Resep Wedang Uwuh



Sahabat Ummi...

Buat yang lahir, besar, atau pernah mukim di Jogja, tentu nggak asing lagi dong yah dengan wedang Uwuh. Arti dari wedang adalah minuman, sedangkan uwuh adalah sampah, jadi minuman sampah? eits, bukan begitu. Jadi, wedang uwuh ini dibuat dengan banyak rempah berkhasiat, yang penyajiannya masih ada rempah-rempah tersebut. Rasanya? manis-manis pedes, dan nikmat banget diminum hangat-hangat.

Berhubung suami saya dulu lama di Jogja, jadilah saya cobain bikin. Tapi karena rempah secangnya kurang banyak, jadi warnanya nggak terlalu pekat hahaha... nggak papa lah yah, namanya juga baru pertama kali bikin. Lain kali bikin yang lebih oke. Tertarik buat bikin juga? ini resepnya:

Bahan:

  1. Jahe 
  2. Cengkeh
  3. Bunga cengkeh
  4. Batang cengkeh
  5. Daun cengkeh
  6. Kayu secang
  7. Daun pala
  8. Pala
  9. Kayu manis
  10. Daun kayu manis
  11. Sereh
  12. kapulaga
  13. Gula batu
Cara membuatnya:
  • Jahe dibakar, lalu memarkan tapi jangan sampai hancur
  • Masak air, bila sudah mendidih, masukkan semua bahan.
  • Masak hingga mendidih dengan api sedang, kurang lebih 16 menit
  • Angkat, sajikan di dalam gelas, dan nikmat diminum selagi hangat.
Selamat mencoba ^___^

8 Tahun Blogger Bertuah Berbagi Buku Baru



Sahabat Ummi...

Hari minggu lalu, saya menghadiri syukuran yang diadakan oleh Blogger Bertuah. Komunitas blogger di Riau, yang kini usianya sudah 8 tahun. Menarik, karena yang hadir diharuskan membawa 1 buah buku baru, yang nantinya akan disumbangkan ke salah satu taman bacaan masyarakat di Kuansing. Saya ikut nyumbang dong, kebetulan ada 1 buah buku stok saya I Will Survive.


Sahabat Ummi...

Gabung sama komunitas itu nggak cuma bikin nambah teman, tapi juga ilmu dan bisa jadi penyemangat kala lagi down banget buat ngeblog. Apalagi anggota Blogger Bertuah ini kece-kece, penghasilannya lewat internet udah WOW. Sungguh si Ummi ini mupeng banget hahaha... :D

Oke deh, moga Blogger Bertuah makin maju, dan berkah. Aamiin... ^___^





Mengabadikan Nikmatnya Kuliner Khas Riau Lewat Jepretan ASUS ZENFONE



Sahabat Ummi...

Apa lari yang bikin kita capeeeek banget?

Kalau saya sih jawabannya lari dari kenyataan. Iya, lari dari kenyataan kalau berat badan saya itu jauuuuh banget naiknya dari saat masih single dulu hahaha... Sama sih dengan kebanyakan perempuan yang sebenarnya aneh banget, cita-citanya pengen langsing terus, tapi hobinya malah kulineran, isi sosmednya foto makanan :D

Udah deh, daripada capek lari dari kenyataan, mendingan capek untuk mewujudkan harapan yah. Boleh apa aja motivasinya, tapi motivasi terbaik saya adalah untuk kesehatan. Trus, nggak bisa makan enak, jajan, cemal-cemil pas nongki bareng teman dong?

Eits... siapa bilang. Kita tetap bisa menikmati hidup kok hahaha... Tapi tentu aja dengan batasan-batasan tertentu, lebih memperhatikan asupan makanan yang masuk ke tubuh kita. Sebaiknya, pilih makanan yang sehat dan punya nilai plus lainnya, seperti kuliner khas daerah. Nilai plusnya apa? selain enak dan sehat, nilai plusnya adalah kita udah ikut melestarikan kuliner nusantara. Amat disayangkan banget kalau sampai generasi muda nggak kenal dengan kuliner khas daerahnya. Apalagi kalau sampai berpikiran bahwa kuliner khas daerah itu identik dengan orang-orang tua, jaman dahulu kala, yang seleranya nggak kekinian. Lebih memilih aneka makanan junk food. Duuuuh sayang banget, padahal kuliner khas daerah itu enak banget lho.

Saya pribadi, memperkenalkan kuliner khas daerah kepada anak-anak bisa dilakukan kapan aja. Misalnya nih, pas pengen makan di luar, lebih memilih kuliner khas Riau. Pas ada acara besar seperti acara pernikahan, sunatan, atau acara adat, yang biasanya ada makanan khas Riau, langsung deh dikasih ke anak dan dijelaskan apa namanya, trus cerita kalau ini makanan khas daerah kita. Yang paling sering, memasak sendiri kuliner khas Riau, dan disajikan kepada keluarga.

Sebagai bentuk dukungan lain dari ikut melestarikan kuliner khas Riau, saya ikut menyebar luaskan informasi kuliner tersebut, salah satunya dengan mengapload foto-fotonya ke sosmed dan menuliskannya di blog. Jelas dong, butuh foto yang menarik. Foto yang bisa bikin orang penasaran dan ngiler buat nyobain. Jadi, butuh kamera kece dong, ala photographer profesional?

Nggak juga, kita bisa mengambil fotonya dengan kamera handphone kok. Hasilnya bisa tetap kece. Kalau nggak percaya, silahkan mampir ke instagram saya hahaha...

Tipsnya, kita kudu kenali kamera handphone kita. Selain itu, untuk pengambilan foto, perhatikan sumber cahaya. Sebaiknya jangan menggunakan flash dan fitur zoom. Carilah angle yang tepat, agar objek bisa terlihat oke. Nggak ada salahnya kalau kita rajin cari referensi foto yang kece di majalah, instagram atau pintrest.

Nah, saya pribadi udah lama banget pake HP ASUS Zenfone, yang varian ASUS Zenfone 4 buat jeprat-jepret macem-macem, termasuk kuliner khas Riau. Udah pada familiar dong yah dengan ASUS Zenfone. Sejak diperkenalkan pertama kali, udah langsung menyita perhatian para pecinta gadged. Gimana nggak, smartphone yang memiliki fitur-fitur canggih dan desain kelas premium ini, ditawarkan dengan harga yang "sangat miring" lho. ASUS Zenfone 4 yang saya punya, memiliki spesifikasi, layar berukuran 4 inchi dengan resolusi WFGA kualitas baik dilengkapi dengan corning Gorilla glass 3, prosesor intel atom Z2520 Dual-core 1,2GHz RAM 1 GB memori internal 8 GB, baterai tipis Li-po 1200 mAh, dan kamera 5 MP Auto focus serta perekam vidio full HD 1080p@30fps.

Nah, dari semua spesifikasi kece yang dimiliki ASUS Zenfone 4, yang jadi bintangnya adalah fitur kamera. Setiap varian Zenfone secara ekslusif udah dibekali dengan PixelMaster Kamera. Apa sih itu?, itu adalah sebuah teknologi penggabungan pixel dan algoritma optimasi gambar. Jadi, bisa meningkatkan sensitifitas terhadap cahaya dan mengurangi noise. Alhasil, foto yang kita ambil bisa lebih berkualitas, kece, dan terang. Nggak masalah mau jeprat-jepretnya siang atau malam hari.



ada buat selfie dan depth of field mode
(kedalaman bidang)


Siapa yang doyan selfie?, ada selfie mode yang bikin foto selfie kita makin kece. Trus, pengen hasil fotonya yang objeknya bisa terlihat tajam dan detail, sekitarnya jadi blur yang halus banget ala kamera fotographer profesional? bisa. Tinggal pakai depth of field mode ajah. Bahkan, untuk varian ASUS Zenfone 5 dan ASUS Zenfone 6, dilengkapi dengan fitur low-light mode buat jepret di dalam ruangan kurang cahaya, dan fitur time rewind untuk mendapatkan foto yang pas, dengan pengambilan beberapa gambar sebelum dan setelah kita menekan tombol shutter.

Oke deh, mending kita langsung aja yah ke fotonya. Berikut adalah kuliner khas Riau yang kenikmatannya saya abadikan lewat foto:

1. Lempuk Durian

Ini semacam dodol gitu. Rasanya manis legit dan enak bangeeeet. Bahan baku utamanya jelas dong durian.


Foto diambil di dalam ruangan



ASUS Zenfone 4


2. Roti Canai

Kuliner nikmat ini, di santap dengan kuah kari yang lezat. Bisa sebagai menu sarapan. Bahan-bahan dan cara membuatnya juga nggak sulit. Jadi, bisa kita bikin sendiri di rumah.


Foto diambil di dalam ruangan

3. Bolu Komojo

Bolu hijau beraroma pandan ini sangat enak. Saat digigit, tekstur di luarnya agak garing, dan di dalamnya lembuuut. Cocok buat teman minum teh saat tengah santai dengan keluarga atau teman.


Foto diambil di dalam ruangan

4. Sempolet

Ini adalah kuliner khas Riau yang mirip dengan papeda di Irian Jaya. Rasanya gurih dengan taburan ebi goreng di atasnya. Ada juga yang sempolet seafood. Hmmmm... yummy banget! udah lengkap dengan sayuran. Dimakan selagi hangat, nikmat!

Foto diambil siang hari di luar ruangan

5. Dadih

Dadih ini adalah fermentasi dari susu kerbau. Jadi, semacam yoghurt gitu. Aroma dan rasanya khas banget. Kandungan gizinya, jangan ditanya, bagus banget buat kesehatan. Cara mengkonsumsinya, dengan kuah berupa santan segar yang dicampur dengan gula merah dan sedikit garam, lalu tambahkan juga emping dari beras ketan.

Foto diambil siang hari di luar ruangan

6. Roti Jala

Roti jala ini bisa disajikan dengan kuah gurih maupun manis. Gurih bila kita menggunakan kuah kari. Sedangkan untuk yang manis, dengan kuah gula merah, bisa juga dikombinasikan dengan durian. Sedaaaap!


Foto diambil malam hari di dalam
ruangan minim cahaya

7. Mi Sagu

Mi sagu ini rasanya enak banget, apalagi kalau pedes. Bisa kita kombinasikan dengan seafood atau potongan bakso, tergantung selera.


Foto diambil malam hari

8. Es Laksamana Mengamuk

Es yang punya nama unik ini adalah kuliner khas Riau yang terbuat dari buah kuini. Aromanya khas dan rasanya asam-asam manis, segaaaaar.


Foto diambil malam hari

9. Manisan Buah Renda

Manisan dari buah renda ini sepintas mirip anggur yah. Tapi, rasanya beda dong dengan anggur. Saya baru pertama kali nyoba manisan ini pas menghadiri Melayu Food Festival 2016.


foto diambil malam hari

10. Kue Hasidah

Biasanya, kue hasidah disajikan pas acara adat seperti perkawinan atau perayaan besar lainnya. Rasanya manis gurih, dengan taburan bawang goreng. Penyajiannya juga dibuat menarik, bisa dibentuk macam-macam.



foto diambil malam hari

 11. Kue Bangkit

Namanya unik yah. Tapi rasanya enak lho. Kue yang terbuat dari tepung sagu ini, biasa juga disajikan sebagai kue lebaran.


 Foto diambil malam hari

Sahabat Ummi...

Gimana? Ngilerkan?. So, kalau jalan-jalan ke Riau, jangan sampai nggak nyobain kuliner ini yah. Trus, jangan lupa untuk dijepret dan share ke sosmed ^_^

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.


Media Online: Kabar Apa Riau, Apa Kabar Dunia



Sahabat Ummi...

Internet bikin pergaulan kita makin luas, benerkan yah. Kita jadi punya teman banyak banget, nggak hanya satu daerah, satu negara, tapi bahkan hingga ke mancanegara. Dunia maya kita juga semakin hiruk pikuk, walaupun saat mengaksesnya, kita tengah duduk santai sambil minum kopi di rumah.

Ada banjir informasi di time line kita. Buat emak-emak seperti saya ini, hidup bukan lagi hanya tentang di mana saya tinggal, rutinitas saya dalam urusan domestik, tapi lebih dari itu. Ibarat sebuah gudang, semakin sulit untuk memilih mana yang akan dijadikan penghuni gudang, dan mana yang seharusnya menjadi penghuni tempat sampah. Sejatinya, gudang itu tempat untuk menaruh barang-barang yang masih akan digunakan, bukan yang nggak lagi berguna. Nyatanya, sampai saat ini masih sering dilema mana yang harusnya menjadi prioritas dan tentunya sesuai dengan kapasitas.

Ada yang samaan?

Saya rasa banyak. Kita jadi terlibat dalam segala isu kekinian. Memenuhi "gudang" kita demi up to date. Apakah salah? tentu aja nggak, selama kita punya pakem, terus bahasa kerennya nggak baper, sehingga menyedot energi kita lebih banyak, dan lalai terhadap tugas utama kita. Sayang banget, kalau kita kalah cerdas dengan teknologi cerdas yang digunakan dalam mengakses informasi.

Memilih sumber informasi

Ini point pentingnya. Jangan melahap semua informasi yang masuk. Harus ada filter agar informasi berkualitas aja yang kita konsumsi. Itu berguna juga untuk menyelamatkan orang lain atas informasi yang akan kita share. Saring sebelum sharing. Nggak banget dong yah, kalau ternyata informasi yang kita konsumsi itu adalah hoax, eh kita malah ikut menyebarkannya pula. Jadi, harus jelas sumber informasinya dari mana. Pilihlah media yang terpercaya, valid, beritanya akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sahabat Ummi...

Di atas, saya udah singgung kalau lingkaran pertemanan saat ini menjadi begitu luas. Saat memperkenalkan diri, menyebutkan kota Pekanbaru dan Provinsi Riau udah banyak yang nggak asing lagi. Teringat dulu, masih banyak yang mengira kalau Pekanbaru itu adanya di pulau Kalimantan atau Sulawesi. Tapi, semenjak boomingnya pemberitaan tentang bencana asap, semua jadi tahu letak geografis Pekanbaru dan Provinsi Riau.

Nggak cuma itu, buat yang mau melancong ke Riau, yang mau melihat peluang investasi di Riau, dan potensi Riau lainnya, informasinya udah mulai melimpah. Semua itu nggak terlepas dari peran citizen journalism. Interaksi personal di sosial media, yang langsung memberikan berita up to date tentang daerahnya. Para blogger yang juga banyak menulis tentang daerahnya. Juga adanya situs-situs online berbasis pewarta warga, baik yang murni di media online aja, maupun yang mempunyai versi media cetaknya.

Menilik media online lokal (daerah)

Saya menghadiri acara Festival Media 2016 bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tanggal 19 November 2016 lalu, yang diadakan di Pekanbaru. Acara Blogger Community and Indonesian Online Media Gathering, mengangkat tema how to monetize your blog and web. Banyak banget ilmu yang didapatkan. Penjelasan dari Suwarjono selaku ketua AJI, tentang bagaimana saat ini teknologi telah mengubah dunia:
  • Trend media global. Untuk media cetak turun, TV dan radio lebih segmented, sedangkan internet mengalami kenaikan.
  • Terjadi perubahan perilaku pembaca/masyarakat dalam konsumsi berita.
  • Adanya perubahan media dalam memproduksi berita.
  • Perubahan bisnis dan delivery konten.
Lalu, bagaimana menyikapinya?. Di tengah persaingan yang begitu ketat, Jono membagikan 7 kunci penting perubahan, yaitu:
  1. Konten is the king
  2. Delivery is a queen
  3. Home is dead (matinya halaman beranda)
  4. Notive ads hingga ads network
  5. Niche market
  6. Leader bukan follower
  7. Jangan berpikir semua kita kerjakan sendiri
See... hal tersebut tentunya berlaku juga untuk media online lokal. Seperti yang ditanyakan oleh salah satu peserta, tentang bagaimana peluang media online lokal (daerah). Sebenarnya, media online lokal bisa terus eksis di tengah persaingan korporasi besar yang mulai merajai dunia online, intinya adalah profesionalitas. Pengelolaan jangan hanya alakadarnya. Harus terus berkembang secara konten dan bisnis.

Seperti yang dikatakan oleh Jono, bahwa yang utama itu adalah konten is the king. Itu akan mempengaruhi jumlah pengunjung dan loyalitas pembaca. efeknya, tentu saja pada pemasukan utama, yaitu iklan. Sebagai pemain bisnis online lokal, tentunya juga harus mampu memahami pengguna dan pemasang iklannya. Kalau nggak punya karakter dan keunikan tersendiri, web lokal nggak akan dilirik.

Tantangan lainnya adalah bagaimana tetap menjaga kualitas berita. Produksi berita dan informasi bisa jauh lebih banyak, karena adanya kapasitas ruang tak berbatas pada media online. Sayang banget kalau nggak diimbangi dengan sisi kualitas. Udah jadi rahasia umum, banyak media online yang terjebak pada isu-isu sensasional demi mengejar jumlah pengunjung. Memberikan judul berita yang "lebay" bahkan terkadang mengecoh. Isi berita yang cenderung sama dengan di media online lain, bahkan terindikasi melakukan copy pasteSaya pribadi, malah menghindari membaca berita yang judulnya dibuat "heboh" dan memperhatikan siapa pengelola medianya.

Media yang sejak awal menaruh hormat pada reputasi, tentunya memiliki kredibilitas berita. Yah walaupun reputasi dan kredibilitas ini nggak dengan sendirinya bakal memberikan keuntungan finansial  bagi perusahaan. Tapi, saya yakin bahwa media yang setia dengan kualitas, dengan terus memupuk kredibilitas dan integritas akan terus bertahan. Insya Allah...

Kabar apa Riau, apa kabar dunia

Kabar apa Riau hari ini?

Buat yang pengen selalu update tentang daerahnya, atau buat orang luar yang juga nggak mau ketinggalan dengan berita Riau terkini, maka Riaubook.com bisa menjadi salah satu portal berita Riau yang layak untuk kita kunjungi. Dengan tagline: Buku Elektronik Riau, menyajikan kabar dalam bentuk tulisan maupun foto, jadi ibarat pengemasan sebuah buku, maka Riaubook.com adalah sebuah hidangan dalam satu buku online.

Kalau menyinggung tentang profesionalitas, Riaubook bukan portal berita Riau sembarangan. Tapi dikelola dengan profesional, dengan badan hukum penerbit PT. Riau Bukindu Utama (RBU) dengan akte notaris Fitri Nila SH, M.Kn no: 14/2015. Memiliki manajemen yang jelas. Dengan tim peliputan berita yang tersebar di Riau seperti: Pekanbaru, Kampar, Palalawan, Siak, Kuansing, Rohil, Dumai, Bengkalis, Mandau, Rohul, Inhil, Inhu, dan Meranti. Menghasilkan berita yang up to date, terpercaya, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di usianya yang baru 2 tahun, sebagai portal berita Riau, Riaubook.com telah memiliki pencapaian luar biasa. Riaubook.com masuk jajaran atas website nasional, dan di Riau sendiri menembus empat besar berdasarkan perankingan alexa. Nah, benarkan, seperti pemaparan saya di atas tadi, dengan pengelolaan yang profesional, kredibilitas, integritas, serta dengan membangun dan mempertahankan reputasi baik, media online lokal layak untuk "diperhitungkan". Terlebih, kolaborasi antara manajemen yang baik dengan sumber daya manusia yang baik, yaitu wartawan-wartawan yang profesional, berintegritas, memiliki idealisme untuk memajukan daerah dan bangsa.

Apa kabar dunia?

Ingin tahu kabar dunia hari ini?. Tetaplah stay tune di Riaubook.com, karena nggak cuma ada informasi berita seputar Riau atau nasional aja, tapi juga kabar dari dunia internasional. Semua terangkum dalam konsep buku online Riaubook.com.

Sahabat Ummi...

walaupun secara pribadi saya baru mengenal Riaubook.com, tapi layaknya seseorang yang juga ingin ikut andil dalam membangun "peradapan online" yang lebih baik. Maka, harapan agar media online lokal yang memiliki reputasi baik, bisa tetap "hidup" itu begitu besar. Tahniah untuk Riaubook.com, semoga ke depannya bisa semakin maju, tetap menjadi pustaka Riau untuk dunia.
















Sex Education Pada Anak



Sahabat Ummi...

Apa kabar? maaf yah, ngobrol bareng duo Ummi sempat libur. Buat sahabat yang udah nungguin obrolan kami (ecieeee... GR), minggu ini kami ngobrolin tentang sex education pada anak. Untuk postingan Mbak Naqi bisa dibaca di sini:

Untuk postingan ngobrol bareng sebelumnya:



Beberapa waktu yang lalu, di dunia maya terjadi kehebohan. Bukan tentang pilkada, tapi ini tentang salah satu buku yang menuai kontroversi. Buku yang disinyalir tidak tepat dalam konteks memberikan sex education kepada anak. Saya nggak akan bahas tentang itu di sini, silahkan mampir ke postingan ini saja yah buat yang penasaran dengan kasus tersebut, dan bagaimana tanggapan dari salah satu pakar parenting, Bunda Elly Risman.

Di postingan ini, saya hanya share tentang pengalaman saya dalam memberikan sex education kepada anak saya, khususnya Mbak Nai, yang saat ini sedang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD).

Sahabat Ummi...

Kalau dengar kata sex education, masih banyak yang beranggapan bahwa ini membahas tentang hubungan sex, yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Padahal, sex itu artinya adalah jenis kelamin. Jadi beda yah dengan seksualitas. Kalau seksualitas itu sendiri menyangkut beberapa hal:

  • Dimensi biologis: yang berkaitan dengan organ reproduksi. Bagaimana cara menjaga kebersihannya untuk kesehatan.
  • Dimensi psikologis: ini berkaitan dengan identitas peran jenis, tentang perasaan, dan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual.
  • Dimensi sosial: ini tentang bagaimana seksualitas muncul berkaitan dengan relasi antar manusia, dan bagaimana lingkungan memiliki pengaruh terhadap pembentukan pandangan tentang seksualitas dan pilihan dalam perilaku seks.
  • Dimensi kultural: ini tentang bagaimana perilaku seks itu adalah bagian dari budaya yang ada di masyarakat
Ada dimensi lain yang membahas secara detil berkaitan dengan seksualitas, bisa dibilang mencakup semua dimensi, yaitu dimensi agama. Bersyukur banget sebagai umat islam, kita punya panduan berupa Al-Qur'an dan hadist. Yang membahas dengan komplit tentang seksualitas.

Jadi, ini bukan sesuatu hal yang tabu untuk dibahas. Saya rasa, orang tua jaman sekarang banyak yang udah lebih paham dan mulai siap dalam sex education kepada anak-anak mereka. Why? karena sekarang jaman keterbukaan. Berbagai kemudahan dalam mengakses informasi. Bahkan kita bisa dapet ilmu cuma-cuma dari expert yang berbagi di grup-grup parenting online. Apalagi ini sebenarnya udah jadi KEBUTUHAN.

Yup, kita sebagai orang tua harus sadar bahwa kita butuh ilmu tentang sex education. Sebaiknya, kita adalah orang pertama yang melakukan sex education kepada anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita belajar sendiri dari informasi-informasi yang malah tidak tepat, bahkan menyesatkan. Walaupun, sex education sebenarnya telah disisipkan dipelajaran-pelajaran sekolah seperti pelajaran agama, biologi, dan bimbingan konseling. Tapi, itu aja tentu nggak cukup. Komunikasi dari orang tua ke anak, penting banget.

Nah, dalam melakukan sex education, hal yang paling penting adalah menyampaikannya disesuaikan dengan usia anak, daya tangkapnya. Kapan bisa dilakukan? tentu saja sejak dini.

Pengalaman saya, saat Mbak Nai sudah bisa mengenali organ tubuhnya, maka saya juga menjelaskan fungsinya. Tapi, saat ini diusianya yang hampir 8 tahun, belum masuk tentang fungsi reproduksi. Oh iya, dalam memperkenalkan organ intim, saya nggak menyebutnya dengan benda lain. Tapi, menggunakan sebutan yang ilmiah, vulva, yaitu bagian paling luar dari keseluruhan sistem reproduksi. Saran saya, jangan gunakan perumpamaan yang lain. Atau bisa juga dengan menyebutnya sebagai kemaluan, sesuai dengan yang disebutkan di dalam Al-Qur'an.

Trus apalagi?

Di usia di atas 5 tahun, ia sudah paham tentang perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Ia juga sudah paham bagaimana menjaga kebersihan tubuh dan alat kelaminnya. Ini penting banget, terutama tentang teknik membasuhnya, yaitu harus dari depan dulu baru ke belakang. Jangan sampai terbalik.

Trus, ia juga sudah ingin tahu darimana ia dan adek Khai dilahirkan. Karena saya melahirkan mereka lewat operasi cesar, jadi saya tinggal tunjukin bekasnya aja. Jadi, untuk temans yang melahirkan lewat persalinan normal, boleh share dong gimana pengalamannya dalam menjelaskan hal ini ke anak. Kalau tentang asal usul dia dan adeknya, untuk saat ini masih paham sebatas asalnya pemberian dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Next, yang kudu saya persiapkan adalah pembahasan tentang perubahan bentuk tubuh dan menstruasi. O yah, yang nggak kalah penting juga nih, saya udah memberikan pemahaman kepada Mbak Nai, tentang bagian tubuh mana yang nggak boleh di lihat dan disentuh oleh orang lain. Kuncinya tentang rasa malu, sebagai pondasi yang udah saya bangun sejak dini. Caranya, tidak mengganti pakaian sembarangan tempat, secara terbuka. Menjaga model pakaiannya. Untuk keluar rumah, sejak bayi anak-anak saya udah terbiasa memakai kerudung. Untuk pakaian keseharian, menggunakan bawahan yang panjangnya di bawah lutut. Saat menggunakan rok atau gamis, selalu memakai celana legging di dalamnya.

Oke deh, segitu dulu share dari saya. Moga bermanfaat dan membuat kita jadi makin semangat untuk mencari ilmu tentang bagaimana memberikan sex education kepada anak. Silahkan temans share pengalamannya juga di kolom komentar. ^__^


Ini Lho Keuntungan Lebih yang Didapatkan Jika Memesan Tiket Kereta Api Secara Online

Sahabat Ummi...

Udah pada tahu dong yah, kalau kereta api itu salah satu pilihan alat transportasi yang bisa diambil pas kita ingin melakukan traveling. Apalagi, kereta api ini memiliki rute yang cukup lengkap ke berbagai wilayah di Indonesia, terutama kota-kota populer. Kota-kota populer di Indonesia seperti misalnya nih Malang, Surabaya, Jogjakarta, Solo, menjadi rute yang ditempuh oleh kereta api. Jadi selain pesawat terbang, kita bisa memilih kereta api sebagai salah satu alat transportasi yang nyaman tentunya.
Trus, tahu nggak sih kalau sistem pembelian tiket kereta api saat ini udah canggih banget. Mulai dari pembelian secara langsung di stasiun sampai dengan melakukan pemesanan melalui online. Nah, sistem online memberikan beragam kemudahan kepada calon pembeli tiket. Nggak heran karena hal inilah semakin banyak orang yang ‘melek’ teknologi dan memilih online sebagai salah satu jalur buat dapetin tiket ketika naik pesawat ataupun kereta api.
Layanan 24 Jam
Sistem online biasanya menyediakan layanan sampai 24 jam penuh. Nah, ini sangat menguntungkan sekali dong bagi kita para pekerja yang nggak punya waktu untuk sekedar membeli tiket di stasiun. Dengan sistem online, kita bisa mencuri-curi waktu untuk melakukan transaksi melalui sistem online. Bisa waktu istirahat makan siang atau ketika macet saat diperjalanan. Intinya sih, kita bisa melakukan pemesanan secara online kapan aja, kalau pas ada waktu.
Pemesanan tiket ini bisa dilakukan di situs resmi PT KAI atau juga di berbagai agent travel online. Contohnya nih situs travel online yang sangat terpercaya dan menjadi langganan banyak customer adalah Traveloka, Tiket KAI udah ada di Traveloka karena mereka udah bekerjasama dengan PT KAI dalam penjualan tiket. Nggak hanya terpercaya aja, memesan tiket kereta api di Traveloka, harganya murah meriah dan pelayanannya ramah. Asyiiiiik...
Prosesnya Cepat
Kalau kita membeli tiket kereta api secara langsung di stasiun, belum tentu kita bakal mendapatkan tiket. Pas sedang rame, kita kudu ngantri terlebih dahulu. Iya kalo antriannya pendek, bisa beberapa menit aja. Lha kalau pas antriannya mengular, bisa berdiri berjam-jam hanya buat dapetin tiket kereta api. Belum lagi pas udah giliran antrian, eh tiket yang diinginkan udah habis. So, jelas dong yah kalau sistem online lebih unggul dalam hal ini.
Saat akan melakukan pemesanan tiket secara online, kita bisa melihat secara langsung jam keberangkatan, jenis kereta api, dan juga jalurnya. Setelah memastikan tiket yang diinginkan tersedia, kita tinggal melakukan pemesanan dan membayar via transfer, mudah banget kaaan? Prosesnya juga sangat cepat.
Terhindar dari Calo di Stasiun
Selain bisa mengindari antrian panjang, memesan tiket lewat sistem online juga bisa dibilang lebih aman lho. Pasalnya, kita nggak akan tertipu atau terpedaya dengan calo. Nggak cuma calo aja yang mengacam, para copet juga sering beraksi di stasiun kan yah. Nah, dengan memesan tiket secara online kita bakal terbebas dari itu semua. Nggak perlu juga panas-panas macet buat ke stasiun hanya untuk dapetin satu tiket aja. Cukup pake smartphone, pemesanan tiket bisa dengan mudah dilakukan.
Pemesanan Tiket Dapat Dilakukan Dimana Saja
Dengan sistem online, kita nggak perlu lagi mendatangi stasiun atau agen-agen tiket kereta api. Kita bisa melakukan pemesanan dimana aja, mau di rumah, kantor, mall, tempat wisata dan lain sebagainya. Yang penting ada koneksi internet, tiket kereta api yang diinginkan akan segera didapatkan. Tinggal klik trus pilih deh jadwal keberangkatan dan kota tujuan serta kereta api yang diinginkan, kita bakal langsung bisa dapat tiket. Dengan catatan nih, rincian jadwal tiket yang diinginkan masih tersedia ya.
Tidak Perlu Khawatir Tiket Hilang
Setelah melakukan pemesanan secara online, kita akan diberi kode booking. Kode booking ini bisa dicetak secara mandiri sebelum keberangkatan. Cara cetak mandiri juga mudah banget, tinggal masukkan kode booking aja dan identitasnya, tiket bakal keluar dengan sendirinya. Nah, dengan begini kita nggak perlu khawatir lagi dengan yang namanya tiket hilang atau lupa naruhnya di mana. Bermanfaat banget kaaan, terutama buat para orang tua yang sering lupa meletakkan barang-barangnya.
Sahabat Ummi...
Beberapa keunggulan di atas tadi nunjukin kalau sistem online emang lebih mudah jika dibandingkan dengan manual. Yuk mulai beralih menggunakan sistem online aja, biar waktu yang kita punya nggak sia-sia karena mengantri tiket yang kadang sampai beram-jam. Happy traveling yaaaah ^___^

Pernyataan Bunda Elly Risman Tentang Buku: Aku Belajar Mengendalikan Diri

Sahabat Ummi,,,

Terjadi kehebohan di jagad dunia maya, tentang sebuah buku yang rame diperbincangkan, bahkan sudah sampai taraf hujat-menghujat. Baik kepada penerbitnya, maupun penulisnya. Oh... saya nggak ketinggalan dong, buat nyari info tentang ini. Daaaan ternyata, sumber kehebohan itu berasal dari salah satu postingan akun Lambe Turah. Hayoooo... ada yang nggak kenal akun ini? or malah followers setianya yessss :D

Jadi, akun inilah yang memposting potongan cerita yang ada di seri buku Aku Belajar Mengendalikan Diri, tentang Aku Berani Tidur Sendiri. Pembahasannya dinilai vulgar, amat nggak sesuai sebagai buku bacaan bagi anak. Tapi, penerbitnya udah konfirmasi kok, kalau sebenarnya buku itu buku panduan untuk orang tua, atau bisa dibaca bersama dengan anak-anak. Bahkan, buku itu telah ditarik peredarannya sejak 2016 lalu. Untuk pernyataan lengkap dari penerbitnya, dan tanggapan dari Satgas GLS Kemendikbud, teman bisa baca di sini.

Di postingan ini, saya hanya ingin berbagi informasi tentang bagaimana tanggapan dari Bunda Elly Risman, tentang buku Aku Belajar Mengendalikan Diri tersebut. Berikut pernyataan Bunda Elly Risman yang saya kutip di grup Facebook Parenting With Elly Risman and Family:

Menulislah dengan Ilmu dan Menulislah dengan Bijak

Kata-kata di atas terutama ingin saya tujukan bagi diri saya sendiri dulu,baru mungkin bagi teman teman yang ingin menulis buku tentang anak-anak khususnya tentang seksualitas anak. Mengapa? 

Karena beberapa hari belakangan ini, berbagai pesan masuk pada saya dan tim Yayasan Kita dan Buah Hati mengenai sebuah buku yang mungkin anda sudah tahu: ditulis oleh Fita Chakra yang berjudul : "Aku Belajar Mengendalikan Diri dalam Seri Aku Bisa Melindungi Diri" 
Semua teman-teman ini mengungkapkan keresahan hati mereka tentang isi dari buku ini karena dinilai tidak tepat baik untuk dibaca anak-anak maupun jika dibaca 'bersama anak' seperti penjelasan dari penerbit tentang tujuan memasarkan buku ini.

Tim YKBH, dengan sigapnya langsung mencari buku ini. Khawatir akan kesulitan mendapatkannya, kami membeli langsung dari penerbit. Ternyata kami mendapatkan buku ini sangat mudah dan dalam hitungan jam saja walaupun klarifikasi dari penerbit mengatakan bahwa buku ini sudah ditarik sejak 2016.

Herannya juga, saat kami membeli tidak ada pertanyaan atau saran apapun. Tetapi kami sangat terkejut, ketika sehari kemudian pihak penerbit menanyakan:”Ga ada masalah kan, Bu? Soalnya banyak reseller complain. Buku itu memang harus dibaca dengan didampingi orangtua bu karena bahasanya agak sedikit vulgar”. Lhaa?!!

*Pertanyaan 1: Jadi sebenarnya buku sudah ditarik dan tidak dijual lagi apa belum sih?*
Sebelum memberi pernyataan ini, selain saya membaca dengan seksama bukunya, saya berusaha mempelajari penjelasan dan pembelaan penerbit dan beberapa postingan tentang pernyataan penulis lewat akun temannya, serta permintaan maaf penulis di blognya.
Banyak sekali saya menemukan inkonsistensi dalam penjelasan penerbit maupun penulis. Sehingga saya *mengira* buku ini seperti puluhan buku lain sebelumnya yang dipermasalahkan dan meresahkan masyarakat; di produksi sebagai bagian dari “acting out!"
Ini beberapa alasannya:
Lepas dari judulnya, buku ini menceritakan bagaimana anak yang tidak bisa tidur menemukan sebuah "Permainan baru yang mengasyikkan". Ternyata, permainan tersebut adalah memeluk guling dengan kedua kaki lalu bla-bla. Kegiatan ini membuat anak ini mengatakan : "Jantungku berdebar tapi aku senang". Isi halaman berikutnya:”Sesekali aku memasukkan tanganku kedalam celana... aku mengulangnya lagi dan lagi...”

Cara penulis menggambarkan apa yang dilakukan dan dirasakan oleh "Aku" ini, sangat “praktis konkrit” sesuai dengan cara berpikir anak dan sangat “sekuensial” (jelas urut urtannya) sehingga anak mana saja yang membacanya dapat dengan mudah sekali menirukannya.

Entah penulis dan penerbit sadar atau tidak, bahwa anak-anak seusia target buku tersebut (7 tahun), termasuk anak-anak yang masih suka sekali “MENIRU DAN INGIN TAHU”. 

Apa yang mereka ingin tahu? :”RASANYA!!” 
Apalagi buku tersebut menuliskan : "Jantungku berdebar tapi aku senang".

Walaupun penerbit mengatakan bahwa buku ini adalah buku panduan untuk orangtua atau bisa dibaca bersama dengan anak-anak, tapi penggunaan sudut pandang orang pertama dengan pemberian sebutan "aku" pada tokoh ini, ukuran gambar, warna, lay out dan jumlah kalimat perhalaman jelas peruntukannya bagi anak anak, bukan untuk orangtua!. Semua ini akan membuat pembaca dalam hal ini anak-anak, merasa dekat dengan tokoh ini . Dengan demikian tetap terbuka kemungkinan bahwa anak akan membacanya sendiri bukan?
Bayangkan apa yang akan dilakukan oleh anak yang membaca buku ini kalau dia mengalami hal yang sama dengan tokoh "Aku" : tidak bisa tidur?
Pertanyaan 2: Bagaimana mungkin seseorang menuliskan hal seperti ini tidak mempertimbangkan bahwa anak-anak yang membaca sangat mugkin melakukan hal serupa bila mengalami atau tidak mengalami situasi yang sama?
Pertanyaan 3 : Penerbit mengatakan bahwa pembuatan buku ini untuk:

a. Membantu ortu menjelaskan pada anak tentang pentingnya melindungi diri dari : 
- orang-orang yang berniat tidak terpuji
- ancaman penyakit
- kejahatan seksual
b. Memberikan pengetahuan dasar seksual yang penting untuk diketahui anak sejak dini 
c. Memberikan cara apa yang orang tua lakukan jika ia mendapati anaknya melakukan masturbasi. 
Dibagian mana dari buku ini yang berisikan tentang hal hal tersebut diatas?

Selain itu, yang paling lucu adalah penerbit mengatakan bahwa : "Ada baiknya buku ini dibaca ortu dan anak untuk upaya mencegah anak melakukan hal serupa” 

Maksudnya mencegah? Bukannya isi buku ini justru mengajarkan bagaimana melakukannya untuk memperoleh kesenangan? Jadi bagaimana orangtua merubah fakta yang tertulis dan tergambar ini untuk kemudian mengajarkan anaknya???.

Panjang sekali jadinya kalau kita membahas tentang inkonsistensi dari pernyataan penerbit dengan kenyataan yang ada dalam buku ini. Tapi ada hal yang paling tidak menarik di bagian akhir pernyataan bahwa penerbit menganggap masyarakat Indonesia belum siap untuk pendidikan seksual usia dini. Wow! 

Menurut hemat saya, “masyarakat Indonesia sangat siap dan sangat membutuhkan untuk diberikan pendidikan yang benar tentang hal ini”. Tapi bukan mengajarkan hal-hal tentang bagaimana anak bisa menyenangkan dirinya sendiri dengan kemaluannya pada usia yang sangat dini .
Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi saya fikir kita harus menyadari bahwa masyarakat pembaca kita sekarang ini sangat cerdas dan kritis. Jadi jangan karena mereka menunjukkan reaksi yang benar terhadap kekeliruan yang anda lakukan kemudian anda menilai mereka tidak siap. Kurang “Fair” ya menurut saya.

Tentang penulis, saya memutuskan untuk menghubunginya langsung untuk tabayyun setelah seorang kawan dari AILA meminta waktu saya agar penulis bisa bicara dengan saya. 

Saya sangat memahami bagaimana berat dan galau perasaannya menghadapi berbagai bentuk reaksi masyarakat luas. Saya mencoba membaca bukunya yang lain, tampak oleh saya hasratnya untuk menolong orang tua lewat tulisan- tulisannya. Sehingga menarik buat saya untuk tahu dari dia langsung mengapa paparannya dalam buku yang "heboh" ini jadi begitu berbeda dan vulgar!.

Setelah diam sejenak, dia menjawab pertanyaan saya bahwa dia sekedar mengambil contoh dari persoalan yang pernah diajukan oleh salah seorang temannya. Tidak disangkanya dengan menuliskan begitu saja contoh tersebut, dia mendapat reaksi yang sedemikian rupa.
Saya menjelaskan hal yang semua orang sudah tahu, bahwa yang namanya manusia gak ada yang tidak berbuat salah, termasuk saya. Kalaulah tidak begitu kita mungkin bukan manusia dan tidak akan ada pepatah: “Sepandai pandai tupai melompat sekali akan jatuh juga dia ketanah”. 

 Saya memperkirakan bahwa penulis sedang lalai memilih cara mengungkapkan suatu masalah seksualitas anak.

Hal lain yang saya sayangkan dari penjelasan penerbit dan yang diuraikan penulis dibagian akhir buku ini ada anggapan yang menurut saya selain menggeneralisir masalah juga sangat keliru: seolah semua anak yang merasa "Bosan dan Stress” ingin melakukan ‘masturbasi’. Kata masturbasi juga sangat tidak tepat untuk anak usia 4-7 tahun yang berada di phase phallic.

Menurut hemat saya, apa yang dilakukan anak anak usia 4 tahun keatas yang menemukan kesenangan atau kenikmatan mempermainkan kemaluannya adalah konsekuensi dari perkembangannya. Anak menemukan bahwa bagian-bagian tertentu tubuhnya bisa menimbulkan kesenangan dan kenikmatan, dan karena itu mereka mengulang-ulang menyentuhnya. 
Ini normal terjadi bukan hanya pada anak laki laki tetapi juga pada anak perempuan. Tapi bukan berarti semua anak yang merasa "Bosan dan stress” akan menggunakan alat kelamin untuk mengatasinya. Ada juga anak yang menemukan kesenangan pada pusar, hidung, telinga, dll.

Saya dan teman teman di YKBH percaya bahwa masih banyak cara lain yang anak-anak lakukan untuk mengatasi bosan dan stres serta tidak selalu arah yang negatif. Anak-anak yang diarahkan dengan baik dan sehat oleh orang tuanya akan mengatasi bosannya dengan menciptakan sendiri permainan yang menyenangkan. Misalnya meletakkan kain atau sajadah diatas dua kursi yang berdekatan dan memainkannya sebagai Barongsai, dan berbagai permainan ciptaan sendiri yang tak terhitung jumlahnya.
Selain itu, para ahli mengemukakan bahwa penanganan masalah kecenderungan anak mencari kesenangan dengan kemaluannya ini harus hati-hati sekali, antara lain jangan sampai konsep kemaluan menjadi sangat negatif. Tidaklah cukup dengan menanyakan apa yang dilakukan anak, menasehatinya, meminta anak berjanji tidak mengulangi, kemudian mengalihkannya pada perilaku lain seperti:” pergi berenang dengan ayah” atau hal lainnya, tetapi sebagai orang tua kita :
a. Harus menjelaskan bahwa ada bagian tubuh yang memang menyenangkan bila disentuh selain dari kemaluan, misalnya juga lubang kuping .Lalu jelaskan mengapa. Anak-anak membutuhkan “alasan” / reason why dari sesuatu yang kita jelaskan, larang atau suruh : mengapa boleh dan tidak boleh, mengapa ini begini dan itu begitu.

b. Apa akibat bila dilakukan berlebihan. Contohnya “harus konkrit”. Misalnya kita sengaja saat memandikannya memasukkan sedikit air ketelinganya kemudian mengeluarkannya lagi. Setelah berpakaian kita katakan:”Mama mau bantu membersihkan telingamu yang tadi kena air”. Lalu kita membersihkannya dengan ‘cutton buds’. Lagi dia kelihatan menikmati: hentikan.Pasti anak akan mengeluh bahkan merengek. Itulah saatnya kita menjelaskan bahwa kalau mengorek kuping keseringan dan kelamaan memang enak dan asyik tapi itu akan membuat liang telinga lecet, bernanah dan akan mengganggu apa yang disebut dengan gendang pendengar. Kamu bisa terganggu pendengarannya. Begitu juga kalau kamu memegang terus atau menggosok2kan kemaluanmu.. dst 
 c. Alasan harus masuk akal menyentuh aspek kesehatan, agama, psikologis dan budaya. Tetapi penjelasan harus disampaikan sesuai dengan usia, tingkat kecerdasan, dan tipe kepribadian anak. Bahasa sederhana, kalimat pendek-pendek, dengan suara yang datar dan, intonasi yang nyaman bersahabat. 
d. Ketidakjelasan akan mendorong anak melakukannya sembunyi-sembunyi.
e. Ortu harus membuat anak benar-benar mengerti dan kalau terulang harus ada kesepakatan untuk menegur anak dengan “kode”berupa kata lain yang disepakati. Cara ini untuk menghindari agar tidak mempermalukannya apabila teguran dilakukan didepan saudara-saudaranya atau orang lain.

Saya faham sekali, bahwa tidak mungkin menyampaikan semua ini dalam buku sejenis picbook, apalagi yang ditujukan untuk anak anak. Maksud saya hanyalah untuk menyampaikan bahwa bagi anak-anak seusia ini penggunaan istilah masturbasi kurang tepat.
Dengan semua uraian diatas, maka saya menilai rencana penerbit untuk tetap memasarkan buku ini dengan HANYA memberi label Bimbingan Orangtua di sampul buku sangat tidak tepat. 

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas : Konten buku ini bermasalah sehingga tidak patut digunakan oleh orang tua untuk membimbing anaknya. Tidak mungkin membimbing anak untuk melakukan apa yang bisa dia baca dan tiru dari buku ini. Adanya lembar Tips untuk orang tua dan”label” tidak menjadikan buku ini jadi buku Bimbingan orang tua.
Satu hal lain yang sangat penting disadari adalah bahwa anak kita adalah generasi digital. Mereka kemunginan besar telah terpapar pada beragam informasi tidak baik dari teman, media dan gadget. Buku seperti ini akan memicu peniruan dan uji coba terhadap hal hal yang tidak baik tersebut.

Bila penerbit sungguh concern terhadap anak-anak, keputusan untuk menarik buku ini adalah tindakan yang paling tepat dan terpuji. Tidak pantas Penerbit sekaliber Tiga Ananda berkontribusi pada hal negatif. Saya yakin Allah akan ganti kerugian yang ditimbulkan dari menghentikan penjualan buku ini nya dengan cara lain yang indah dan berlimpah-limpah.
Untuk mbak Fita: Jangan patah semangat dan teruslah menulis ya mbak. Saya menghargai permintaan maaf mbak di blog mbak. Pengalaman ini kan menunjukkan ’tupai lagi jatuh ke tanah’. Jadi lain kali insha Allah akan lebih pandai melompat dan lebih cerdas dan tepat memilih ranting dan dahan untuk bernaung. Jangan ditekan oleh angin yang kencang!.Yuk, menulis dengan ilmu dan menulis dengan bijak.
Bagi anda orang tua muda pembelajar, banyak sekali yang bisa kita pelajari ya dengan peristiwa ini. Ini mestinya membuat kita harus lebih cerdas dan kritis dalam memilih bahan bacaan dan informasi bagi anak anak kita. Jangan diperalat oleh Industri dan terperdaya oleh bujukan iklan serta bisikan teman lewat whatsapp atau sosmed lainnya. Kita harus punya prinip yang tidak apa tidak sama dengan orang kebanyakan.

Masa depan anak kita tanggung jawab kita sepenuhnya. Harus berani bilang tidak dan bersikap seperti induk ayam yang anaknya baru merekah dari telurnya. Bukankah mereka waspada dan sangat ”alert”sekali? Nah ayam aja bisa.

Mengasuhlah berdua (Dual Parenting), dan tetap harus “SADAR dan SEPAKAT” mendidik seksualitas anak kita demi menjaga pemahaman dan keselamatan mereka sebagai bentuk tanggungjawab pada Allah swt. Tetap miliki 3C itu teman teman : Concern, Commitment, dan Continuity.

Buatlah daftar dan prioritaskan apa saja yang perlu dididikkan pada anak sesuai usia, tingkat pemahamannya, kemampuan berpikirnya, dan perkembangan emosinya.
Buat jadwal pembahasannya sepekan sekali dengan masing-masing anak. Mulai pembahasan dari hal-hal kekinian. 
Selalu gunakan landasan agama dan istilah Al Quran atau kitab suci kita masing masing. Keluarlah dari tabu dan saru serta miliki miliki “the courage to be imperfect”. Lebih baik salah dari pada tidak sama sekali. Namanya kita juga : manusia. 
Tingkatkan terus pengetahuan dan keterampilan berbicara. Buku Pendidikan Anak dalam Islam karya Abdullah Nashih Ulwan bisa menjadi salah satu rujukan, atau buku sederhana berjudul “Ensexclopedia” yang kami terbitkan.

Jangan pernah putus harapan terhadap rahmat Allah.
Love you all.
Bekasi,26 Februari 2017

Elly Risman