... jangan terlalu serius dalam memandang hidup. Dulu, saya nggak begitu paham apa maksud ibu. Hidup bagi saya, yah memang harus serius dijalani, toh ini hidup saya, hidup yang hanya sekali saja, yang menentukan posisi saya di kampung akhirat kelak. Tapi ternyata, maksud ibu adalah bahwa kita harus selalu move on, nggak usah larut saat menghadapi suatu masalah. Sejatinya, hidup itu memang gudangnya masalah, kita hanya berpindah dari masalah satu ke masalah lainnya. Pikirkanlah apa yang memang harus kita pikirkan, jangan membebani pikiran dengan hal-hal yang tidak seharusnya kita pikirkan.

Hmmmm... bener juga, ibu tahu bahwa saya terkadang memang suka berpikir rumit, padahal masih bisa disederhanakan. Menantu ibu juga bilang begitu, saya ini sangat mudah untuk "kepikiran". Salut, saya dan ibu sangat berbeda, ibu seorang wanita karier, sedangkan saya Ibu rumah tangga, ibu membesarkan kami (saya dan 3 orang adik laki-laki saya), sedangkan saya baru seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Bagaimana bisa dalam kehidupan sehari-hari saya lebih galak dan cerewet dari ibu hehehe...

Baiklah, bu. Saya akan berusaha untuk selalu memperbaiki diri. Berdamai dengan perasaan cemburu, lalu menaikkan kadar rasa bangga bahwa Alhamdulillah... kalau orang beranggapan ibu saya awet muda.

Ibu dan teman kantornya
yang usianya lebih muda dari saya


Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway #DWTBAM

5 Oktober 2013

Siang itu, kami tengah berada di sebuah Supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Saya sibuk melihat-lihat produk makanan, sedangkan Nai dan suami saya sedang asyik di area elektronik. Supermarket siang itu tidak terlalu ramai, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari saya tersenyum manis, dengan pandangan dingin, saya lalu memalingkan wajah. Lalu iseng, saya melihat lagi ke arahnya, dan ia pun kembali tersenyum. Dengan perasaan kesal, saya buru-buru pergi ke rak lainnya. Ngapain coba itu bapak-bapak pakai senyum-senyum segala ke saya!.

Setelah mengecek keranjang belanjaan dan memastikan semua barang yang saya butuhkan telah lengkap, saya lalu menyusul suami. Astaga! ternyata suami sedang asyik ngobrol dengan laki-laki yang tebar senyuman ke saya tadi. Begitu melihat saya, suami lalu pamitan dan lagi-lagi laki-laki itu tersenyum ke arah saya. Masih dengan pandangan dingin dan bibir yang sama sekali tidak mengembang ke samping, saya pun berlalu.

Sesampainya di rumah, saya tanya kepada suami siapa laki-laki yang ngobrol dengannya di Supermarket tadi. Spontan suami menyentuh kening saya dengan punggung tangannya, lalu bilang "ummi sehat kan?." Saya makin kesel, tapi dengan pandangan geli, dia akhirnya mengatakan bahwa yang tadi itu Pak RT kami. Gubraaaaak! Pak RT? ya ampuuuuun... saya memang parah banget yah ingatannya. Suami maklum, karena istrinya ini memang rada susah untuk mengingat wajah orang, terlebih buat yang jarang-jarang ditemui, berubah dikit penampilan atau model rambut aja, saya bisa nggak ngenalin.

Di waktu yang lain, saat kami sedang bepergian, suami saya itu paling senang lewat jalan motong, alasannya untuk menghindari lampu merah dan kemacetan. Nah lagi-lagi nih, saya orang yang rada sulit untuk mengingat jalan, tahunya yang lurus-lurus aja. Isengnya, suami malah lewat jalan yang berbeda saat pergi dan pulangnya. Trus dengan teganya dia bilang "Kalau ummi Abi tinggalin Di sini, bisa pulang nggak?." Ya bisa dong, segitunya banget, saya tinggal tanya orang lain ini jalan apa, trus telepon taksi deh, bereskan.

Begitulah, kalau suami isengnya lagi kumat. Tapi, lain hari saya balas keisengannya itu dengan menemani saya berbelanja. Bisa dibayangkan gimana mak-mak kalau lagi belanja, dengan penuh semangat dan nggak capek, jalan ke sana-ke sini trus balik lagi. Sedangkan suami, dengan wajah yang nyaris putus asa akhirnya mengibarkan bendera putih juga hehehe... dengan sebelnya, suami bilang "Ummi kalau diajak jogging kebanyakan ngelesnya yah, tapi kalau belanja gini, sanggup." Wah, bener juga yah, ini malah olahraga yang menyenangkan, tapi bagi suami menyengsarakan, udah capek, duit banyak habis lagi hihihi...

Itulah contoh keisengan kami, yang tetap berujung pada kesadaran bahwa kami memang berbeda, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tanggal 10 nanti, pernikahan kami genap 5 tahun (separuhnya pernikahan Mbak Uniek :D). Selama menjalaninya tentu ada suka dukanya yah, Alhamdulillah lebih banyak sukanya :) Tapi nggak ada salahnya untuk saya share beberapa hal yang selalu saya tanamkan di dalam hati, yaitu:
  • Sebelum menikah, yang menjadi pusat perhatian seseorang adalah dirinya sendiri (egosentris). Namun setelah menikah, tidak ada lagi kata “aku” melainkan “kita”. Apabila selama ini kita hanya memikirkan kebutuhan dan keinginan diri kita sendiri, sekarang adalah kebutuhan dan keinginan bersama yang harus dipenuhi.
  • Kita tidak lagi berjalan sendirian. Ketika kita telah terikat dalam sebuah pernikahan, itu berarti bahwa kita telah sepakat untuk menjadikan seseorang (suami) menjadi bagian dari hidup kita. Kita harus menyediakan tempat bagi sebuah hati, kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya seenak hati saja, karena ada hati lain yang harus kita jaga.
  • Kita tidak lagi seorang diri, ada sisian keseharian yang akan berbagi kehidupan dengan kita. Kita harus memahami bahwa bukan hanya keinginan kita semata yang harus selalu dituruti. Melainkan ada saatnya kita harus mengubah sesuatu demi menampung aspirasi pasangan. Melakukan segala sesuatu dengan ikhlas demi bahu membahu untuk mewujudkan tujuan bersama dalam mengarungi bahtera pernikahan.
  • Lelaki dan perempuan adalah dua makhluk ciptaan Allah yang memiliki berbagai perbedaan. Bukan sekedar berbeda secara fisik saja, melainkan juga cara berpikir, berkomunikasi, memandang suatu masalah, memahami, bereaksi atas suatu kejadian, memberikan penghargaan, bahkan bagaimana cara menunjukkan perasaan sayangnya kepada pasangan. 
  • Segala perbedaan peran yang ada, bukan berarti bahwa salah satu pihak menjadi lebih unggul atau lebih baik dari pihak yang lain, karena suami dan istri adalah partner. Suami dan istri harus bersinergi untuk bersama-sama mewujudkan sebuah pernikahan yang Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah. 
  • Lelaki yang menikahi kita adalah seseorang yang telah kita terima untuk menjadi bagian dari diri dan hari-hari kita. Ia adalah manusia, sama halnya dengan kita. Maka, kita harus siap menanggung risiko the dark side of human kind
  • Sebagai seorang istri, kita kerap kali beranggapan bahwa ketika sudah hidup bersama, suami akan mengerti dengan sendirinya mengenai apa yang kita inginkan. Padahal, kita dan suami memiliki cara berpikir yang berbeda, jalan berpikir yang tidak sama. Oleh karena itu, jangan berpikir menurut cara berpikir kita. Suami kita tetap seorang manusia biasa yang tidak mengetahui apa saja yang tersimpan di dalam hati. Bahkan sesuatu yang menurut kita tampak begitu jelas, bisa jadi menurut suami tidak. Sebaiknya kita menyampaikan secara langsung mengenai apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita suka dan apa yang kita inginkan dari suami. Intinya adalah dengan membuka ruang komunikasi selebar mungkin.

Menikah bukan sekedar memiliki seseorang yang akan menjadi sisian keseharian,
Menikah berarti juga berjalan bersisian dan bergandengan tangan
Bersama menggapai SAMARA
(Oci YM)

Untuk Mbak Uniek dan Suami, Barakallah... semoga menjadi keluarga SAMARA sampai akhir masa. Segala kebaikan tercurah untuk Mbak sekeluarga.

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine.