Kongkow Ngobrolin Bareng Kak Oci, Penulis Buku I Will Survive

Pada penasaran dengan buku I Will Survive yang saya tulis duet dengan Mbak Riawani Elyta?. Buat yang di Pekanbaru, yuuuuuk ikutin acara ini:

Kongkow Nulis present 

Kelas Spesial Juli 📆
 
"Kongkow Ngobrolin Bareng Kak Oci, Penulis Buku I Will Survive"

Penulis asal Pekanbaru ini akan berbagi ilmunya untuk kita loh.
Ingin tahu pengalaman Kak Oci menerbitkan buku,
Cerita dibalik buku I Will Survive yang sudah tersebar di seluruh Gramedia, serta Tips Trik Menerbitkan Buku.
Ayo datang !
Minggu, 31 Juli 2016
16.00 s/d selesai
di Cafe Coffe Toffe, Jalan Kartini
Daftar disini 👉 bit.ly/kongkownulis
Ajak yang lain ya !
Terbatas 30 Peserta dan Gratis !
Jadikan akhir pekan kamu bermanfaat!
More info 💁
Facebook : Kongkow Nulis
Twitter : @kongkownulis
Website : www.kongkownulis.com
Eits, kalo yang mau info gimana caranya bergabung di kongkownulis dateng ya !

Bagi yang berminat, buruan daftar yaaaaa :)



THR Lebaran Anak Untuk Apa?



Saat lebaran tiba, kegembiraan bagi anak-anak yang udah mengerti uang itu semakin bertambah. Memorinya terang saat dia memperoleh banyak amplop kecil-kecil yang bergambar lucu, berisi uang.

Begitu juga dengan Mbak Nai. Sebelum lebaran tiba, dia sudah heboh meminta uang kepada Abinya untuk mengisi amplop-amplop kecil yang kami beli di swalayan, untuk dibagi-bagikan kepada tamu "kecil-kecil" saat lebaran. Tak kalah hebohnya, Nai sudah membuat list barang yang akan dia beli dari amplop yang nanti dia dapatkan saat lebaran. Ya ampuuuuun... Itu lucu, lebarannya belum, dapet amplop THR juga belum, eh udah menghayal beli ini itu :D

Tapi, ternyata saat lebaran dan Nai mendapatkan amplop THR yang lumayan, dia malah sayang untuk membelanjakannya. Buat jajan-jajan makanan aja minta uang Abinya. List yang dia buat, nggak satu pun dia belikan.

Akhirnya, saya dan Abinya memberikan saran. Uang THR yang Nai dapat mau diapakan? Di belikan sesuatu, ditabung, atau disedekahkan. Nai milih untuk ditabung dulu. Terinspirasi dari salah satu episode Upin dan Ipin. Nai ingin punya tabungan di bank, bukan di celengan lagi. Trus, nai juga pingin punya kartu ATM seperti Upin dan Ipin.

Baiklaaah, kami kabulkan. Begitu Bank mulai kembali beroperasi, kami ke sana untuk membuka tabungan buat Nai. Nai mengikuti prosesnya dengan serius, sesekali bertanya. Wajahnya ceria sekali dan tak sabar ingin memegang kartu ATM yang bertuliskan namanya. Padahal harus menunggu 14 hari baru bisa pegang kartu ATMnya :D

Bagaimana dengan amplop-amplop THR adek Khai? Psssssst... Yang itu untuk Umminya hihihihi...

Hari Anak Nasional, Apa Kabar Anak-anak?

Tanggal 23 Juli ini diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Hmmmmm... Tarik nafas panjang, karena banyak hal di kepala yang ingin dituliskan tapi seolah kehilangan kata-kata untuk menuliskannya. Kalau boleh diringkas ke dalam sebuah kalimat saja, maka saya akan tulis bahwa Anak-anak itu SEDERHANA. Ya, SEDERHANA, nggak ribet seperti kita orang dewasa. Kebutuhan mereka juga sederhana, hanya doa, kasih sayang, dan teladan.

Ho ho ho... tapi jangan salah, buat kita, nggak sesederhana itu.

Doa, kapan terakhir kali kita berdoa dengan khusuk, mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Adakah lebih banyak dari kemarahan yang sering kita muntahkan kepadanya?.

Kasih Sayang, kapan terakhir kali kita menyayangi anak kita tanpa syarat, unconditional love. Adakah lebih banyak kita membuat pengalihan demi menyelamatkan ego diri?.

Teladan. Nah, ini yang paling berat. Teladan seperti apakah yang sudah kita berikan kepada mereka?.

Pertanyaan-pertanyaan itu saya jawab sendiri dalam diam. Sesak. Menyesal. Tapi, kita tak bisa mengulang kembali waktu yang telah berlalu. Maka, kita hanya bisa berdoa agar tetap diberikan hari esok untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Mari bilang Aamiin...

 

Kongkow Nulis Open Recruitment!

Salah satu hal bermanfaat yang bisa dilakukan oleh orang yang tertarik dengan dunia kepenulisan adalah bergabung dengan komunitas menulis. Nah, buat yang di Pekanbaru, bisa gabung di Komunitas Kongkow Nulis. Banyak manfaatnya, selain itu bisa menjaga semangat menulis tetap membara. Cek ketentuannya yah :

1. Mengisi form pendaftaran yang telah tersedia di website KongkowNulis dan mengirimkan formulir yang berisikan (identitas+foto) ke email : kongkownulis@gmail.com
[Identitas yang dicantumkan wajib memenuhi unsur berikut ini : Nama, Alamat, Tempat/Tanggal lahir, Kegiatan saat ini, Nomor Ponsel (Akun Whatsapp mesenger), Alamat email, Motivasi menjadi member, dan Deskripsi singkat mengenai diri kamu sendiri. Untuk hal lain seperti pengalaman organisasi atau prestasi dlm bidang menulis jika ingin kamu tambahkan silahkan. Dibuat dalam format .doc (M.Word) dengan Tulisan Times new roman ukuran 12, spasi 1,5. Maksimal 3 halaman.
Foto ukuran 3x4 dilampirkan pada email dan tampilkan pada lembaran identitas di bagian kiri bawah halaman pertama.]

2. Setiap calon member Wajib mengikuti minimal satu event
yang diselenggarakan oleh KongkowNulis sebelum register. Bagi yg belum pernah ikutan, gak usah khawatir. Pasalnya tanggal 31 Juli 2016 bakal ada kegiatan kongkow ngobrolin. Info menyusul ya..

3. Aktif dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh
kongkow nulis.

4. Setiap member akan dilakukan evaluasi 1x 6 bulan oleh tim HRD terkait dengan keaktifan dan partisipasinya di kongkow nulis.


Pajangan Untuk Pikir Panjang




Di rumah, bagian ruang tengah, ada space dinding yang masih kosong. Pengen deh ganti suasana, ada pajangan apa gitu di sana, apa lagi mau lebaran seperti kemaren, hasrat untuk menghias rumah semakin menggebu-gebu bagi para emak-emak muda kayak kita ini, ya kaaaan :D
Kira-kira apa yah, foto? nggak deh. Hmmmm... pengennya piring-piring cantik ala-ala shabbychic gitu, tapi apa daya, budget tiada hihihi...

Akhirnya, mikir apa yah yang nggak cuma sekedar pajangan tapi juga bisa bermanfaat gitu. Nah, berhubung penghuni rumahnya sedang dalam proses hijrah, jadi terpikirlah pajangan yang bisa membantu kita untuk tetap istiqomah.

Ini dia idenya, tulisan-tulisan mutiara yang Insya Allah bisa membantu ingatan kita. Tentunya yang menarik tapi tetap low budget. Dengan bermodalkan 3 buah bingkai foto plastik yang perbingkai dibandrol 13.000 aja, plus modal kertas dan printer yang udah full tinta, jadilah pajangan-pajangan ini.





Tertarik? Sila disontek saja :)

Saat Anak Kembali Masuk Sekolah

Besok, hari pertama Mbak Nai masuk sekolah. Hari pertama Mbak Nai sekolah sebagai anak kelas 2 SD. Nai itu, sekolahnya selalu diantar Abi. Umminya ikut kalau pas adek Khai udah bangun dan minta untuk ikut nganterin Mbaknya ke sekolah, harus ikut. Jadi, sebelum ada kampanye untuk mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama sekolah, yah dari awal Nai sekolah (mulai PAUD), Nai memang selalu diantar. Bersyukur sekali, bisa tiap nhari menyiapkan keperluan sekolah dan mengantarkan Nai sampai sekolah. Saya dan si Abi melakukannya dengan bekerjasama.

Saat liburan sekolah hampir usai, perjuangan banget untuk mulai mengatur kembali jadwal anak. Biasalah, udah keenakan liburan, butuh pembiasaan kembali dengan rutinitasnya ketika hari sekolah. Begitu juga dengan Nai. Beberapa hari sebelum sekolah dimulai, kami pergi membeli perlengkapan sekolahnya. Wah, toko buku ramai, selain toko buku, yang nggak kalah ramai adalah toko-toko pakaian yang menjual seragam sekolah. Ternyata tukang pangkas rambut juga laris manis. Untuk orang tua yang memiliki anak laki-laki, mulai merapikan kembali penampilan rambut anaknya.

Saya dan Abinya Nai baru membeli perlengkapan sekolah aja, seperti alat-alat tulis dan buku tulis, untuk buku cetak, masih menunggu info dari sekolah. Duh, rasanya agak nggak percaya aja gitu kalau anak sulung saya udah kelas 2 SD hihihi... *berasatua :D

Kembali ke kampanye mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama, gambar ini wara-wiri di timeline FB saya, nggak ada salahnya juga saya bagi di sini:







Bagaimana dengan temans, mengantar anak ke sokalah jugakah di hari pertama sekolah?

Bertemu Riawani Elyta

Lebaran selalu meninggalkan kesan yang berbeda di setiap tahunnya. Begitu juga tahun ini, yang tak kalah spesial adalah saya akhirnya bisa bertemu dengan Mbak Riawani Elyta. Kami kenal lewat dunia maya, sejak tahun 2011. Beberapa tulisan kami mejeng di antologi yang sama. Tahun 2013, terbitlah buku duet motivasi remaja kami yang berjudul ‪#‎KitabSaktiRemadjaOenggoel‬ dan di 2016 ini buku ‪#‎IWillSurvive‬ lewat Penerbit Indiva. Alhamdulillah Allah memperkenankan kami untuk bertatap muka secara langsung di Lebaran 2016 ini.

Mbak Lyta yang berdomisili di Tanjung pinang bersama keluarganya berlebaran di Pekanbaru. Mbak Lyta memiliki saudara di sini dan menyempatkan diri juga untuk mampir ke rumah saya. Rasanya seneng banget, seperti mimpi. Kami biasa berinteraksi lewat dunia maya, kini telah bertatap muka. Kami sudah menulis buku duet motivasi remaja sebanyak 2 kali, kini saling unjuk gigi (tertawa bersama).

So, buat pembaca buku duet kami, inilah penampakan duo kakak keren itu! 

 Foto: Riawani Elyta

Sambal Mentah Uleg Tempe Semangit Ala Ummi







Tempe semangi atau tempe busu adalah tempe yang sudah tidak segar lagi. Warnanya telah berubah agak kecoklatan dan mengeluarkan aroma yang khas. Banyak yang tidak menyukainya. Tapi berhubung di rumah sedang ada banyak tempe semangit, nggak ada salahnya saya mencoba untuk mengolahnya. Biasanya tempe tersebut saya buang. Tumben aja kali ini saya berniat untuk menjadikannya sebagai salah satu menu buka puasa.

Baiklah, saya mulai melakukan pencarian resep di mbah Google. Ternyata ada banyak resep yang menggunakan tempe semangit sebagai salah satu bahan utamanya. Saya tertarik dengan tempe yang diolah simple. Saya modifikasi dan jadilah sambal mentah uleg tempe semangit.

Berikut resep lengkapnya:

Bahan:

  • Tempe semangit1 papan ukuran sedang
  • Cabe merah 5 buah
  • Cabe rawai 5 buah
  • 4 siung bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 3 ruas kencur ukuran sedang
  • 2 lembar daun jeruk diiris-iris halus
  • Garam dan gula pasir secukupnya
Cara membuatnya:
  • Tempe semangit dikukus selama 5 menit
  • Haluskan came merah, rawit, bawang merah dan putih, kencur, dengan garam dan gula.
  • Tempe semangit yang telah dikukus kebudian kita uleg hingga agak hancur, campurkan dengan bumbu halus dan irisan daun jeruk.
Hmmmmm... rasanya enak juga, pedes, gurih, dan segar. Lain kali saya nggak akan buang deh stock tempe yang udah semangit :)

Saat Nai Ikut Lomba Tahfiz Al-Qur'an


Dalam rangka nuzulul Al-Qur'an, sekolah Mbak Nai mengikuti sebuah lomba tahfiz yang diikuti oleh anak-anak dari berbagai daerah. Mbak Nai terpilih sebagai salah satu perwakilannya. Mbak Nai yang baru saja naik ke kelas 2 ini masuk ke dalam kategori tahfiz juz 30. Sebagai orang tua saya dukung dong. Ini akan menjadi pertama kalinya Nai tampil di depan umum, tidak hanya terbatas pada teman-teman sekolahnya saja.

Nai semangat dan sepertinya sudah mulai percaya diri untuk tampil di depan umum. Walaupun sebelum tiba gilirannya, Nai sempet bilang ke saya kalau malu dan takut salah. Tapi mulai semangat lagi saat melihat teman dekatnya maju dan dapat tampil dengan baik.

Tibalah giliran Nai. Ia mengambil 1 buah kertas yang digulung, isinya surah yang harus dibaca. Setelah membaca surah tersebut, selanjutnya 2 orang juri akan melakukan tes sambung ayat. Ada 4 surah yang diujikan. Alhamdulillah Nai dapat menjawabnya dengan lancar. Suaranya lantang, walaupun masih terlihat agak grogi sih. Nggak papa, namanya juga pertama kali, masih belajar. Nai udah berani tampil aja udah hebat.

Setiap anak itu unik. Karakternya berbeda-beda, ada yang pemalu-ada yang berani tampil. Bagaimanapun, kepercayaan diri itu harus terus dipupuk. Mengikuti sebuah acara seperti ini juga bisa menjadi sarana latihan bagi anak. Seusia Nai dulu, saya sudah dilatih untuk berani tampil. Hanya saja lebih banyak tampil dalam acara kesenian seperti menyanyi, baca puisi, dan menari. Alhamdulillah sekarang Nai bisa lebih baik dari saya. 

Berikut ini ada beberapa tips agar anak semangat untuk menghafal Al-Qur'an:
  • Masukkan anak ke sekolah atau TPA yang memiliki program tahfiz Al-Qur'an. Belajar bersama teman-teman akan lebih menyenangkan bagi anak.
  • Sebelum memilih sekolah atau TPA yang ada program tahfiznya, kenali dulu kompetensi pengajarnya.
  • Fasilitasi anak dengan baik, salah satunya dengan memilih Al-Qur'an yang besar. Ini memudahkan anak untuk belajar menghafal Al-Qur'an, agar jelas tulisannya.
  • Boleh memberikan reward kepada anak. Tapi jelaskan juga bagaimana reward yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang menghafal Al-Qur'an.
  • Sebagai orang tua, jangan mau kalah. Jika kita ingin mendapatkan mahkota di Surga kelak dari anak-anak kita, tidak inginkah kita memberikan mahkota juga kepada orang tua kita kelak di Surga?. Jangan malu belajar bersama dengan anak kita, kegiatan menghafal malah bisa menjadi lebih menyenangkan.
 Temans ada tips yang lain? ^__^

 

Saat Dompet Hilang

Kalau bulan Ramadhan gini, saya biasanya pergi berbelanja untuk kebutuhan masak-memasak itu jam 9 an. Belanjanya nggak terlalu jauh, biasanya belanja bahan-bahan masak untuk 2 hari, kecuali seperti cabe dan bawang yang memang di stock banyak. Biasanya belanja ditemenin sama suami. Seperti hari ini, belanjaan udah komplit. Nggak pake mampir kemana-mana lagi, langsung pulang karena suami kudu ngantor.

Sesampainya di rumah, saya menyusun belanjaan di kulkas. Lalu memanaskan makanan untuk adek Khai, sebagai satu-satunya penghuni rumah yang nggak puasa. Aha, tiba-tiba saya ingat kalau sedang menunggu info buka bersama yang akan diadakan bersama dengan teman-teman S1 saya dulu. Berhubung android saya sedang rusak, jadilah saya hanya berkomunikasi via sms, karena jarang OL juga via laptop.

Tapiiii... saya nggak nemuin dompet yang sebenarnya berupa pouch, yang saya bawa belanja tadi. Di dalam dompet itu ada semua uang belanja yang baru dikasih suami tadi malam dan juga HP. Saya cari di semua ruangan yang sudah saya singgahi sejak pulang belanja tadi. Nihil. Akhirnya, saya minta adik ipar saya untuk menelpon dan ternyata diangkat oleh seorang laki-laki. Ia mengatakan bahwa telah menemukan dompet saya di jalan. Lalu ia minta saya untuk menjemputnya. Syukurnya lokasi tidak jauh dari rumah, dan yang menemukan dompet itu bekerja di kantor pemerintah yang nggak jauh juga dari rumah saya.

  Alhamdulillah... rezeki emang nggak kemana. Dompet saya kembali dengan isi yang utuh. Dari kejadian ini, saya mendapatkan beberapa pelajaran, yaitu:
  • Saat pergi berbelanja, bawalah uang seperlunya saja
  • Jika menggunakan dompet dan meletakkannya di saku, pastikan saku pakaian kita cukup dalam.
  • Apabila di dalam dompet kita yang hilang tak ada KTP atau kartu pengenal yang lain, tapi ada HP, biasakan menyimpan no orang terdekat kita dengan nama yang jelas, jangan alay atau menggunakan julukan yang aneh. Misalnya untuk no suami gunakan: cintaku, suamiku, ayahnya anak-anak, dll
  • Pastikan bahwa HP kita bebas dari gambar yang tidk boleh dilihat oleh orang lain, misalnya foto-foto di rumah yang sedang tidak berkerudung. Khawatir yang nemu membuka galeri foto kita.
  • Semakin percaya bahwa masih banyak orang baik yang melakukan sesuatu tampa pamrih
  • Semakin yakin bahwa sedekah mampu menolak bala

Hidayah

Sumber: Google

Di setiap Ramadhan, selalu ada hal yang berbeda. Ramadhan tak pernah sama. Ada harap yang membuncah juga untuk dipertemukan kembali dengan Ramadhan-ramadhan selanjutnya. Tentunya dengan harapan dalam kondisi yang semakin lebih baik. Walaupun kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di Ramadhan nanti. Apakah anggota keluarga ada yang "pergi", ada anggota keluarga baru, di rumah/di kota yang sama dengan Ramadhan ini, dalam kondisi sehat atau tidak...................., ......................., ................................
Ah... hanya doa yang bisa kita lantunkan. Sembari meyakini bahwa apapun ketentuan Allah adalah yang terbaik untuk kita.


Seperti Ramadhan kali ini. Alhamdulillah... anggota keluarga kami bertambah, saya sekarang mempunyai 2 orang adik ipar. Sebagai anak perempuan satu-satunya, rasanya senang banget karena akhirnya punya adik perempuan. Ramadhan kali ini juga saya jalani di rumah yang berbeda dari Ramadhan lalu. Ramadhan ini juga Mbak Nai semangat banget belajar puasanya. Dan, Ramadhan ini juga saya gembira karena keponakan saya akhirnya hijrah.

Ya, keponakan yang sempat tinggal dengan saya dan orang tua saya sejak kelas 4 SD hingga kelas 1 SMP itu akhirnya berhijab. Di usianya yang menginjak 17 tahun ini, dia diberi hidayah oleh Allah. Awalnya, saya heran kenapa foto profil di Instagramnya berbeda, ternyata foto-foto lamanya sudah ia hapus semua. Saat akhirnya ia ke rumah saya, barulah saya semakin yakin dan mengerti.


 Sumber: Google

Alhamdulillah... Allah Maha Baik padanya. Semoga dia bisa istiqomah, semakin semangat dalam menuntut ilmu agama. Sungguh, gadis cantik dan seorang anak tunggal itu telah melewati banyak hal di dalam hidupnya. Dari perjalanan hidupnyalah saya juga belajar mensyukuri hidup saya. Jadi, wajar jika saya sangat bersyukur dan terharu.

Tak kalah bahagianya, saat dia mengatakan bahwa buku yang saya tulis dan berikan padanya menjadi salah satu motivasinya untuk berhijrah. Buku apakah itu? buku Kitab Sakti Remadja Oenggoel dan I Will Survive. Buku motivasi remaja yang saya tulis.



Kitab Sakti Remadja Oenggoel mengajak pembacanya untuk mengenali dirinya dan penciptaannya, agar semakin mengenal sang pencipta, Allah SWT. Sedangkan buku I Will Survive, mengupas tuntas tentang masalah. Mengajak pembaca untuk memahami apa itu masalah dan bagaimana bisa tetap survive. Pokoke dua buku yang TOP banget deh buat remaja dan orang tua.


Saya jadi ingat bagaimana awal saya hijrah dulu. Bagaimana support dari orang-orang terdekat saya. Jadi, hal yang sama juga saya lakukan untuk keponakan saya itu, yaitu:
  • Menawarkan bantuan dengan memberikan apa yang paling dibutuhkannya saat ini. Tentu saja yang paling dibutuhkan oleh saudari kita yang baru hijrah adalah pakaian dan kerudung. Biasanya mereka ada keterbatasan jumlah pakaian yang sesuai.
  • Memotivasinya untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu agama, dengan belajar ke majelis ilmu yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Membaca buku yang tepat, terutama berhubungan dengan dalil-dalil yang digunakan.
  • Menyampaikan atau menasehati dengan cara baik dan lemah lembut. Kita bisa memilih cara dengan memberi teladan yang baik dibandingkan kata-kata tajam. Untuk hidayah, itu urusan Allah, dan hargailah proses seseorang.
 Barakallah keponakanku.... ^___^

Sumber: Google

Cerita Puasa Ramadhan Kedua Nai




Ini adalah bulan Ramadhan ke 2 Mbak Nai belajar berpuasa. Jika dulu Nai puasa penuhnya dikit banget, banyakan puasa setengah harinya, di Ramadhan ini--sampai tulisan ini diposting- puasa Nai full. Alhamdulillah belum ada batal sama sekali. Seneng deh, banyak banget kemajuan Nai dibandingkan Ramadhan tahun lalu. Mungkin karena Nai udah SD yak, dan di sekolahnya anak-anak juga udah diajarkan dan dianjurkan berpuasa juga, dimulai dari puasa sunnah senin dan kamis.

Ada beberapa pola yang masih sama dengan Ramadhan tahun lalu. Seperti waktu berbuka, Nai masih lebih memilih untuk minum yang buaaaaanyak, makan buah, or kue. Nanti setelah isya baru makan nasinya. Nah, kemajuan yang menyenangkan adalah Nai bangun sahurnya nggak sesulit Ramadhan tahun lalu, yah walaupun masih agak merengek juga sih dan rada rewel dengan menu sahurnya. Tapi Alhamdulillah selalu sahur, saat kecepatan suapannya mulai melambat, itu artinya dia butuh bantuan alias minta disuapin hihihi...

Untuk kegiatan selama berpuasa, Nai tetap masuk sekolah dari jam 15.30 wib-17.30 wib. Nai sekolah di SDIT Plus Tahfiz, jadi kegiatannya selama di sekolah adalah menghafal Al-Qur'an. Pas di rumah, Nai paling asyik main dengan adek Khai, plus muraja'ah. Saat pulang sekolah, kami mengajak Nai jalan-jalan dan dia bisa memilih minuman dan makanan seperti buah atau kue untuk berbuka. Jadi, begitu sampai di rumah, udah anteng nunggu waktu beduknya :D

Hmmmmm... melihat Nai, saya seperti mengingat pengalaman saya berpuasa dulu saat seusia Nai juga. Badan kami sama-sama sangat langsing (menolak dikatakan kurus banget :D).Tapi Alhamdulillah saya sehat dan bisa berpuasa dengan baik. Yang terpenting, asupan makanannya baik plus berikan madu sebagai tambahan nutrisi. Semoga puasa Mbak Nai lancar hingga akhir Ramadhan nanti, aamiin... ^__^

Duhai Hati

Cantik... Memiliki keluarga yang bahagia, pendidikan dunianya bergelar S2, pendidikan akhiratnya belajar hingga ke Arab sana, mapan secara finansial, memiliki berbagai usaha, terkenal sebagai artis dan pendakwah.

Duhai hati... Jika hanya ada rasa iri tapi tak membuatmu termotivasi, sungguh amat rugi. Berakhir menjadi barisan orang sakit hati. Menyebar benci, padahal dalam iman ia adalah saudari.

Padahal... Kita tak tahu bagaimana kesehariannya, tak tahu apa yang telah dikorbankannya, tak tahu juga bagaimana keadaannya kelak diakhir hayatnya, tak tahu bagaimana Allah memandangnya.

Kita sibuk menjadi tim penilai, menjadi komentator, bahkan fasilitator dalam memakan bangkai saudarinya.

Duhai hati... Kemana perginya rasa bersyukur. Adanya kufur hingga membuat tersungkur.

Duhai hati... Kenapa tak memilih bahagia, syukuri yang ada, berusaha menjadi yang terbaik di mata Allah sepanjang masa, tak lupa mendo'akan sesama. Sungguh hanya Allah yang tahu isi hati semua makhluknya.

Shubuh ini, selepas sahur dan menyaksikan di televisi tausiahnya, saya masih tetap menyandang status ibu rumah tangga yang tak memiliki karier di luar sana, tetap menyandang gelar pendidikan dunia S2, tetap dengan list pekerjaan domestik yang sama. Tetap dengan mimpi bisa semakin bermanfaat untuk agama dan sesama. Tetap dengan do'a agar menjadi istri, anak, dan ummi yang shaliha.

Bagaimana denganmu duhai hati saudari-saudari?
 
 Saya, Mbak Naqiyyah, dan OSD

Resep Ayam Bakar Bumbu Rujak Ala Ummi





Apa menu berbuka hari ini?. Biasanya emang rada ribet yah, masih bingung mau masak apa. Belum lagi, galau ngelihat aneka makanan yang dijual di pasar-pasar Ramadhan or di pinggir-pinggir jalan. Enaknya masak sendiri or beli aja yak. Tergantung kondisi sih, ada yang maunya beli aja yah silahkan, yang mau masak sendiri juga silahkan. Yang penting, makanan yang kita hidangkan adalah makanan yang halal dan thoyib. Bener nggak? :)

Nah buat yang pengen masak sendiri untuk hidangan berbuka buat keluarga, resep saya ini boleh dicoba lho. Ayam bakar bumbu rujak, rasanya enak dan bikinnya juga nggak pake ribet. Memanggangnya pake double pan ajah buibu,,, :D

Resep Ayam Bakar Bumbu Rujak

Bahan:


  • 1 ekor ayam
  • 700 ml santan dari 1 butir kelapa
  • 1/2 buah jeruk nipis peras airnya
  • 3 lembar dau jeruk
  • 2 batang serai
  • Minyak goreng secukupnya
Bumbu:
  • 10 buah cabe merah
  • 10 buah bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • 5 butir kemiri
  • 1 cm kunyit
  • 1 buah tomat merah ukuran sedang
  • 1/2 sdt merica
  • 1 1/2 sdt garam
  • 2 sdm gula merah
Cara membuatnya:
  • Bersihkan ayam, potong-potong dengan ukuran sesuai selera. Lalu lumuri dengan air jeruk nipis.
  • Haluskan bumbu, kemudian di tumis hingga harum, bersama dengan daun jerukdan batang serai. Lalu masukkan santan, aduk hingga mengental.
  • Masukkan ayam, aduk hingga rata, lalu letakkan ke dalam double pan. Masak hingga bumbu meresap dan matang.
Gampangkan, rasanya dijamin ueeeenaaaak... Selamat mencoba ^__^

Sepasang Sayap Menuju Surga



Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sebagai seorang Ibu, kita harus rajin menimba ilmu. Tak pernah merasa cukup, karena dalam mendidik manusia kita akan selalu menemukan hal baru, sifatnya dinamis. 

Rajinlah mendatangi majelis ilmu, mengikuti seminar atau pelatihan parenting, dan membaca buku. Setidaknya, itulah yang saya lakukan. Mendatangi majelis ilmu rutin 1 minggu sekali. Berusaha untuk mengikuti seminar parenting, dan membaca buku-buku parenting.

Seperti waktu itu, saya mengikuti seminar parenting tentang Mewujudkan Pendidikan Berbasis Aqidah Islam, yang salah seorang pematerinya adalah Bunda Astri Ivo. Selain isi seminarnya yang keren, buku yang diberikan gratis kepada  peserta seminar juga sangaaat keren.

Sebuah buku parenting yang gaya penulisannya seolah kita tengah menyimak langsung kata perkata keluar dari mulut seorang Astri Ivo. Santai, tak menggurui. Buku parenting yang tak membuat kita lelah karena dijejali teori ini itu lalu menghadirkan feeling guilt yang parah.

Buku ini memiliki penuturan yang lembut. Sebuah autobiografi Astri Ivo. Membawa kita mengenal lebih dalam bagaimana metamarfosis aktris lawas yang masih hits hingga saat sekarang ini. Bagaimana keluarganya, bagaimana cara ia dibesarkan oleh orang tuanya, bagaimana perjalanan kariernya, bagaimana kisah cintanya dengan sang suami, bagaimana kisah hijrahnya, dan tentu saja bagaimana ia mendidik 2 orang putranya.

Banyak sekali kejutan yang kita dapatkan di buku ini, terutama tentang bagaimana seorang Astri Ivo dibesarkan oleh orang tuanya yang telah bercerai. Bertabur pelajaran baik, menghantarkan Astri Ivo menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam mengarungi bahtera rumah tangganya bersama sang suami dan kedua putra mereka.

Buku yang terdiri dari 26 bagian ini, penuh ibroh. Layak menjadi salah satu referensi kita dalam mengasuh buah hati. 

Terakhir, sepasang sayap menuju surga, apakah sayap itu? Kita akan menemukannya di buku ini dan membuat kita berusaha untuk mengepakkan sayap yang sama untuk menuju surga.