18 Februari 2020



Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabat Ummi...

Siapa yang pernah berkata, tidak bisa hidup tanpa nasi? apa cuma saya saja. Ya, untuk saya yang berdomisili di Pulau Sumatera, tepatnya di Pekanbaru, provinsi Riau, masih mengandalkan nasi sebagai konsumsi harian, sebagai makanan pokok. Rasanya, belum terasa seperti sudah makan, kalau perut belum terisi dengan nasi. Walaupun sudah menyantap berbagai jenis makanan. Berbeda halnya dengan sebagian saudara kita yang tinggal di Maluku atau Papua. Tapi, itu dulu, sebelum saya tahu bahwa ada pangan dari hutan yang ternyata olahannya mampu menggantikan nasi putih, dan bisa diolah menjadi berbagai macam makanan lezat, maupun minuman yang nikmat. Nggak percaya?

Sagu dan Masyarakat Riau.

Ya, Sagu. Sebenarnya, sagu sudah sangat familiar bagi kami Masyarakat Riau. Ada beberapa olahan sagu yang akrab dengan keseharian sebagian masyarakat Riau, seperti mie sagu atau sempolet. Bahan baku utamanya adalah tepung sagu. Biasanya, ini menjadi santapan saat sarapan, yang akhirnya saat ini bisa disantap diwaktu kapan pun, terlihat dari banyaknya penjual yang tak hanya berjualan di pagi hari.

Kalau kita mundur ke belakang, melihat bagaimana sebenarnya sagu, yang dihasilkan oleh pohon rumbia atau pohon sagu (Metroxylon Sagu Rottb) ini, ternyata merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia di masa lalu. Sebelum, hadirnya beras yang dibawa oleh pendatang dari India atau Indochina.



Sagu, Sebagai Tanaman Hutan Dalam Upaya Restorasi Lahan Gambut.

Sahabat Ummi...

Saat membahas tentang sagu, bukan hanya tentang sagu sebagai bahan pangan dari hutan. Tapi, ternyata pohon sagu memiliki peran penting lain bagi lingkungan hidup. Seperti halnya yang pernah dibahas oleh WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), bahwa pohon sagu dapat digunakan sebagai upaya restorasi lahan gambut. Kenapa? karena tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik digenangan air, sehingga sangat pas berada di lahan gambut. Dengan menanam pohon sagu, masyarakat lokal pun bisa mendapatkan manfaat dari upaya restorasi ini. Sebab, pohon sagu memiliki produktivitas yang tinggi dalam menghasilkan pati sagu.

Sungguh sebuah langkah yang sangat tepat, untuk kami yang berada di provinsi Riau. Mengingat, luasnya lahan gambut yang ada di sini.



Sahabat Ummi, tidak main-main, bahkan pemerintah menetapkan setiap tanggal 21 Juni diperingati sebagai hari sagu. Kesadaran yang begitu besar akan manfaat pohon sagu, baik sebagai pelestarian lingkungan, maupun sebagai komoditi pangan.

10 Jenis Olahan Sagu

Jika di awal tadi, saya menyebut bahwa mie sagu dan sempolet merupakan jenis makanan olahan sagu yang populer di Masyarakat Riau, maka kali ini saya menjabarkan 10 macam jenis olahan sagu sebagai pangan dari hutan, baik itu dalam bentuk makanan maupun minuman, yaitu:

1. Lontong Sagu

Siapa yang mengira kalau ternyata kita bisa membuat lontong dari tepung sagu?. Biasanya, yang digunakan adalah beras, yang berasal dari tanaman padi. Tapi, terbukti bahwa tepung sagu juga bisa dijadikan bahan baku lontong. Memang warnanya terlihat berbeda, sesuai dengan karakteristik tepung sagu. Untuk rasa, lontong ini tetap enak, apalagi jika disajikan komplit dengan gulai nangka, sambal kering tempe, telur rebus, dan ditambahkan dengan keripik ubi.



2. Nasi Sagu

Nah, ini apalagi, tak banyak yang tahu bahwa tepung sagu dapat diolah menjadi seperti nasi. Bahkan, nutrisinya sangat banyak dan baik untuk kesehatan tubuh, terutama yang sedang menjalankan program diet. Kalau nasi shirataki yang berasal dari tanaman shirataki yang saat ini populer bagi para pelaku diet, kita punya nasi sagu sebagai kearifan lokal. Untuk rasanya? Rasanya kenyal dan tetap lezat, disantap dengan lauk apapun.



3. Bubur Sagu

Biasa sarapan pagi dengan bubur ayam?, biasanya yang menjadi bahan baku dari bubur adalah beras. Nah, bagaimana jika beras diganti dengan tepung sagu?, rasanya tetap enak. Apalagi menggunakan bumbu yang biasa digunakan dalam membuat bubur ayam. Cita rasa bubur sagu ini tetap gurih dan nikmat.



4. Mie Sagu

Untuk mie sagu sendiri, mienya dapat diolah keberbagai jenis makanan, menggantikan mie yang terbuat dari beras atau jagung. Jadi, mau dijadikan untuk bahan mie ayam, mie jamur, tom yam, atau mie bakso, semuanya cocok.



5. Bubur Cenil Sagu

Kenyal dan lezat, ternyata cenil tidak hanya bisa dibuat dari tepung beras atau tapioka, tapi juga tepung sagu, dimasak dengan gula merah, lalu diisiram dengan kuah santal kental yang gurih.



6. Bakso Sagu

Siapa yang tak suka dengan bakso, jika selama ini tepung tapioka menjadi campuran dan pengikat, ternyata bisa digantikan dengan tepung sagu. Tekstur bakso menjadi kenyal. 




7. Cilok Sagu

Cilok, yang berarti aci di colok, salah satu kuliner khas dari jawa barat. Bahan bakunya terbuat dari aci, alias tepung tapioka. Nah, tepung sagu bisa menggantikannya sebagai bahan baku. Teksturnya pun menjadi tak jauh berbeda.



8. Cireng Sagu


Masih makanan khas dari Jawa barat. Cireng, atau aci digoreng. Tepung sagu juga dapat kita gunakan untuk mengganti tepung tapioka. Rasanya tetap kenyal dan lezat.



9. Es Jelly Sagu

Dengan mencampurkan tepung sagu dengan agar-agar, kita akan mendapatkan jelly yang bisa digunakan sebagai isian dari minuman. Agar terlihat semakin menarik, bisa ditambahkan pewarna asli dari tumbuhan, seperti merah dari buah naga, hijau dari daun suji, dan biru dari bunga telang. Selain sehat, minuman ini juga nikmat dan mengenyangkan.



10. Cappucino Jelly Sagu

Apakah sahabat penyuka kopi?, pernah mencoba cappucino cincau?, bagaimana kalau cincaunya diganti dengan jelly yang terbuat dari tepung sagu. Minuman kekinian ini, tetap terasa nikmat.



Kenapa Olahan Sagu?

Sagu memiliki kandungan nutrisi yang banyak, terutama karbohidrat murni. Karbohidrat ini masuk ke dalam mikronutrien yang dibutuhkan oleh tubuh kita dalam jumlah banyak, sebagai bahan energi dan fungsi otak. Dalam 100 gr sagu, terkandung:

  • 86 gr Karbohidrat
  • 0,5 gr protein
  • 1 gr serat
  • 3 mg sodium
  • 5 mg potasium
  • 0,2 gr lemak total
  • 0,1 gr lemak jenuh
  • 350 kalori

Manfaat sagu untuk kesehatan:
  • Sumber energi
  • Mengendalikan gula darah
  • Memperlancar sistem pencernaan
  • Meningkatkan kesehatan tulang dan sendi
  • Mencegah darah tinggi
  • Menjaga suhu tubuh agar tetap ingin
  • Mengatasi asam lambung
  • Membantu menurunkan berat badan


Sahabat Ummi,

Bagaimana? tertarik untuk membuat dan mengkonsumsi berbagai olahan sagu sebagai pangan dari hutan?. Cara membuatnya pun relatif mudah. Dengan memakai resep yang sama, tapi mengganti bahan baku utamanya dengan tepung sagu.

Jika Sahabat jeli, ini juga akan menjadi peluang bisnis yang besar. Tertarik?






14 Februari 2020



Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Sahabat Ummi,

Apakah Hokben merupakan sebuah kata yang asing buat kalian semua?. Saya rasa nggak. Bahkan saat brand ini masih bernama Hoka-hoka Bento, kata HOKBEN sudah menggaung. Jadi, nggak salah kalau akhirnya Hoka-hoka Bento re-branding menjadi Hokben. Sebuah akronim yang udah populer sejak dahulu. Bukan begitu?.

Nah, kabar gembira bagi kami yang berada di kota Pekanbaru, bahwa sejak tanggal 30 Januari 2020 menu-menu Hokben mulai bisa dinikmati, karena mereka akhirnya membuka outlet di Mall Living World Pekanbaru!. Akhirnya ya, restoran Jepang asli Indonesia yang didirikan di Jakarta pada tanggal 18 April 1985 di bawah lisensi PT. Eka Bogainti ini, sampai juga ke Pekanbaru. Wah, buat saya pribadi, yang terakhir kali makan di Hokben pada tahun 2011 saat ujian tesis di Jakarta dulu, tentu ini menjadi kebahagiaan tersendiri, bahwa dari 150 gerai Hokben yang tersebar di pulau Jawa, Bali, dan Sumatera, Pekanbaru menjadi salah satu kotanya.




Ya, buat orang Indonesia yang sukanya berada di zona konsumi nyaman, alias doyannya makanan serba Indonesia dan kurang begitu tertarik untuk mencoba jenis makanan negara lain, menu Hokben termasuk yang saya sukai. Rasanya masuk di lidah Indonesia seperti saya. Jadi, rindu saya terobati dengan menu komplit, yang terdiri dari nasi, beef yakiniku, gorengan, salad sayur, sup, es ogura, dan ocha.



Bukan Sekedar Re-branding

Sahabat Ummi,

Selain kulineran masuk ke dalam ranah hobi saya, belakangan ini dunia perkulineran menjadi bagian dari hari-hari saya. Bukan sekedar mengamati, tapi juga ikut terlibat dalam berbagai usaha kuliner yang ada di Pekanbaru. Jadi, saya paham betul bahwa tak cukup hanya sebuah nama baru, tapi juga ada nilai baru yang akan dibawa dan disosialisasikan.

Dan, Hokben sudah melakukan semuanya, seperti yang disampaikan oleh Ibu Kartina Mangisi selaku comunications manager kepada kami dari blogger Pekanbaru yang diundang secara khusus di acara grand opening. Beliau menjelaskan bahwa terkandung makna dan nilai yang besar dari simbol-simbol yang akhirnya membentuk sebuah motif dan dijadikan dekorasi pada dinding bahkan wadah.

Hal itu menjadi perhatian saya, selain info seputar nama dari maskot Hokben. Apa Sahabat tahu, bahwa maskot anak-anak yang seorang laki-laki dan seorang perempuan itu memiliki nama?. Jika belum, perkenalkan, nama mereka adalah Taro dan Hanako. Selanjutnya, yang tak kalah menarik adalah, bahwa mereka ikut serta dalam campaign zerowaste. Hokben ikut berpartisipasi dalam menerapkan konsep minim sampah. seperti tidak menyediakan sedotan plastik dan menganjurkan untuk membawa wadah sendiri ketika memesan untuk take away.

Selain Bu Kartina, ada Bapak Waluyo, selaku store manager Hokben Living World Pekanbaru, yang turut bercerita dan menjawab beberapa pertanyaan yang sempat dilontarkan mengenai Hokben, salah satu pertanyaan yang saya ingat adalah apakah Hokben akan membuka kelas untuk kunjungan dan kegiatan anak-anak?. Jawabannya, bisa jadi. Seandainya terwujud, saya bakal ikutan daftar supaya kedua putri saya bisa ikut.




O yah, ada Bapak Sugiri Wilim, selaku wakil direktur operasional PT. Eka Bogainti yang sempat menyapa kami. Beliau mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami, dan sempat berbagi info tentang Hokben. Salah satu infonya, bahwa ada kemungkinan outlet Hokben tidak hanya 1 di Pekanbaru. Wah, berarti bisa jadi kita nggak perlu ngantri terlalu lama ya, tinggal pilih mau makan di outlet yang mana.

Terakhir, Bu Kartina menjelaskan sekaligus mengajak kami untuk ikut berpartisipasi dalam program CSR yang rutin dan berkelanjutan mereka lakukan, yaitu salah satunya kegiatan donor darah.

Restoran Halal

Ini adalah informasi penting untuk kita umat muslim. Alhamdulillah Hokben bersertifikat halal MUI, jadi jangan khawatir. Selain menjaga kualitas makanannya, mereka juga memastikan kehalalannya. Sahabat bisa melihat langsung sertifikatnya ketika membayar di meja kasir.




Hokben Favoritnya Keluarga

Sahabat Ummi,

Beberapa hari kemudian, saya kembali makan di Hokben bersama dengan anak-anak. Wah, antriannya luar biasa. Begitu banyak masyarakat Pekanbaru yang sangat antusias untuk makan di sini. Baik yang memang sudah menjadi penggemarnya, maupun yang masih penasaran untuk mencoba bagaimana rasanya. Apa semua Sahabat ummi sudah pernah mencoba?.







30 Desember 2019

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Apa kabar Sahabat Ummi?

Ummi kembali menyapa semua di hari terakhir berlakunya kalender masehi, 2019. Besok kita bakal ganti kalender 2020 dong yah. Sebenarnya, pengen nulis banyak tentang pencapaian apa saja di 2019 ini. Kelihatan kan yah, lama nggak update karena lumayan sibuk di dunia nyata. jadi, di postingan kali ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa saya share, dan mudah-mudahan ada manfaatnya buat semua Sahabat Ummi, yang setia membaca postingan blog ini *eaaaaaaa

Serunya Menjadi Ummi Duo Putri

Saat ini, Nai sudah kelas 5 SD, sedangkan Khai TK. Punya dua anak perempuan itu seruuuu banget. Setiap hari ada aja kejutannya. Maklum, saya anak perempuan satu-satunya. Sejak kecil selalu pengen punya saudara perempuan. Ngerasain serunya, bisa punya teman main dan cerita, tukeran baju, dll. Tapi, kalau udah lihat tu duo bocah berantem, haduh... ternyata lebih enak jadi anak perempuan satu-satunya :D

InsyaAllah nanti saya bakal lebih sering posting tentang mereka. Cuma, harus saya tanya Nai dulu, apa dia nggak keberatan kalau saya nulis tentang dia. Iya, Nai udah gede sekarang, bahkan suka banget baca postingan-postingan tentang dia di blog ini. Kalau postingan tentang Khai, memang nggak sebanyak Nai. Di masa Nai, saya masih produktif sekali ngeblog dan menulis buku.

Jasa Foto Produk Pekanbaru

Sampai 2019, saya sudah memotret lebih dari 2000 foto makanan dan produk, baik dari para pelaku usaha di Pekanbaru dan sekitarnya, hingga luar kota. Produk terjauh yang pernah saya foto, dari Kalimantan. InsyaAllah nanti saya juga bakal share tentang awal mula saya terjun ke dunia fotografi dan menjadikannya sebagai sebuah usaha. Ini udah banyak banget yang request. Sekaligus sharing tentang pengalaman di bully, tapi saya balas dengan prestasi.

Support Media Pekanbaru

ini salah satu usaha yang pernah saya ceritakan juga dibeberapa postingan sebelumnya. Tapi, InsyaAllah bakal sharing lebih banyak lagi, bagaimana membangun usaha ini dan lika-liku perjalanannya. Karena, Support Media Pekanbaru ini, adalah usaha digital marketing pertama di Pekanbaru, yang mempunyai layanan komplit, mulai dari foto produk, desain grafis, cetak, dan branding sosmed (handling sosmed).

Brand Naira Herb

Di penghujung tahun 2019, tepatnya bulan November. Saya meluncurkan brand Naira Herb. ini seperti sebuah "welcomback" saya ke dunia herbal. Setelah dulu sempat punya toko herbal dan menulis 3 buku herbal serta artikel-artikel herbal lainnya. InsyaAllah nanti saya juga bakal posting panjang tentang ini.

Sahabat Ummi...

Setidaknya, resolusi menulis blog di 2020, akan berputar seputar hal-hal di atas, parenting, motherhood, fotografi, Support Media Pekanbaru, dan Naira Herb.

O yah, dipenghujung tahun ini, Alhamdulillah, saya menjadi salah satu pemateri untuk Rumah Kreatif BUMN dan berpartisipasi dalam ulang tahun Pertamina yang menggelar kegiatan pelatihan UMKM serentak di lokasi terbanyak pada 10 Desember 2019. Bahkan kegiatan ini mendapatkan penghargaan MURI. Begitu besar rasa syukur saya kepada Allah Ta'ala, atas semua nikmatNya. Saya berharap, di tahun 2020 bisa lebih baik lagi dan semakin berperan aktif di masyarakat. Aamiin...









3 September 2019



Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat Ummi

Sejak kecil, saya sudah terbiasa mengkonsumsi madu. Saya ingat betul, pagi hari saat akan berangkat ke sekolah, Ibuk akan memberikan masing-masing 1 sendok makan madu kepada ke 4 orang anaknya. Tanpa saya bertanya, Ibuk selalu mengulang-ulang apa manfaat madu. Bahwa kami harus minum madu supaya sehat dan pintar. Bahkan, dengan yakinnya Ibuk berkata, saya bisa selalu juara kelas, karena rajin minum madu. Buat saya nggak masalah harus mengkonsumsi madu setiap hari, bahkan kalau perlu nggak cuma di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Tapi, sepertinya ibu sudah menjatahkan demikian :D

Semakin bertambah usia, saya jadi paham, kenapa dulu cuma dapat jatah madu 1 sendok makan saja. Ternyata, madu hutan yang kami konsumsi itu, harganya lumayan. Untuk mendapatkannya juga tidaklah mudah. Bapak harus memastikan langsung apakah madu tersebut asli atau tidak. Kebetulan, dulu sewaktu saya kecil, Bapak bertugas di dinas pertanian dan tanaman pangan (holtikultura). Madu yang ditaruh di wadah kaca bekas botol sirup itu, disimpan dengan baik oleh Ibuk. Saya ingat sekali, warnanya cokelat gelap, rasa manisnya khas, legit.

Semakin dewasa, saya juga akhirnya tahu, ternyata madu punya banyak sekali manfaat untuk kesehatan. Bahkan madu juga disebutkan di dalam Al-Qur'an dan hadist. Tentunya, madu yang benar-benar madu asli. Karena, saya punya pengalaman tidak mengenakkan, yaitu membeli madu yang palsu. Sampai akhirnya Ibuk mengajarkan, bagaimana cara untuk mengetahui madu yang dijual asli apa tidak. Caranya adalah, membeli madu dengan orang yang sudah kita kenal dengan baik. Bisa juga membeli madu di tempat khusus dan memastikan label kemasannya, apakah terdaftar dengan baik dan jelas.

Sahabat Ummi...

Setelah menikah, saya mendapatkan wawasan baru. Mempunyai suami yang mengenalkan saya dengan konsep herbal thibbun Nabawi, yaitu pengobatan Ala Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi wassalam. Suami ingin, anggota keluarganya di rumah mengkonsumsi madu, buah korma, dan jinten hitam atau dikenal juga dengan Habbatussauda. Agar kesehatan bisa tetap terjaga, karena kandungan nutrisi yang luar biasa bermanfaat untuk tubuh.

Manfaat Madu

Madu mempunyai banyak sekali manfaat untuk kesehatan dan kecantikan, sehingga madu baik untuk kita konsumsi setiap hari. Bahkan, madu kami gunakan sebagai pengganti gula. Berikut beberapa manfaat dari madu:
Menghilangkan batuk (Penelitian Pensylvania State University, 2007)
Membantu mencegah kanker
Membantu mencegah penyakit jantung
Meningkatkan daya ingat
Salah satu sumber nutrisi
Membantu menghilangkan bekas luka (Dr. Jennifer Eddy, Fakultas kedokteran Wisconsin University)
Membantu menghilangkan alergi
Meningkatkan daya tahan tubuh dan metabolisme tubuh
Meningkatkan stamina
Pengganti gula
Antioksidan
Mengatasi bakteri (Dr. Dixon, Majalah Dis Lancet Infect, Feb 2013) 

Manfaat Korma

Buah yang identik dengan bulan Ramadhan ini, sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Ya, nggak perlu nunggu bulan Ramadhan dulu. Buah Korma kaya akan kandungan vitamin dan mineral, seperti vitamin C, B1, B2, A, Niasin, Kalsium, zink, magnesium, dll. Sebuah studi oleh Al-Shahib dan Marshall, Kurma dianggap sebagai makanan yang hampir ideal karena dapat memberikan berbagai nutrisi penting dan manfaat kesehatan yang potensial. Tidak heran kalau tanaman yang diperkirakan berasal dari Teluk Persia ini, menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun. Berikut beberapa manfaat luar biasanya:
•Mengatasi konstipasi (susah BAB), gangguan usus dan Diare
•Membantu pertumbuhan tulang
•Membantu mengobati anemia
•Menanggulangi alergi
•Membantu dalam proses pemulihan penyakit demam berdarah
•Menambah tenaga
•Menjaga kesehatan jantung

•Antioksidan

Manfaat Jinten Hitam

Tumbuhan yang mempunyai nama latin Nigela Sativa ini, dikenal juga dengan nama Habbatussauda. Merupakan tanaman asli asia selatan dan asia barat. Manfaat Jintan ini pertama kali diteliti oleh Ibnu Sina, ilmuwan persia yang dianggap sebagai salah satu pemikir dan penulis paling terkenal di zaman keemasan Islam. Dalam jurnal medisnya “Canon of Medicine” Ibnu Sina menulis bahwa biji Jintan Hitam ini bermanfaat sebagai pengobatan sesak nafas, asma dan gejala pernafasan lainnya Dalam pengobatan tradisional, Jintan juga digunakan sebagai obat sakit kepala, sakit gigi, dll.

Dalam dunia medis modern JIntan berfungsi sebagai :
Meningkatkan kualitas sperma (Penelitian University of Malaysia, 2014, Jurnal Evidence-based Complementary and alternative medicine)
Mengatasi gejala diabetes tipe 1 (Penelitian University Teknologi MARA, Malaysia, 2014, dan Zagazig University, Mesir)
Membantu menurunkan tekanan darah (Penelitian Shahrekord University of medical Sciences, Iran)

Temukan Manfaat Madu, Korma, dan Jinten Hitam Pada Minuman Kesehatan KOJIMA

Sahabat Ummi...

Alhamdulillah, sekarang untuk mengkonsumsi madu, korma, dan jinten hitam semakin praktis. Semuanya terdapat di dalam satu kemasan botol kaca KOJIMA 280 ml, yang di produksi oleh PT. Deltomed Laboratories. Produk ini telah mengantongi sertifikat halal MUI dan terdaftar di BPOM. Saya sangat suka dengan kemasan dan packingnya. Label yang ada di kemasan juga unik. Terlihat sangat elegan dan cantik. Di bagian depan, tertulis jelas KOJIMA dalam font besar dan di bawahnya ada tulisan Korma, Jinten, dan Madu. Jelas berarti bahwa KOJIMA itu adalah singkatan dari ingridients utamanya.



Cara Mengkonsumsi KOJIMA


KOJIMA dapat dikonsumsi 2x sehari dengan takaran 1 sendok makan sekali minum. Dapat diminum langsung atau sebagai campuran makanan atau minuman lain. Sangat baik untuk menjaga kesehatan anak-anak dan orang dewasa.

Rasanya juga enak, karena kalau hanya mengkonsumsi jinten hitam saja, biasanya butuh effort lebih buat saya menelannya. Nah, kalau sudah dikombinasikan dengan korma dan madu seperti KOJIMA, ternyata rasanya jadi enak, bahkan dijilat sampai bersih sendoknya :D
Alhamdulillah, beberapa hari mengkonsumsinya, badan berasa lebih enak dan lebih bertenaga dalam melakukan rutinitas yang memang butuh energi banyak. Untuk menyelesaikan tugas domestik dan juga pekerjaan saya sebagai content creator dan product photographer, yang akrab dengan kerja begadangnya.



Nah, sahabat Ummi tentu bertanya-tanya di manakah KOJIMA bisa didapatkan?. Jadi, kita bisa beli KOJIMA secara offline maupun online. KOJIMA tersedia di Ranch Market, Farmers Market, Lulu Hypermarket, Kem Chicks, Tokopedia, Gogobli, AEON, GS Retail, dan Diamond.

Nah, buat yang di daerahnya belum ada, bisa beli secara online di Tokopedia yah. Trus, kalau pengen dapat informasi lebih banyak tentang KOJIMA, bisa follow IG KOJIMA.

Salam sehat buat Sahabat Ummi semua ^____^


6 Agustus 2019


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat Ummi...

Bagaimana pagi di kotamu?. Sudah beberapa hari ini, saat memandang keluar rumah, ada kabut asap yang membuat langit biru tak nampak. Tak ada aroma segarnya pagi, yang ada bau asap menyelinap. Tak kalah epik, saat tulisan ini dibuat, ada backsound suara helikopter yang bolak-balik membawa buntelan air. Ada rewelan si kecil yang nafasnya mulai terganggu. Ya, inilah pagi saya di Pekanbaru. Kota tempat saya lahir dan besar, juga melahirkan dan membesarkan 2 orang anak.

Ini bukan kali pertama buat saya mengalami kondisi seperti ini, bisa dibilang bencana musiman setiap tahun dan bisa terjadi selama 3 bulan. Tapi yang terparah, pertama kali ketika tahun 1997, saat itu saya kelas 5 Sekolah Dasar (SD), saya ingat betul bahwa sekolah diliburkan, saya dan teman-teman tak lagi bisa bermain di luar rumah seperti biasanya. Sungguh tersiksa, sebab saya tak hobi main boneka, melainkan lebih suka memanjat pohon dan bermain bola. Lalu, mengalami kembali kejadian kabut asap parah ketika tahun 2015, saat anak saya yang kedua baru berusia 1 tahun. Padahal ketika 2014 dia masih di dalam kandungan, juga terjadi kabut asap.


Tahun 2015 lalu, keluar sebentar saat asap sudah agak tipis

Parahnya seperti apa, pada tahun 2015 status udara sudah level berbahaya. Saat itu, jarak pandang kurang lebih 200 meter. Tak ada aktivitas di luar rumah. Pemerintah kota malah telah menyiapkan tempat pengungsian untuk anak-anak dan bayi. Saya memilih di rumah saja. Bisa dibilang seharian,  hanya di dalam kamar, dengan Air Conditioner (AC) yang terus hidup, dan terjadi perpindahan deretan pot-pot tanaman sansevieria alias lidah mertua *ini siapa yang kasih nama begini sih :D

Baca: Di balik jendela

Kalau sebelumnya tanaman Lidah mertua tersebut ada di teras dan halaman luar rumah, saat itu semuanya masuk ke dalam kamar. Kenapa?, karena ternyata tanaman tersebut bisa menghilangkan racun seperti formaldehyde, xylene, toluene, dan nitrogen oksida. Terus memproduksi oksigen, tak seperti sebagian besar tanaman lain yang melepaskan karbon dioksida pada malam hari (tanpa adanya fotosintesis). Setidaknya itulah info yang saya dapatkan dari googling dulu. Padahal, saya menanam tanaman itu, karena tanaman tropis ini bisa dengan mudah tumbuh dan nggak perlu rutin disiram *ummi pemalas :D

Sahabat Ummi,

Kalau membahas tentang asap di Pekanbaru, mungkin buat sahabat yang sudah dari dulu membaca blog ini, atau pernah membaca postingan di sosmed saya, sudah pahamlah yah. Kalau belum, silahkan googling or lihat hestek melawan asap (#melawanasap). Minimal kalian pernah melihat pemberitaannya di televisi. Nah, tadi itu adalah mukadimah. Karena, kali ini saya mau share tentang  pengalaman saya mengikuti kegiatan Forest Talk With Blogger Pekanbaru, yang ditaja oleh Yayasan Doktor Sjahrir. Mengusung tema Menuju Pengelolaan Hutan Lestari.

Waduh, berat amat yah materinya. Nggak kok, tenang aja, ini masih bisa dicerna dan tentunya bermanfaat untuk kita para Mamak-mamak. Saya paham, mikir masak dan ngurus bocah, nonton serial drama Korea, dan julid di sosmed, sudah cukup melelahkan jiwa raga :D

Sekilas Tentang Yayasan Doktor Sjahril

Saat membaca info kegiatan Forest Talk With Blogger ini di grup whatshapp Blogger Pekanbaru, saya langsung mencari info tentang Yayasan Doktor Syahrir. Saya familiar dengan nama Doktor Sjahril, Beliau adalah seorang ekonom, dan politisi, yang semasa mudanya dulu menjadi seorang aktivis. Pada Masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ia menjabat sebagai penasihat ekonomi presiden. Yang tugasnya termasuk menjadi duta khusus Presiden RI ke negara-negara lain dalam menjalankan misi kepresidenan. Hingga Beliau jatuh sakit dan wafat pada 28 Juli 2008.

Ternyata Yayasan Doktor Sjahril ini merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk untuk meneruskan misi sosial almarhum Dr. Sjahril yang bergerak lintas sektor, termasuk bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Forest Talk With Blogger Pekanbaru

Sahabat Ummi

Setelah mengantongi ijin suami, saya akhirnya mendaftarkan diri di kegiatan Forest Talk With Blogger yang diadakan pada tanggal 20 Juli 2019, bertempat di Ballroom Hotel Grand Zuri Pekanbaru. Ijinnya agak lambat keluar, karena kegiatan ini nantinya akan ada kunjungan ke Desa Makmur Peduli Api, Batu Gajah, Kampar. Ini pertama kali saya ikut kegiatan dan harus pergi "keluar" tanpa suami. Tapi, akhirnya suami mengijinkan, mengingat isu lingkungan merupakan salah satu tema diskusi kami belakangan ini. Suami saya yang mengambil Magister Ilmu Lingkungan tentu juga mendukung istrinya ini untuk mendapatkan lebih banyak ilmu.

Saking bersemangatnya dengan acara ini, saya sampai salah tanggal. Sabtu tanggal 13 Juli, saya sudah bersiap-siap, dan berjalan menuju garasi. Jam sudah menunjuk ke angka 8. Ada berasa sedikit keanehan ketika melihat WA grup Blogger Pekanbaru sepi. Tak ada kehebohan, yang menanyakan, "udah di mana wei?". "aku boleh nebeng nggak?" dll. Seperti biasanya ketika kami akan menghadiri event. Lalu saya WA Elvina dan Athri, anggota Blogger Pekanbaru. Daaaaaan, dari mereka saya baru sadar kalau acaranya tanggal 20 Juli, Sabtu depan! :D

Ya ampuuuuun.



Lalu, hari yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Dengan bergegas, khawatir terlambat, tapi tetap saja nyampe di sana pas acara mau mulai. Nggak papa, saya masih sempat menikmati teh dan aneka snack yang telah disediakan. Juga melihat stand yang ada di sana. Ada stand makanan ringan berupa keripik-keripik, dan juga ada madu, yang berasal dari Desa Makmur Peduli Api, sebagai program CSR dari Sinar Mas Group. Sedangkan di stand seberangnya, ada pameran kain-kain tenun ikat. Yang membuatnya berbeda dari kain tenun ikat yang dijual kebanyakan di pasaran adalah, penggunaan pewarna alami pada kainnya. Semuanya berasal dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia.




Sahabat Ummi,

Akhirnya acara dimulai. Acara di buka oleh Mas Amril Taufik Gobel. Beliau menyampaikan informasi tentang acara, bahwa ada 3 orang narasumber yang akan memberikan materi pada pagi hari ini.  Mas Amril juga menjelaskan rundown acara, tentang kunjungan ke desa Batu Gajah, juga informasi tentang adanya lomba live tweet dan live Instagram. Tentu saja semua peserta semakin antusias yah, dan persaingan sengit dimulai :D


Pembukaan oleh Mas Amril Taufik Gobel

Perubahan Iklim

Pembicara pertama pada acara ini adalah Ibu Dr. Amanda Katili Niode. Selaku manager Climate Indonesia, yang bekerjasama dengan Yayasan Doktor Sjahril. Climate Reality Projects Indonesia, merupakan sebuah organisasi non profit yang bermula di Nahville, Tenesse. Organisasi ini, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarat terhadap perubahan iklim, yang dimulai dari komunitas-komunitas akar rumput di Amerika hingga dunia.



Bu Amanda membahas tentang perubahan iklim. Beliau memaparkan bagaimana kondisi bumi saat ini, yang bisa dikatakan mulai sekarat. Baik dari ketersediaan air bersih, maupun udara bersih. Kita tentu nggak asing dong yah dengan istilah pemanasan global, mencairnya es di kutub utara, iklim yang ekstrim. Bagaimana di Amerika  suhu mencapai minus 40 derajat, sedangkan di Australia 50 derajat. Ada yang membeku, dan di belahan bumi lain ada yang kering hingga meyebabkan kebakaran hutan.

Pernah dengar emisi gas rumah kaca?. Bagaimana itu dihasilkan? Bu Amanda mengatakan bahwa itu berasal dari pertanian, limbah, industri, energi, penerbangan dan perkapalan, penggunaan lahan dan kehutanan. Jadi, bisa karena kegiatan industri, maupun kegiatan rumah tangga. Semuanya bisa mencemari, udara dan air. Bahkan, penyumbang terbesar pencemaran itu adalah industri fashion. Ada yang kaget? saya pribadi nggak, karena saya sudah lama membaca tentang tren fast fashion. Dimana gerai retail fashion yang selalu mengeluarkan produk-produk terbaru mereka, yang desainnya terinspirasi dari fashion week dunia. Bayangkan, berapa banyak yang akan diproduksi di setiap periode, yang mengikuti tren di runwayPadahal, skala polusi yang dihasilkan dari industri fashion, menghasilkan emisi gas yang lebih merusak dibandingkan gabungan dari industri penerbangan dan pelayaran. Sampai di sini, silahkan sahabat Ummi yang membaca tulisan ini langsung cek lemari masing-masing :D

Bu Amanda melanjutkan, bagaimana sistem global yang rentan iklim, dapat menyebabkan instabilitas politik, dan sosial. Yaitu, pangan, air, kesehatan dan infrastruktur.  Bayangkan, populasi dunia yang terus bertambah, sementara ketersedian alam sebagai penunjang kehidupan manusia mulai berkurang. Solusinya bagaimana? Adalah Mitigasi dan Adaptasi. Mitigasi merupakan upaya memperlambat proses perubahan iklim global, dengan cara mengurangi emisi gas kaca. Sedangkan adaptasi, dengan mengembangkan berbagai cara untuk melindungi manusia dan ruang. Dengan mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan. Ya, bagaimana caranya agar kita bisa tetap survive di bumi. Pemeritah sendiri juga terus bergerak untuk membuat energi terbarukan, teknologi transportasi yang meggunakan tenaga listrik, dll. 

Pengelolaan Hutan Lestari dan Lanskap

Kita masuk ke pembicara kedua, yaitu Ibu Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia. Beliau membahas tentang hutan, yang tentu saja sangat dekat dengan kami di Riau, yang berjulukan zamrud khatulistiwa. Seperti yang kita tahu, bahwa hutan adalah paru-paru dunia dan sebagai penyimpan air. Dengan rusaknya hutan saat ini, tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga hewan-hewan yang kehilangan habitatnya. Mungkin sahabat pernah melihat berita tentang Harimau masuk desa?. Nah, bisa jadi karena habitat mereka telah rusak. Belum lagi, betapa mengenaskannya kondisi hewan-hewan yang terkena dampak dari kebakaran hutan. Ya, telah terjadi deforestasi, degradasi, dan konversi.

Bu Atiek menjabarkan, bahwa deforesasi terjadi dari akibat adanya perubahan yang permanen dari areal berhutan yang dilakukan pembersihan atau pemotongan, untuk dialih fungsikan sebagai kegiatan perladangan, pertanian, atau penggunaan urban (perumahan). Sedangkan proses degradasi sendiri adalah perusakan dan penurunan kualitas hutan (tutupan, bio massa, dll). Selanjutnya, bentuk konversi hutan itu sendiri terbagi 2, yaitu penebangan hutan dalam skala besar, yang dialih fungsikan untuk perkebunan tanaman seperti sawit, karet, akasia, dll. Kedua, penebangan hutan dalam skala kecil yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka saja.

Lantas, bagaimana solusinya?. Yang harus dilakukan adalah mengembalikan fungsi hutan. Harus adanya sinergi dari berbagai pihak yang terkait, baik pemerintah, maupun industri skala besar, dengan melakukan reboisasi, restorasi, agroforesty, dan mendukung industri kreatif yang menggunakan produk hutan, dengan mulai menanam berbagai tumbuhan yang berfungsi sebagai sumber serat, sumber pewarna alami, sumber kuliner, sumber minyak atsiri, dll.

Pohon dan Ekonomi Kreatif

Selanjutnya, lebih detail tentang pohon dan ekonomi kreatif disampaikan oleh Bu Amanda, menggantikan Ir. Murni Titi Resdiana. MBA, dari kantor urusan Presiden, bidang pengendalian perubahan iklim, yang berhalangan hadir pada hari itu. Bu Amanda menjelaskan tentang bagaimana produk-produk ramah lingkungan dihasilkan dari ekonomi kreatif. Apa saja contoh produk-produk tersebut?, diantaranya kain tenun ikat yang ada di stand tadi, yang dari segi pewarnaannya menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Pewarna alami tersebut seperti, warna merah dari akar mengkudu, warna kuning dari kunyit, cokelat dari secang, dll. Sedangkan dari furniture, menggunakan bahan baku rotan. Untuk selanjutnya, yang lagi naik daun saat ini, yaitu essential oil atau minyak atsiri.

Sahabat Ummi

Pembicara terakhir di acara ini adalah Bapak Tahan Manurung, dari Asia Pulp and Paper. Beliau memaparkan tentang Desa Makmur Peduli Api, yang merupakan program CSR. Di dalamnya terhimpun sekitar 236 desa yang ada di Provinsi Riau. Salah satunya adalah desa Batu Gajah yang akan kami kunjungi nanti. Beliau memaparkan tentang bagaimana desa-desa tersebut menghasilkan berbagai macam produk hasil hutan baik pangan maupun kerajinan. Di sana, dilakukan pemberdayaan, pembinaan, sampai produk tersebut hadir dan dipasarkan.



Bagaimana dengan pemasarannya?. Pak Tahan kembali menjelaskan tentang kondisi pemasaran yang masih terbatas. Maka, diperlukan edukasi kepada masyarakat, manfaat dalam membeli produk-produk dari industri kreatif seperti ini. Karena, ternyata peminat terbanyak adalah orang luar negeri, contohnya seperti kain yang menggunakan pewarna alami tadi. Bisa jadi, penyebabnya dari segi harga yang relatif lebih mahal daripada produk kebanyakan di pasaran, sehingga masyarakat banyak yang tidak memilih untuk menggunakannya.

Wah, butuh strategi digital marketing yang oke nih sepertinya, supaya jangkauan informasi tentang produk-produk tersebut meluas. Sehingga memudahan orang banyak untuk bisa mengakses informasi tentang produk dan bagaimana cara pembeliannya.

Kunjungan ke Desa Makmur Peduli Api, Batu Gajah, Kampar-Riau

Setelah selesai acara di hotel, kami lalu bersiap-siap untuk mengunjungi Desa Batu Gajah dengan menggunakan bus yang telah disediakan oleh panitia acara. Ada 2 bus, dan kehebohan peserta sudah dimulai dari semenjak menginjakkan kaki di lobi hotel, hingga setelah masuk ke dalam bus dan sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Ada yang heboh foto-foto, ada yang asyik ngobrol, dan ada yang sibuk ngunyah keripik yang didapatkan dari stand di hotel tadi.



Saya pribadi? sibuk ngetwit sambil sesekali video call dengan anak-anak yang ada di rumah. Saya juga sangat menikmati perjalanan ini, bukan hanya karena sudah lama nggak pernah naik bus, tapi juga mengamati pemandangan sekitar yang tak mungkin bisa saya lihat setiap hari. Apalagi, ketika memasuki desa Tapung dan mulai masuk ke daerah dalam, mulailah beralih dari pemandangan pohon sawit di kiri kanan jalan, berganti dengan tanaman akasia dan eucaliptus.




Sesampainya di desa Batu Gajah, kami langsung disambut dengan keramahan masyarakat di sana. Sajian makan siang telah tersedia, nasi kotak dan juga suguhan dari masyarakat sekitar yang berupa ketela goreng dan jagung rebus, hasil dari perkebunan mereka. Jangan ditanya, bagaimana perut yang sebelumya keroncongan berubah menjadi dangdutan *eh :D





Agus Suryono

Setelah selesai makan, Mas Amril Tufik Gobel kembali membuka acara, dengan memperkenalkan peserta kegiatan ini, dan tujuan kami datang ke sana. Selanjutnya, ada sambutan dan pemaparan tentang aktifitas Desa Makmur Peduli api. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Agus Suryono, S.Ag. Yang sehari-harinya berprofesi sebagai seorang guru, dan juga ketua kelompok petani. Beliau memaparkan bahwa desa telah mengikuti program ini sejak tahun 2014. Sudah banyak bantuan yang diterima, seperti bantuan sapi pada 2016 dan hingga 2019 ini, sapi yang dulunya berjumlah 6 ekor, telah berkembang biak menjadi 18 ekor. Begitu juga dengan petani holtikultura, jagung, dan cabe, yang mendapatkan bantuan bibit. Bahkan, mereka menjadi pemasok cabe terbesar untuk Tapung. Sedangkan para nelayan, diberikan bantuan untuk memudahkan aktivitas mereka dalam menangkap ikan, sekaligus kesempatan untuk memenuhi konsumsi perusahaan saat ada jamuan, seperti menyediakan ikan kopiek atau baung. Sehingga menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat.

Demo Membuat Kerajinan, Demo Masak, dan Kunjungan ke Kandang Sapi

Kegiatan kami selanjutnya adalah melihat demo membuat kerajinan yang dibuat oleh Masyarakat khususnya perempuan di desa Batu Gajah. Kerajinan mereka itu berupa tudung saji, yang dibuat dari batang bambu dan pelepah pinang. Yang unik, tinta yang digunakan untuk membuat motif pada tudung tersebut, terbuat dari jelaga bekas lampu teplok yang dicampur dengan getah kulit jeruk nipis. Hasil kerajinan ini lalu dipasarkan, dengan harga jual 40 ribu rupiah.




Selanjutnya, kita beralih ke meja yang lain. Di sana, ada beberapa Ibu dari Desa Suka Mulya SP 2, yang akan melakukan demo masak, yaitu memasak keripik tempe dan keripik pisang. Tempe yang mereka gunakan untuk membuat keripik tempe, berasal dari kedele yang dihasilkan oleh masyarakat di sana, dan diolah langsung hingga menjadi tempe. Sedangkan keripik pisang, pisangnya berasal dari pisang yang mereka tanam sendiri. Saya takjub dengan ukuran pisangnya yang besar. Ternyata rahasianya adalah pemberian pupuk yang berasal dari kotoran sapi yang juga dipelihara oleh Masyarakat tadi. Hasil olahan kebun berupa keripik ini selain di pasarkan di daerah sekitar, juga dipasarkan secara online dan penjualannya juga sudah sampai ke Pekanbaru. Harganya juga terjangkau, aneka keripik seperti keripik tempe, keripik pisang, keripik ubi,  dan aneka keripik lainnya dijual seharga 10 ribu rupiah perbungkus




Terakhir, kami mengunjungi kandang sapi. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari tempat kami berkumpul tadi. Sesampainya di sana, saya hanya melihat dari kejauhan, bukan karena semerbak bau kotoran sapi yang menguar, tapi  karena sempat terjadi insiden Ibu yang biasa memberi makan sapi di sana, diseruduk. Mungkin sapinya panik, karena tidak terbiasa didatangi oleh orang banyak, dilihatin, difoto-foto pula, mungkin si sapi khawatir bakal viral :D



Walaupun sebenarnya banyak tempat yang ingin dikunjungi untuk melihat kegiatan masyarakat di sana, namun terkendala dengan waktu yang terbatas. Sebab kami harus kembali lagi ke hotel. Ada acara penutupan, sekaligus pengumuman pemenang lomba live tweet dan instagram.

Mengapa Para Blogger?

Acara Forest Talk With Blogger ini, telah diadakan juga di Jakarta, Palembang, dan Pontianak. Kenapa para blogger? karena bisa dikatakan kita termasuk yang paling banyak dan sering menggunakan sosial media. Maka, diharapkan, kita sebagai corong informasi kepada masyarakat untuk terus aktif bersuara tentang isu lingkungan. Memberikan edukasi agar setiap orang ikut bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan. Menjaga bumi yang sama-sama kita tinggali ini.



Credit: Grup Blogger Pekanbaru

Berbincang Tentang Kelestarian Hutan dan Anak Cucu yang Akan Datang

Ya, anak cucu yang akan datang. Wajah kedua putri saya, wajah anak-anak Indonesia, menari di pelupuk mata saya. Bagaimana kondisi bumi nanti jika kita tak bergerak mulai dari saat ini?. Apakah hutan, zambrud Khatulistiwa akan menjadi sebuah cerita saja, karena tak lagi bisa ditatap oleh mata. Apakah laut masih biru atau malah menghitam dipenuhi limbah industri dan sampah plastik.



Sahabat Ummi...

Mari kita bergerak, menjalankan peran kita sebagai seorang ibu. The power of emak-emak. Banyak hal yang bisa kita lakukan, dimulai dari rumah, dari keluarga kita sendiri. Apa saja yang bisa kita lakukan?

  • Meminimalisir penggunaan plastik
Hal tersebut bisa kita lakukan dengan menggunakan tas kain saat berbelanja. Membiasakan diri untuk membawa wadah sendiri dari rumah saat hendak membeli makanan, dan juga tempat air minum sendiri, seperti tumbler. O yah, jangan lupa, gunakanlah pipet yang berbahan stainles atau yang terbuat dari bambu.

Buat kita yang perempuan, mulailah kembali untuk menggunakan pembalut yang terbuat dari kain (menspad) atau cup menstruasi. Begitu juga para ibu yang mempunyai bayi, kurangi penggunaan popok sekali pakai.
  • Membeli pakaian ketika butuh
Ya, belilah pakaian baru ketika kita memang sudah membutuhkannya, bukan karena keinginan untuk mengikuti tren fashion. Toh, untuk bisa tetap tampil oke, kita bisa melakukan mix and match pakaian. Lalu, pakaian lama yang sudah tidak muat lagi digunakan, bisa kita sumbangkan kepada orang lain, dengan catatan memang layak pakai.
  • Mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, mengurangi konsumsi daging
Dengan memperbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran, itu berarti kita ikut berpartisipasi untuk mengurangi penggunaan energi yang begitu besar di industri peternakan. Selain itu, tentunya juga lebih sehat
  • Menanam tumbuhan di rumah
Kita bisa melakukan penghijauan di rumah, baik menanam tanaman hias, tanaman berbuah, maupun tanaman obat. Tak punya halaman yang cukup luas? kita bisa menggunakan pot atau menanam secara hidroponik. Tak hanya berperan sebagai suplai udara bersih, tanaman tersebut juga dapat membantu memenuhi kebutuhan harian.
  • Hemat penggunaan listrik dan air
Perhatikan bagaimana peggunakan listrik dan air di rumah kita. Pastikan lampu atau alat-alat elektronik yang tidak digunakan, kita matikan. Begitu juga kondisi keran di kamar mandi, jangan sampai ada yang menetes dan meluber terbuang percuma.
  • Membuat lubang biopori dan sumur resapan air
Tak dipungkiri bahwa saat ini, orang-orang yang tingal di perumahan, cendrung membuat semen bahkan tidak menyisakan halaman yang berumput. Maka, kita bisa membuat lubang biopori atau sumur resapan, tidak hanya bermanfaat untuk mengurangi masalah banjir, tapi juga masalah kelangkaan air. Terutama di daerah padat penduduk.

Bagaimana, Sahabat Ummi siap? ^___^

Credit: Grup Blogger Pekanbaru