22 Desember 2012

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.

Bersama Ust. Arifin Ilham

Namanya Muhayat, tapi orang-orang biasa memanggilnya dengan ustadz Muhayat. Saya pertama kali berkenalan dengannya saat suami bersama beberapa orang temannya tengah merintis Rumah Tahfisz Ababil di Pekanbaru. Rumah Tahfisz Ababil adalah perpanjangan dari Rumah Tahfisz Daarul Qur’an yang didirikan oleh ustadz Yusuf Mansyur. Rumah pembibitan penghafal Al-Qur’an.

Saya dan teman-teman saat belajar menghafal Al-Quran bersamanya


Ustadz Muhayat adalah salah satu calon guru pengajar waktu itu. Penyandang disabilitas ini adalah seorang hafidz Qur’an, kendati ia tuna netra. Subhanallah… rasanya luar biasa saat menjadi salah satu murid yang bisa duduk melingkar dan belajar menghafal Al-Qur’an bersamanya. One day one ayat, metode inilah yang diterapkan di Rumah Tahfidz Ababil. Jadi, tidak hanya anak-anak, siapapun bisa belajar menghafal Al-Qur’an di sini. Hapalan pertama kami adalah surat Ar-Rahmaan. Ustadz yang humoris ini melantunkan ayat-ayat tersebut dengan begitu indah.
 
”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.” (QS. Ar-Rahmaan (55) 18). 


Salah satu hal yang menarik dari surat Ar-Rahmaan ini adalah adanya pengulangan satu ayat di atas sebanyak 31 kali. Subhanallah...  maka nikmat Tuhan manakah yang kita dustakan. Kita yang telah diberikan kesempurnaan fisik dan akal, kita yang menjalani hari dengan begitu banyak kemudahan, kita yang telah memiliki kecukupan, dan sederet nikmat lainnya. Sungguh.. kita tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Lantas, sudahkah kita bersyukur?.

Lantunan do'a dari Ustadz Muhayat saat milad Nailah yang kedua dulu

Hmmm… begitu banyak orang-orang menakjubkan yang bisa ditemui di sekitar kita. Begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil dari berbagai kejadian yang ada. Kehidupan memberikan ruang yang sangat luas agar kita bisa selalu belajar tentang banyak hal. Termasuk saat saya menghadiri buka bersama dengan para penyandang disabilitas, pada bulan Ramadhan kemarin.
Saat berada di tengah-tengah mereka, sungguh saya merasa sangat beruntung sekaligus merasa kurang bersyukur selama ini. Kenapa demikian? Ya, perasaan itu hadir karena saya tengah berada diantara orang-orang penyandang disabilitas, mayoritas pada saat itu adalah tuna netra. Orang-orang yang tidak mampu menikmati keindahan dunia lewat matanya, tidak melihat cahaya, tidak melihat indahnya pelangi, tidak melihat cantiknya alam, tidak melihat tingginya gedung-gedung buatan manusia yang menjulang, bahkan tidak bisa melihat bagaimana rupa orang-orang yang mereka cintai. 

Nah, komunitas ini terbentuk agar mereka para penyandang disabilitas dapat saling berbagi, saling menguatkan, dan untuk dapat menginspirasi orang-orang di sekitar bahwa hidup dapat berjalan dengan baik sekalipun  kita memiliki keterbatasan fisik. Bahkan, sekalipun mereka tidak dapat melihat ayat-ayat Allah yang tertulis indah di dalam Al-Quran, tapi mereka mampu menghapalnya, melebihi kebanyakan orang yang memiliki penglihatan sempurna seperti kita. Mirisnya, di rumah kita mungkin Al-Quran hanya dijadikan sebatas pajangan, berdebu, tanpa disentuh untuk dibaca apalagi dihapal, bahkan ada yang menjadikan lembaran Al-Quran sebagai "penangkal".

Saya merasa beruntung karena Allah telah memberikan kesempurnaan fisik kepada saya, eh tunggu, mungkin tidak sepenuhnya, mengingat kelak saya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah terhadap apa saja yang telah saya lihat, sudahkah saya menggunakan penglihatan ini hanya untuk hal-hal yang diridhoi oleh Allah, atau bahkan sebaliknya.

Speechlees... hanya rasa haru menyeruak, ada air mata yang menggenang di pelupuk mata dan susah payah saya tahan agar tidak menetes. Saya sangat berterima kasih kepada suami yang telah mengajak saya berpartisipasi di acara tersebut.

Acara yang digagas suami bersama sahabatnya Ust. Muhayat. Sebelum berbuka, ada sedikit pengajian yang diisi oleh Ust. Dian Sukheri. Pengajian yang mampu memberikan pencerahan dan motivasi.

Selanjutnya, buka bersama.


Ustadz Muhayat memiliki seorang istri yang tuna netra juga, bernama Nuri Sahar. Nuri Sahar adalah salah satu aktifis penyandang disabilitas yang memiliki mimpi untuk dapat menulis sebuah buku sebagai panduan bagi para orang tua, bagaimana bisa bahagia mendidik anak yang menyandang disabilitas, karena tidak sedikit juga orang tua yang tidak bisa menerima kondisi buah hatinya, baik ia sadari atau tanpa ia sadari. Mudah-mudahan kami memiliki kesempatan untuk bisa berkolaborasi dalam menulis buku tersebut nantinya. Aamiin.. ^_^

Nuri sahar dan saya




4 komentar:

  1. menulis ttg begini bikin nangis ya mbak.. nangis malu
    gutlak, menang ga menang tlsn ini isnpiratif. makasih :)

    BalasHapus
  2. Iyaaaa Mbak Binta. Gutlak juga buat dirimu Mbak, tengkiyu ^_^

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah... tengkiyu Mbak Naqi, tengkiyu udah sms hehehe... ^_^

    BalasHapus