Life Is Beautiful




Apa salah jika seseorang yang memiliki kemampuan akademik cemerlang, menyandang predikat cumlaude, berpendidikan S2, dan karier mengajar yang bagus, lalu memutuskan untuk resign dan memilih berkutat dengan urusan domestik saja selama 24 jam?. Tidak bukan, karena dalam menjalani hidup kita memang harus memilih dari sekian pilihan yang Allah berikan. Lagipula apa masalahnya jika menyandang status sebagai seorang ibu rumah tangga, yang biasanya digunakan embel-embel HANYA seperti semakin menunjukkan betapa tidak kerennya menyandang status itu.

Hey.. menjadi seorang ibu rumah tangga itu luar biasa dan tidak mudah, terlebih apabila kita mampu secara materi untuk mendelegasikan sebahagian tugas kita kepada asisten rumah tangga namun tidak melakukannya. Karena kita sebagai seorang ibu adalah madrasah (sekolah) pertama untuk anak-anaknya. Kita luar biasa karena bisa menghandle semua urusan domestik yang konon membutuhkan tangan gurita dan tenaga kuda. Kita bersyukur karena Allah menciptakan kita sebagai mahluk yang multitasking.

Saat ini, aku merasa menjadi lebih baik. Mampu berdamai dengan perasaan tak kala keadaan terkadang membuat berbagai rasa sakit muncul. Tidak lagi berada di masa peralihan yang butuh begitu banyak penyesuaian. Karena aku yakin, hidup adalah sebuah proses dan demikian juga dengan menjadi seorang ibu, sebuah proses untuk menjadi yang lebih baik. Melewati begitu banyak pembelajaran, karena apapun yang kita pilih memiliki berbagai konsekuensi. Maka, tidak ada satu alasan pun untuk kita bisa mendiskreditkan atau membandingkan antara seorang ibu rumah tangga dengan wanita karier, ibu yang menyusui dengan ibu yang memberikan sufor, dll. Karena kita tidak pernah tahu ada alasan apa dibalik semua itu.

“Kalau nama Ci ada di buku dan bukunya masuk ke toko buku di seluruh Indonesia, Ibuk kan bangga”

“Nggak ah, Ibuk bangga kalau kamu jadi dosen lagi seperti dulu!”

Sepenggal dialog antara saya dan Ibu. Sampai saat ini, Ibu saya yang seorang wanita karier masih belum bisa menerima dan bahkan tidak merasa bangga saat saya memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, mengurusi sendiri suami dan anak, sekalipun saya mulai menulis dan menghasikan beberapa karya. Sedih, kecewa, merasa tidak berbakti sebagai seorang anak, merasa tidak menjadi anak yang membanggakan?. Hmmmm.. awalnya ia, tapi sekarang tidak lagi. Saya mengerti kenapa Ibu begitu, tapi sekali lagi saya katakan bahwa saat ini saya jauh merasa menjadi lebih baik lagi, karena Allah begitu baik. Allah selalu mengabulkan proposal hidup yang saya susun, Allah menunjukkan jalan sekalipun saya harus melewati berbagai rintangan. Bagi saya, peluang dan kesempatan menjadi seorang dosen jauh lebih mudah daripada menjadi seorang penulis. Penulis, sesuatu yang begitu saya impikan sejak dulu, sesuatu yang menurut saya begitu sulit untuk digapai. Kini peluang itu terbuka lebar. Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang akan kau dustakan?.

Alhamdulillah, saya sangat nyaman menjadi seorang ibu rumah tangga. Ibu yang melek teknologi dan meng-up date pengetahuannya. Mengisi waktu me time dengan menulis sembari berharap dapat menjadi media penyebar kebaikan, memberi manfaat, dan dapat menginspirasi orang lain. Menikmati hari bersama si kecil, meyaksikan tumbuh kembangnya setiap saat. Walaupun suatu hari nanti saya juga ingin kembali mengajar, saat waktu dan kondisi yang tepat, i’ll be back..  ^______^

Sekali lagi, Met Milad buat Mbak Mira, Barakallah.. tanggal lahir kita selisih 1 hari hehehe.. saya 9 Maret. Wah.. Maret yang indah yah Mbak, sukses dengan GA nya  ^_^

6 komentar

waduh...pasti berad menghadapi rasa tidak suka ibu ya mi...tp ummi emg tangguh dah. smg pilihan ini amanah buat ummi dan ibu2 FTM semua ya,,,,


#umi..tuilisan di blognya kecil bgd, susah bacanya buat yg minus spt mimi :D

Reply

subhanallah... saya selalu suka dengan semangat ibu2 yang nerpikiran luas seperti ini. makasih atas partisipasinya ya mba, saya masukkan ke list peserta

Reply

Tengkiyu udah mampir ya Mimi. Aamiin.. semoga bisa amanah, selalu berusaha menuju ke arah yang lebih baik.



Haduuuuh.. maaf yah Mimi, kekecilan yah tulisannya. ntar ganti mode deh ^_^

Reply

Tengkiyu Mbak Mira, senang bisa berpartisipasi di GA nya ^_^

Reply

salam kenal mbak.
tulisan ini mewakiliku juga. walau sudah lewat belasan tahun, dan akhirnya bisa berkompromi dengan diri sendiri, lalu bisa punya karya dan skill.

tetap saja, ketemu teman baru, komentar yang sama tetap saya dengar juga, "sayang banget ya mbak, lulusan kimia ITB cuman jadi ibu rumah tangga".

percuma juga mau saya pamerkan sederet pencapaian sy dalam membimbing anak, dgn rasa ingin tahu, suka baca, suka sains, lolos semifinal olimpiade sains, dan prestasi lainnya tanpa harus les ke sana kesini, tetapi saya kuatkan untuk percaya diri belajar otodidak, apapun yang ingin dipelajarinya.

ini kenyataan, ya begitulah..kasus jadi ibu rumah tangga , diserang oleh ibu rumah tangga juga :P

Reply

mampir mbak :)
duuh mirip kisahnya mbak lia herliana.
semangat ya mbak, insyaallah itu merupakan bakti terbaik mbak, bakti pada suami (dalam hal inni memutuskan mnjadi ibu RT termasuk pilihan bakti menurut saya)bisa menjadi penghapus dosa ibu. Sebagaimana kisah perempuan yg tdk menjenguk ibunya hingga meninggal krn patuh pada pesan suami, dosa ibunya diampuni oleh Allah karena amal anak perempuannya :)
insyaAllah

Reply

Posting Komentar